Happy Reading. . .
----------------------------
.
.
.
Zeiko tetap menatap Yuri, pedangnya masih terangkat. Tapi di balik sorot matanya yang beku, ada sesuatu yang samar. Sesuatu yang Yuri tidak bisa jelaskan-keraguan?
Tiba-tiba, dari balik kobaran api dan asap pekat, terdengar siulan tajam dan panjang.
"Sudah cukup."
Suara itu menggema, berat dan memerintah. Dalam sekejap, Acha dan Zeiko berhenti bergerak. Kunang-kunang merah yang tadi beterbangan satu per satu hancur menjadi debu cahaya, menghilang begitu saja di udara malam.
"Waktu kita habis," gumam Acha.
Zeiko menurunkan pedangnya perlahan, namun tatapannya tak berubah. Hampa. Dingin.
Yuri nyaris berdiri, hendak menyerbu kembali, tapi tanah di bawah kaki Acha mulai retak membentuk simbol sihir yang rumit.
"Zeiko!" seru Yuri, suaranya serak namun penuh emosi.
Zeiko menatapnya sekali lagi. Sekilas. Seperti ingin mengucapkan sesuatu... tapi tak ada kata keluar.
Dalam sekejap, cahaya merah menyilaukan meledak dari tanah, menelan Acha dan Zeiko. Ketika cahaya itu memudar, mereka sudah menghilang.
Yang tersisa hanyalah keheningan. Dan rasa kalah yang menggigit.
Ken terjatuh ke lututnya, napasnya berat. Alex memegangi bahunya yang berdarah. Zivana menggertakkan giginya sambil membantu Rey bangkit. Lilith hanya memandangi langit yang kembali gelap.
Sementara Yuri... hanya berdiri diam. Matanya menatap tempat Zeiko terakhir berdiri. Tangan kirinya mengepal begitu kuat hingga gemetar.
Dia tidak mengerti.
Tapi dia akan mencari tahu.
Apa pun harga yang harus dibayar.
-------
Langit mulai cerah. Tapi bukan karena fajar.
Warna jingga keemasan yang menyapu cakrawala berasal dari sisa-sisa kobaran api yang belum padam sempurna. Desa itu kini tak lagi terdengar riuh oleh teriakan, tapi justru sunyi. Sunyi yang mencekam. Sunyi yang seolah menandakan akhir dari segalanya.
Yuri terduduk di atas puing, tubuhnya berlumuran darah dan jelaga. Nafasnya masih tersengal, namun matanya tak berkedip, terus memandangi arah terakhir di mana Zeiko dan Acha menghilang.
"Yuri!" suara Ken terdengar, diiringi langkah terburu-buru.
Mereka semua terluka. Lilith duduk bersandar pada dinding setengah runtuh, salah satu tangannya memegangi luka di pundaknya. Zivana sedang membantu Rey berdiri, meskipun ia sendiri pincang dan lelah. Aoi masih tersungkur, kehabisan sihir, dan Alex tak berhenti menatap tangannya yang bergetar karena amarah.
Semuanya diam.
Hingga suara siulan lembut terdengar dari udara. Angin bergemuruh sejenak, lalu dari atas langit, sosok-sosok dengan jubah panjang turun dari pusaran sihir. Guru-guru dari School of Magic akhirnya tiba.
Professor Amelys-guru sihir penyembuhan-langsung berlari ke arah Lilith dan Rey. "Kami terlambat..." gumamnya lirih. "Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi di sini...?"
Yuri tidak menjawab.
Tak ada yang menjawab.
Professor Vargan, guru pertahanan sihir, memandang sekeliling. Api mulai padam dengan bantuan mantra pemadam dari para guru. Desa ini, meski tidak hancur sepenuhnya, tak akan pernah sama lagi.
"Semua," kata Professor Vargan, suaranya keras dan tegas. "Kami akan membawa kalian kembali ke akademi. Kalian butuh perawatan. Sisanya biar kami tangani."
Ken, dengan nafas yang masih berat, menatap guru mereka. "Misi ini... bukan seperti yang kita duga, Prof. Mereka-Acha dan satu orang lagi-mengkhianati kita. Mereka... menjebak kita."
Professor Vargan mengerutkan alis. "Siapa orang itu?"
Yuri akhirnya bersuara. "Namanya... Zeiko. Tapi aku tak tahu siapa dia sebenarnya."
Zivana menoleh, bingung. "Bukankah dia temanmu? Aku pernah melihat orang itu pergi besama mu sebelumnya."
Yuri menggeleng perlahan. "Aku hanya... bertemu dengannya waktu itu, di alun-alun desa saat aku hendak kembali ke penginapan. Dia kelihatan seperti... hanya warga biasa."
Seketika suasana menjadi tegang kembali.
Alex memukul tanah dengan tinjunya. "Kita terlalu percaya... kita terlalu naif."
Amelys memandang mereka semua dengan wajah penuh iba. "Kalian tidak salah. Kalian hanya... masih terlalu muda untuk dunia yang seperti ini."
Sinar teleportasi sihir mulai menyelimuti tubuh para murid satu per satu. Mereka dikirim kembali ke akademi dengan formasi darurat.
Yuri menoleh untuk terakhir kalinya ke arah reruntuhan desa. Ia masih bisa membayangkan bayangan Zeiko berdiri di antara asap dan api, menatapnya tanpa emosi. Diam... namun menyayat.
Saat sihir teleportasi menyelubunginya, Yuri menutup mata.
Beberapa jam kemudian.
Yuri terbangun di ruang medis. Suara angin musim gugur menyapu tirai jendela. Bau alkohol dan ramuan sihir menusuk hidung. Di sekitarnya, teman-temannya dirawat-terluka, kelelahan, tapi hidup.
"Apa kau merasa lebih baik?" tanya suara lembut. Professor Amelys.
Yuri menoleh pelan. "Apakah desa itu... aman sekarang?"
"Sampai saat kami tinggalkan, api sudah padam. Warga selamat. Tapi mereka kehilangan banyak."
Yuri menatap langit-langit ruangan. "Kami gagal melindungi mereka."
Amelys menggeleng. "Kalian bertahan. Itu bukan kegagalan."
Yuri terdiam. Di dalam dirinya, perasaan bersalah dan curiga mulai tumbuh bersamaan. Siapa sebenarnya Zeiko? Kenapa ia tahu tentang kunang-kunang sihir? Bagaimana Acha bisa memimpin serangan seperti itu?
Di samping tempat tidurnya, di atas meja, terdapat selembar kain terbakar dengan simbol aneh-Yuri mengambilnya dari sisa ledakan sebelum mereka teleportasi. Ia belum menunjukkan itu pada siapa pun.
Simbol itu tampak seperti lambang... organisasi.
Misteri ini belum selesai. Bahkan mungkin baru saja dimulai.
To Be Continue. . .
---------------------------
Huhu... pikiran ku kosong banget buat chapter ini, jadi aku berusaha mikir buat cerita ini. Karena kalo nunggu ada ide yang banyak bisa-bisa cerita ini lama lanjut nya. Segitu aja, have a nice day!
YOU ARE READING
School Of Magic [OC]
RandomSejak kecil, Yuri sudah tahu satu hal: di School of Magic, tidak ada yang benar-benar aman. Di balik tembok kastil megah dan teknologi sihir canggih, para murid dilatih bukan hanya untuk menjadi penyihir terbaik-tapi juga untuk menjalankan misi-misi...
![School Of Magic [OC]](https://img.wattpad.com/cover/372260106-64-k958533.jpg)