#Chapter 14 : Senyuman setelah badai.

5 0 0
                                        

Happy Reading. . .

.

.

.

Langit di atas School of magic tampak jernih pagi itu, seakan tak pernah tahu bahwa beberapa hari sebelumnya, sekelompok murid hampir kehilangan nyawa dalam misi yang seharusnya hanya 'bantuan kecil'. Kini, kehidupan di sekolah kembali berjalan normal—setidaknya di permukaan. Namun di balik dinding-dinding batu tua dan lorong-lorong bercahaya kristal sihir, ada luka-luka yang belum sepenuhnya sembuh, baik di tubuh maupun di hati.

Yuri menarik napas dalam-dalam. Udara pagi di balkon asrama lantai tiga terasa lebih dingin dari biasanya, meski sinar matahari sudah naik tinggi. Ia mengenakan seragam santai sekolah dan memandangi halaman tengah yang mulai ramai. Di tangannya, ia menggenggam sesuatu—sebuah liontin kecil berbentuk tetes air dengan permata ungu violet di tengahnya.

Liontin itu berkilau pelan saat cahaya pagi menyentuh permukaannya. Yuri menggenggamnya lebih erat. Dia teringat saat pertama kali melihat benda ini di alun-alun desa yang kini hanya tinggal puing-puing.

Beberapa minggu yang lalu, saat mereka baru tiba di desa untuk misi, Yuri tak sengaja tersesat di antara kios-kios pasar alun-alun. Ia terpikat pada sebuah stan kecil yang menjual aneka perhiasan dan kerajinan lokal. Di sanalah ia melihat liontin itu, tergantung di antara rantai-rantai lain yang jauh lebih mencolok.

Permata ungu violet itu begitu sederhana, tapi entah kenapa... indah. Menenangkan.

Saat Yuri hendak menyentuhnya, sebuah suara terdengar dari belakang, "Yang itu cocok untukmu."

Yuri menoleh. Seorang pemuda berdiri di sana—usia sekitar dirinya, rambut hitam berantakan, dan senyum yang tak bisa ditebak artinya. Pandangannya tajam tapi tidak mengancam. Aneh... seperti ada sesuatu yang disembunyikannya.

"Maksudmu?" tanya Yuri, agak bingung.

"Warnanya," jawab pemuda itu. Ia menunjuk liontin itu. "Mirip warna matamu."

Yuri mengerutkan alis. "Mataku merah."

Pemuda itu tersenyum kecil, mencondongkan tubuhnya untuk melihat lebih dekat. "Mungkin bukan warnanya... tapi perasaan yang sama. Violet yang tenang, tapi dalam. Seperti menyembunyikan sesuatu."

Yuri terdiam. Ia tak mengerti sepenuhnya apa maksud kalimat itu, tapi... liontin itu tiba-tiba terasa berbeda.

"Namaku Zeiko," kata pemuda itu, mengulurkan tangan.

Yuri menyambutnya, tanpa tahu bahwa pertemuan itu akan membawa lebih dari sekadar nama.

Yuri menghela napas lagi, kini masih di balkon, kembali ke waktu sekarang. Liontin itu masih di genggamannya. Dia belum mengenakannya. Belum juga bisa membuangnya.

"Apa dia tau?" bisiknya pada dirinya sendiri.

"YURIIIII!!"

Suara teriakan membuat Yuri hampir menjatuhkan liontin itu ke bawah. Ia buru-buru menyelipkannya ke saku dan menoleh. Dari ujung lorong, Aoi datang dengan gaya khasnya—langkah cepat, ekspresi cerah, dan semangat yang tak pernah habis.

"Gawat! Kamu harus ikut ke kantin sekarang!" serunya, setengah berlari.

"Kenapa?" tanya Yuri bingung.

"Rey dan Alex hampir berantem gara-gara rebutan roti isi naga asap terakhir!" Aoi menjawab dengan sangat serius, tapi Yuri tahu ini hanya tipikal kekacauan pagi hari.

"Apa sih... roti doang."

"Bukan roti biasa! Itu edisi terbatas hanya dijual hari ini!"

Yuri akhirnya tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak misi itu, dia bisa tertawa tanpa rasa bersalah.

School Of Magic [OC]Stories to obsess over. Discover now