Happy Reading . . .
__________________
.
.
.
Yuri melirik ke sekeliling. Di sebelahnya, Ken duduk tenang dengan tatapan fokus ke soal ujian. Tangannya bergerak stabil, menulis cepat tanpa ragu. Sementara Zivana, duduk di baris depan, terlihat sesekali mencoret-coret draf jawaban sebelum akhirnya menulis dengan serius.
Yuri menarik napas dalam. Lembar soal di depannya tampak padat—kombinasi antara teori sihir dasar, sejarah aliran sihir, hingga pertanyaan logika magis. Ia mengerjakan perlahan, membaca satu per satu soal, lalu mencatat dengan tulisan rapi.
Tapi di tengah-tengah soal kelima, matanya menangkap sesuatu dari ujung penglihatan. Seorang murid dari baris lain—Ronan, anak yang terkenal dengan perbuatan onarnya—terlihat mencurigakan. Ia memegang sesuatu kecil di bawah meja, nyaris tak terlihat... kecuali oleh Yuri, yang duduk tak jauh dari situ.
Yuri menunduk, mencoba tak menarik perhatian, namun pikirannya gelisah. Ia bukan tipe yang suka ikut campur, tapi kecurangan di ujian seperti ini bisa berdampak buruk—bukan cuma buat nilai, tapi buat reputasi akademi.
Dari sudut lain, Ken sempat melirik Yuri yang tampak ragu, tapi tak berkata apa-apa. Mereka saling memahami lewat diam: Yuri sedang mempertimbangkan sesuatu.
Bel tanda ujian selesai pun berbunyi.
Suara kertas disobek dari lembar jawaban, dan seluruh murid mengumpulkan hasil kerja mereka ke meja depan. Yuri berdiri paling akhir, lalu menyerahkan jawabannya, sempat menatap sekilas ke arah Ronan—yang tersenyum kecil, entah karena lega atau karena sesuatu yang lain.
Begitu keluar ruangan, Zivana langsung mendekat.
"Gila. Soal nomor tujuh itu nanya struktur mantra gabungan. Siapa juga yang hafal teori itu di luar kepala?"
Ken mengangguk. "Tapi kayaknya kamu bisa jawab."
Zivana tertawa lelah. "Iya, setelah nulis tiga versi dulu."
Yuri tidak langsung bicara. Wajahnya terlihat agak tegang. Zivana memperhatikan itu, lalu bertanya pelan, "Kamu kenapa?"
Yuri hanya menjawab pendek, "Ga, ngga kenapa-napa kok."
Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki terdengar dari ujung lorong. Rey muncul lebih dulu, diikuti Aoi dan Alex, masing-masing membawa bekal kecil dari kantin.
"Yurii~," seru Rey, melambaikan tangan tinggi-tinggi. "Selamat, kamu selamat dari hari pertama ujian neraka tulis!"
Alex mengangkat kantong kertas. "Nih, aku bawa sandwich ebifry favoritmu."
Aoi menyodorkan botol air. "Minum dulu. Mukamu pucat."
Zivana nyeletuk, "Eh, kalian masuk ke kelas kami gini, jangan-jangan mau daftar pindah ya?"
Rey menjawab dengan santai, "Kalau ada Yuri-nya, boleh banget."
Yuri menatap Rey sejenak, lalu berkata datar, "Kamu beneran gak pernah capek gombal ya?"
Rey menaruh tangan di dada seolah tersentuh. "Hatiku baru capek kalau kamu terus menolakku."
"Kasihan banget," gumam Ken pelan, cukup untuk membuat Alex cekikikan.
Setelah istirahat makan siang, mereka duduk di bawah pohon besar dekat taman belakang akademi. Tempat biasa mereka berkumpul.
Zivana akhirnya membuka topik yang tadi sempat ditahan.
"Yuri, kamu tadi sempat lihat sesuatu waktu ujian ya?"
Yuri mengangguk perlahan. "Ronan... kayaknya nyembunyiin alat bantu sihir kecil di bawah mejanya. Tapi aku gak yakin."
Aoi tampak terkejut. "Itu serius, Yur. Kalau ketahuan, bisa diskors."
"Makanya aku belum lapor," kata Yuri. "Aku gak punya bukti."
Ken menatap langit sejenak. "Kalau kamu yakin, mungkin ada cara lain buat cari tahu."
