#Chapter 4 : Otori

17 1 0
                                        

Happy Reading...

.

.

.

  Cahaya matahari menerobos masuk melalui celah-celah jendela, menerangi kamar yang berantakan. Seorang wanita tampak tertidur pulas di atas meja kerja yang penuh dengan kertas-kertas berserakan. Perlahan, ia mengerjapkan matanya, menatap sekeliling sebelum akhirnya bangkit dan berjalan menuju pintu. Saat membuka kenop pintunya, suara riuh remaja-remaja terdengar dari lantai bawah.

Ia tersenyum kecil. Ada kehangatan di sana. Keheningan yang biasanya menyelimuti rumahnya kini tergantikan oleh suara-suara yang hidup.

"Aku sudah tidak sendiri lagi..." gumamnya pelan, seperti mengingatkan dirinya sendiri.

Saat ia sampai di ruang makan, sarapan sudah tersaji di meja. Rupanya anak-anak itu telah menyiapkannya. Mereka sibuk dengan tugas masing-masing, sehingga tak seorang pun duduk menemaninya. Ia memandang sekeliling, mencari seseorang.

"Zivana, bisa temani aku makan?" tanyanya kepada seorang gadis yang kebetulan lewat.

"Eh? Aku?" Zivana menunjuk dirinya sendiri, tampak terkejut.

"Iya, kalau kau belum sarapan. Ayo makan bersama," jawabnya lembut.

"Baik~" sahut Zivana sambil menarik kursi dan bergabung di meja makan.

Mereka makan dalam suasana santai, dengan obrolan ringan yang mengalir hangat.

Beberapa jam kemudian, Acha tampak sibuk bersiap-siap. Ia mengenakan pakaian rapi, berbeda dari biasanya. Tas besar tergantung di pundaknya, seolah menunjukkan bahwa ia akan pergi dalam waktu yang tidak singkat.

"Kakak mau pergi ke mana?" tanya Lilith, salah satu gadis yang kebetulan melihat Acha di dekat pintu.

"Oh, aku ada keperluan dengan seseorang di luar desa. Kemungkinan aku tidak pulang selama dua hari. Jadi, tolong jaga rumah, ya?" Acha tersenyum, mengusap lembut kepala Lilith.

"Serahkan pada kami," jawab Lilith yakin, mengangguk kecil sambil mengantar Acha sampai ke pintu keluar. Ia melambaikan tangan hingga Acha menghilang di kejauhan, kemudian kembali masuk untuk melanjutkan pekerjaannya.

Di penginapan, kelompok remaja itu berkumpul di kantin untuk makan siang. Suasana riuh dengan obrolan yang beragam.

"Menurut kalian, kira-kira Kak Acha pergi ke mana?" tanya Ken, yang membuka pembicaraan sambil menyendok makanannya.

Zivana langsung menyahut dengan spekulasi, "Jangan-jangan ketemu gebetan?!"

Yuri menatap Zivana dengan wajah polos. "Yang benar? Aku nggak tahu kalau Kak Acha punya pacar."

"Mungkin dia backstreet!" bisik Zivana dengan nada bercanda. Yuri yang mendengarnya hanya mengangguk-angguk, membuat Zivana tertawa kecil.

"Woy! Jangan ngomong yang aneh-aneh sama Yuri!" tukas Rey, memisahkan Zivana dari Yuri.

"Kalau ketemu pacar, bukannya bisa malam-malam? Atau nunggu kita pulang dulu?" sela Aoi, logis seperti biasa. Alex hanya mengangguk setuju di sampingnya.

Zivana tiba-tiba melompat dengan ide baru. "Ah! Kenapa kita nggak tanya aja? Siapa di sini yang punya nomor handphone Kak Acha?"

Semua langsung merogoh ponsel mereka, tapi akhirnya menggeleng serempak.

"Beneran nggak ada?" Zivana menatap mereka tidak percaya.

"Setahu aku, Kak Acha nggak punya handphone," jawab Ken. "Dia selalu pakai surat untuk komunikasi."

"Surat?!" Zivana hampir tersedak mendengar itu. "Di zaman sekarang masih ada orang yang kirim-kiriman surat? Mana ada kantor pos lagi!"

Alex mengangkat bahu. "Di desa kecil seperti ini, kantor pos masih aktif."

Zivana terdiam, rasa penasarannya pupus. "Yah, kalau begitu kita nggak bisa tahu, dong."

Pembicaraan berubah arah saat Alex tiba-tiba bertanya, "Omong-omong, marga Kak Acha apa ya?"

"Lacta Otori..." jawab Ken tanpa berpikir panjang.

Yuri tiba-tiba menyadari sesuatu. "Tunggu. Marga Ken juga Otori, kan?"

Hening sejenak. Lalu mereka semua tersadar bersamaan.

"HAH?! Kalian keluarga?!" Zivana berseru, diikuti tawa Rey yang membahana.

"HAHAHAHA! Aduh, nama teman sendiri lupa, parah banget!" Rey tertawa keras sampai menarik perhatian orang-orang di sekitar.

"Woy, malu dilihatin orang!" Zivana menepuk lengan Rey, membuatnya meringis kesakitan.

"Ken, kenapa nggak bilang kalau Kak Acha itu keluargamu?" Alex memasang tatapan serius seperti sedang menginterogasi terdakwa.

Ken menggaruk belakang kepalanya, tampak canggung. "Kak Acha sudah bukan bagian dari keluarga Otori."

Suasana mendadak berubah serius.

Ken melanjutkan dengan suara pelan, "Tetua klan mengusirnya karena eksperimen yang hampir membahayakan klan. Seharusnya dia sudah tidak boleh menggunakan nama Otori lagi, tapi... dia tetap menggunakannya."

"Kenapa dia tetap memakai nama itu?" tanya Aoi penasaran.

"Aku tidak tahu. Aku sudah sering memintanya untuk melepas nama itu. Tapi dia bilang aku tidak perlu ikut campur," Ken menunduk lesu. "Aku takut jika para tetua tahu dia masih menggunakan nama itu... mereka tidak akan segan-segan membunuhnya."

Sunyi. Semua teman-temannya tampak terkejut mendengar pengakuan Ken.

"Semoga Kak Acha tidak tertangkap," ucap Yuri akhirnya, memecah keheningan dengan nada prihatin.

"Ya..." jawab Ken pelan, pandangannya kosong. "Aku juga berharap begitu."

To Be Continued. . . 

Author note:

 Halo halo!! Gimana kabar kalian? semoga baik....

Akhirnya kita tau kalau Acha ini keluarga ken!! Hehehehehehe~~ 

Chapter 5 bakal aku up secepatnya!


School Of Magic [OC]Stories to obsess over. Discover now