Happy Reading. . .
---------------------------
.
.
.
Asap masih mengepul di atas desa yang luluh lantak. Bara api berkerlap-kerlip bagai bintang yang jatuh ke bumi, menari di antara puing dan debu. Udara masih terasa panas, seperti bumi belum rela melepaskan amarahnya.
Jerit tangis perlahan tergantikan oleh desahan napas lelah.
"Yang terluka ke sini!" teriak seorang guru dari akademi, suaranya lantang menembus keributan.
Salah satu guru, Profesor Vallerie, berdiri dengan tongkat bercahaya di tangan, merapal mantra pemulihan yang menenangkan. Dari balik cahaya sihirnya, terlihat tubuh-tubuh muda yang tertatih: siswa-siswa akademi, sebagian pingsan, sebagian menggigit bibir menahan rasa sakit. Luka-luka terbuka menghiasi lengan, dahi, dan kaki mereka.
Dari 27 murid yang dikirim ke desa, hanya segelintir yang masih bisa berdiri tegak.
Yuri duduk di antara reruntuhan, punggungnya bersandar pada dinding rumah yang separuh terbakar. Pandangannya kosong, menatap jauh entah ke mana. Napasnya berat. Baju seragamnya robek di sana-sini, bercampur noda darah kering.
Sisa pertempuran tadi masih membekas jelas di tubuh dan pikiran mereka semua.
Ken, meski berdiri tegak, berulang kali terhuyung. Ia menolak duduk sebelum memastikan semua anggota tim utamanya selamat. Alex dibaringkan di dekat tumpukan karung gandum, pelipisnya robek. Lilith, dengan tangan terikat perban, sibuk memarahi Rey yang nekat berdiri meski kakinya terkilir.
Zivana duduk bersila di tanah, matanya menatap ke langit yang mulai cerah. "Berapa rumah yang tersisa?" gumamnya pelan.
Aoi hanya menggeleng. "Kurang dari separuh desa..."
Langkah kaki mendekat. Kepala sekolah mereka, Headmaster Auren, telah tiba bersama beberapa guru dan penjaga. Wajahnya muram, garis-garis usia terlihat lebih jelas malam ini.
"Kenapa ini bisa terjadi?" suaranya berat, nyaris seperti gumaman doa.
Profesor Vallerie menatap ke arah Yuri dan Ken, lalu kembali ke Auren. "Kami akan gali lebih lanjut... Tapi ini bukan sekadar misi bantuan biasa. Ada kekuatan besar yang bermain di sini."
Headmaster Auren mengangguk pelan, matanya beralih ke para siswa yang tergeletak di sana-sini. "Siapkan sihir teleportasi. Kita bawa mereka pulang."
-------
Suasana asrama malam itu sunyi. Angin berembus pelan dari jendela, membawa hawa dingin dari pegunungan yang jauh. Di tempat tidurnya, Yuri duduk bersandar sambil menatap benda kecil di tangannya—sebuah liontin dengan batu permata ungu violet. Permata itu memantulkan cahaya bulan dengan tenang, seakan menyimpan gema kenangan yang belum usai.
Liontin itu bukan milik sekolah. Bukan juga hadiah dari siapa pun di akademi. Itu berasal dari desa—dari misi yang tak seharusnya berubah menjadi pertempuran. Dari seseorang yang seharusnya asing... tapi kini tinggal dalam pikirannya terlalu dalam untuk disebut sekadar pertemuan singkat.
Yuri menutup mata, membiarkan pikirannya mundur ke hari itu.
Alun-alun desa tampak ramai sore itu. Pasar kecil dibuka di antara jalan berbatu dan bangunan tua. Aroma rempah-rempah, roti panggang, dan tanah basah setelah hujan bercampur di udara.
Yuri sedang berdiri di depan kios kecil yang menjual perhiasan murah—gelang manik-manik, cincin kayu, dan liontin dengan berbagai warna permata sintetis. Tangannya hampir menyentuh sebuah liontin mungil dengan batu ungu yang tampak agak berbeda dari yang lain. Warnanya dalam, kaya, bukan sekadar cat di atas kaca.
YOU ARE READING
School Of Magic [OC]
De TodoSejak kecil, Yuri sudah tahu satu hal: di School of Magic, tidak ada yang benar-benar aman. Di balik tembok kastil megah dan teknologi sihir canggih, para murid dilatih bukan hanya untuk menjadi penyihir terbaik-tapi juga untuk menjalankan misi-misi...
![School Of Magic [OC]](https://img.wattpad.com/cover/372260106-64-k958533.jpg)