Zivana menyahut, "Atau... kita ikutin dia? Nggak usah konfrontasi. Cuma cari tahu."
Rey bersandar ke pohon. "Wah, ini mulai kayak misi rahasia. Aku suka."
Yuri menatap mereka satu per satu. Meski enggan, ia tahu—kalau dia diam, sesuatu yang salah bisa dibiarkan begitu saja.
Dan sesuatu dalam dirinya... mengatakan ini bukan sekadar soal ujian.
Sore itu, langit mulai memerah. Bel tanda akhir pelajaran berbunyi, murid-murid keluar dari kelas masing-masing, beberapa terlihat lega, lainnya masih mengeluh soal soal-soal ujian yang "kayak ditulis langsung sama iblis sihir". Tapi bagi Yuri, pikirannya tidak sepenuhnya lepas dari kejadian tadi pagi.
Ia, Ken, dan Zivana tidak langsung ke taman seperti biasa. Mereka tetap di lorong lantai dua, duduk di bangku panjang menghadap ke halaman akademi.
"Kalau kita mau tahu Ronan curang atau nggak, kita harus tahu dia pakai alat bantu sihir dari mana," gumam Zivana sambil memainkan penanya. "Kayak mana ya caranya?"
Ken tenang, seperti biasa. "Ronan biasanya nongkrong di ruang praktik sore hari, kadang pura-pura latihan. Padahal kayaknya nggak pernah serius."
"Kalau gitu kita intipin dia di sana?" tanya Yuri.
Zivana angkat bahu. "Kalau kita ketahuan, bisa disangka nguntit."
Yuri berdiri. "Kita nggak perlu nguntit, cuma lihat dari luar aja. Aku cuma butuh bukti kalau dia beneran pakai alat sihir kecil itu."
Ken dan Zivana ikut berdiri. "Oke. Kita coba."
--->><<---
Ruang praktik sihir sore itu tampak sepi, tapi lampunya menyala. Ken menunjuk jendela sisi timur. "Kalau kita lewat kebun belakang, bisa lihat ke dalam tanpa ketahuan."
Mereka bertiga mengendap-endap ke sisi bangunan, menyelinap lewat lorong kecil yang jarang dilewati. Langkah mereka ringan, hati-hati agar tak menarik perhatian siapa pun—terutama guru.
Saat mereka sampai, mereka melihat Ronan sedang berdiri dekat meja batu. Di tangannya—sebuah benda logam kecil, hampir seperti liontin, tapi bentuknya aneh. Ada ukiran sihir di permukaannya.
Zivana berbisik, "Kayak bukan liontin yang biasanya..."
Yuri mengangguk. "Itu kode sihir minor. Alat bantu buat komunikasi atau transfer informasi pendek."
Ken menyipitkan mata. "Kalau dia pakai itu pas ujian tadi..."
"...berarti dia bisa nerima jawaban," lanjut Yuri pelan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki dari arah dalam ruangan terdengar. Seorang pria dewasa masuk—bukan guru, tapi jelas lebih tua dari murid biasa. Ronan buru-buru menyembunyikan alat itu ke sakunya.
Zivana menahan napas. "Siapa itu?"
Ken bergumam, "Dia bukan staf akademi."
Yuri menarik mereka berdua mundur. "Kita harus pergi sekarang. Kalau ketahuan, bisa gawat."
Mereka segera mundur pelan, lalu menyelinap keluar lewat lorong tadi. Begitu sampai di taman belakang, barulah mereka bisa bernapas lega.
Zivana menyandarkan punggung ke dinding. "Oke. Ini udah bukan soal nyontek biasa, Yuri. Dia terhubung ke... sesuatu yang lebih besar."
Yuri menatap langit yang mulai gelap. Dalam dadanya, perasaan tak nyaman mulai tumbuh. Sebuah firasat.
To Be Continued . . .
__________________
haiii, apa kabar semuaa? semoga sehat yaaa
YOU ARE READING
School Of Magic [OC]
AléatoireSejak kecil, Yuri sudah tahu satu hal: di School of Magic, tidak ada yang benar-benar aman. Di balik tembok kastil megah dan teknologi sihir canggih, para murid dilatih bukan hanya untuk menjadi penyihir terbaik-tapi juga untuk menjalankan misi-misi...
![School Of Magic [OC]](https://img.wattpad.com/cover/372260106-64-k958533.jpg)