#Chapter 15 : Pagi yang baru.

8 1 0
                                        

Happy Reading. . .

.

.

.

Lima hari sudah berlalu sejak insiden di desa. Waktu seolah berjalan lebih lambat bagi para murid yang terlibat langsung dalam kejadian itu. Luka fisik mungkin mulai sembuh berkat pengobatan sihir dari para profesor, tapi tidak semua luka meninggalkan bekas di kulit. Beberapa di antaranya diam-diam tertinggal di pikiran.

Namun pagi ini, suasana di sekolah terlihat normal kembali. Sinar matahari menembus jendela aula makan, menciptakan pola cahaya di atas meja-meja panjang tempat para murid berkumpul. Aroma roti panggang dan sup jamur memenuhi udara, membawa suasana hangat yang seolah menepis sisa-sisa ketegangan sebelumnya.

"Yuri! Duduk sini, kami simpenin tempat!" seru Zivana sambil melambaikan tangan.

Yuri datang dengan langkah santai, mengenakan seragam sekolah rapi, meskipun kantong jubahnya sedikit berantakan karena buku catatan yang diselipkan asal-asalan. Ia tersenyum kecil dan duduk di samping Ken, sementara Zivana duduk di seberangnya, sudah menggenggam cangkir teh hangat.

"Aku dengar kamu ikut kelas tambahan soal aliran sihir dual-elemen?" tanya Ken sambil mengaduk supnya.

"Iya, disuruh sama Prof. Cyrano. Katanya... biar pikiranku sibuk," ujar Yuri, sedikit mengangkat bahu.

Zivana tersenyum tipis. "Sibuk itu bagus. Daripada duduk di kamar, mikirin yang... nggak-nggak."

Yuri menoleh, alisnya sedikit terangkat. "Kamu lagi sindir siapa, Vi?"

Zivana terkikik. "Bukan siapa-siapa kok. Cuma... kamu tahu sendiri."

Sebelum obrolan bisa berlanjut, suara langkah cepat terdengar dari arah pintu aula makan. Rey muncul lebih dulu, rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya penuh semangat. Di belakangnya, Aoi berjalan santai sambil membaca buku tipis, sedangkan Alex muncul terakhir, seperti biasa dengan ekspresi datar tapi tetap menawan.

"Oi! Kalian belum selesai makan, kan?" Rey langsung menarik kursi dan duduk tanpa permisi di meja mereka, meskipun ini bukan meja kelasnya.

"Rey..." Ken menghela napas. "Ini meja kelas A."

"Dan aku murid istimewa, boleh duduk di mana aja," katanya santai sambil mengambil sepotong roti Zivana.

Zivana memukul tangannya pelan. "Beli roti sendiri, lah!"

"Jangan pelit. Kita 'kan sudah melewati medan perang bersama~" Rey menyeringai.

"Kalau kamu nyebutnya 'medan perang', aku nyebutnya 'neraka dengan bonus kunang-kunang terkutuk'," gumam Aoi, duduk di samping Yuri tanpa melepas pandangannya dari buku.

Alex duduk paling akhir, menarik kursi dan bersandar diam-diam. Tapi, seperti biasa, meski tak banyak bicara, kehadirannya membuat sekeliling jadi tenang.

"Aku dengar dari anak kelas D, mereka sempat lihat kamu, Alex, ngelawan tiga golem pelindung di pelatihan semalam?" tanya Ken penasaran.

"Hmm," Alex mengangguk ringan. "Itu bagian dari latihan strategi tempur untuk kelas kami."

"Hebat juga. Golem itu bukan main-main," tambah Yuri.

"Kami juga latihan lari dari tangga sekolah saat terlambat," sela Zivana, membuat semuanya tertawa.

Beberapa murid lain melirik ke arah mereka, mungkin iri dengan keharmonisan di meja itu. Biasanya antar kelas tidak terlalu akrab, tapi setelah pengalaman hidup-mati bersama, batas itu seolah runtuh begitu saja.

"Ngomong-ngomong, Vi," Aoi menutup bukunya. "Kamu udah beresin modul Sihir Kombinasi? Katanya minggu depan ada ujiannya."

"Ugh, jangan ingetin," Zivana mengeluh. "Belum. Aku bahkan masih stuck di halaman tiga."

Yuri nyengir kecil. "Sama. Tapi kalau kamu mau, kita bisa belajar bareng sore nanti."

"Boleh tuh! Kita ngajak Ken juga, biar ada yang bisa jawab soal sulit."

Ken tertawa pelan. "Kalau aku juga nggak bisa, kita tinggal lempar soal itu ke Rey. Dia bakal jawab... dengan cara ngawur."

"Hey! Aku pernah ranking tiga, tahu!" Rey protes.

"Waktu kapan tuh? Waktu mimpi?" ledek Aoi sambil nyengir.

Alex, yang dari tadi diam, akhirnya ikut tertawa kecil. Semua langsung menoleh, sedikit terkejut karena Alex jarang memperlihatkan ekspresi terbuka seperti itu.

"Wow... dia tertawa," kata Rey dramatis. "Cepat tulis di buku sejarah sekolah!"

"Kalau kamu masih bercanda terus, Rey, aku nggak yakin kamu lulus ujiannya," tambah Aoi.

Rey mengangkat tangan. "Tenang, aku akan bertarung dengan kekuatan cinta dan keberuntungan."

"Sama kayak waktu kita nyaris mati di desa?" sindir Yuri, senyum tipis di wajahnya.

Seketika suasana jadi sedikit hening. Beberapa dari mereka tertawa pelan, tapi tak bisa dipungkiri bahwa ingatan itu masih membekas. Namun, kali ini, tidak ada tekanan berat. Hanya pengingat bahwa mereka sudah melalui sesuatu yang tidak bisa dimengerti orang lain di sekolah ini.

"Ya," jawab Rey, masih tersenyum. "Tapi kita semua selamat. Itu yang paling penting."

Mereka saling menatap satu sama lain. Meski berbeda kelas, beda cara berpikir, bahkan kadang saling bertengkar soal hal sepele—tetapi sekarang, mereka punya sesuatu yang menyatukan. Sesuatu yang hanya mereka mengerti.

Bel tanda masuk berbunyi, memecah suasana. Murid-murid mulai beranjak, membawa nampan kosong atau tergesa ke kelas masing-masing.

Yuri berdiri lebih dulu, menyampirkan tasnya. "Sampai nanti sore?"

Zivana dan Ken mengangguk. Aoi mengangguk kecil, Alex hanya mengangkat tangan, dan Rey? Rey berdiri sambil memberikan hormat ala ksatria, sok dramatis seperti biasa.

Mereka berpisah di pintu aula, menuju kelas masing-masing. Tapi sebelum Yuri benar-benar melangkah, ia sempat menengok ke arah langit sekolah yang cerah hari itu.

Tidak ada suara ledakan. Tidak ada jeritan. Hanya suara burung, tawa murid, dan derap langkah biasa. Hening yang nyaman.

Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari lalu, Yuri tersenyum tanpa beban.

To Be Continued. . .

---------------------------
Yey! Double up!

School Of Magic [OC]Stories to obsess over. Discover now