#Chapter 7 : Api

9 0 0
                                        


Happy Reading...

--------------------------

.

.

.

Desa tampak lebih ramai dari biasanya. Zivana menatap alun-alun desa dengan mata berbinar. Lampu-lampu kecil tergantung di antara tiang-tiang, memberikan suasana yang hangat meskipun masih siang. Orang-orang terlihat sibuk menyiapkan sesuatu. "Wah, ada apa, ya? Apa aku nggak diundang ke acara seru ini?" Zivana berseru sambil mengusap dagu seperti detektif murahan.

Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya muncul dengan senyum lebar. "Nona Zivana! Nona Yuri! Kebetulan sekali!" serunya. Wanita itu adalah Bibi Vanny, pemilik kedai sederhana di desa.

"Bibi! Apa kabar?" Zivana langsung meraih tangan Bibi Vanny dan menggoyangnya seperti pompa air.

"Baik, nona Zivana," jawab Bibi Vanny sambil terkikik. "Omong-omong, ini untuk kalian." Ia menyerahkan sebuah keranjang rotan.

"Apa ini, Bi?" tanya Yuri, penasaran.

"Sebagai tanda terima kasih. Kalian sudah membantu di kedai saya beberapa hari lalu."

"Duh, Bi, nggak usah repot-repot! Waktu itu kan bibi sudah ngasih makan gratis," kata Zivana dengan senyum canggung, tapi matanya tetap melirik isi keranjang.

"Ah, kalian ini memang baik sekali. Omong-omong, dua hari lagi akan ada festival. Kalian mau membantu saya lagi? Nyanyian nona Zivana itu lho, selalu jadi favorit pelanggan!" Bibi Vanny menatap mereka penuh harap.

"Tentu saja! Nggak mungkin aku menolak pujian sehebat itu," jawab Zivana penuh semangat, kepalanya sedikit mendongak dengan gaya sok penting.

"Terima kasih banyak! Kalau begitu, saya pamit dulu, masih banyak pekerjaan menunggu," kata Bibi Vanny sebelum berlalu.

Setelah itu, Zivana dan Yuri memutuskan membeli beberapa camilan dan duduk di kafe alun-alun. Suasana begitu santai, sampai...

TING!

Ponsel Yuri berbunyi. Ia membaca pesan yang baru masuk.

"Kenapa?" tanya Zivana yang sedang sibuk mengunyah dessert.

"Kita harus balik ke rumah Kak Acha sekarang," jawab Yuri sambil menatap layar ponselnya.

"Kenapa?" Zivana meneguk minumannya dengan panik.

"Aoi dan Ken sudah menunggu."

"APA?!" Zivana langsung tersedak. Ia buru-buru menghabiskan dessert-nya. "Kita harus bawa bekal dessert buat pelicin!"

Tanpa pikir panjang, Zivana memesan satu kotak besar dessert dan langsung berlari meninggalkan Yuri yang masih sibuk membereskan tagihan. "Dasar kabur bayar lagi," batin Yuri sambil menghela napas.

Sesampainya di rumah Kak Acha, Zivana membuka pintu dan langsung bertemu Aoi serta Ken. Mereka berdiri dengan tangan terlipat, ekspresi mereka datar tapi menakutkan.

"Ehe, salam damai, kawan," kata Zivana canggung, mengangkat dua jari membentuk simbol perdamaian. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Namun sebelum Aoi sempat bicara, terdengar ledakan kecil di samping rumah. Keempatnya langsung bergegas ke arah suara.

Di halaman, mereka menemukan Rey berdiri di tengah kerumunan anak-anak, dengan api menyala di tangan kirinya. Di belakangnya, ada kobaran api yang cukup besar.

"Waduh, kok bisa gagal, ya?" Rey menggaruk kepalanya dengan santai.

Dari atas pohon, Alex berteriak, "Jangan main api dekat pohon, goblok!"

Dengan satu gerakan tangan, Alex membekukan api itu, termasuk kobaran besar di belakang Rey. Sayangnya, bekuan api malah menghantam wajah Alex, membuatnya kehilangan keseimbangan. "REY!" teriak Alex sebelum jatuh dari pohon.

"Oops, sori, Lex! Nggak sengaja!" Rey tersenyum tanpa rasa bersalah.

Aoi hanya bisa menghela napas. "Anak-anak ini kenapa ya, hidupnya chaos banget?"

Rey yang mendengar itu malah mendekati Yuri, membawa senyuman lebar. "Eh, Yuri, liat ini! Aku bisa bikin api bentuk love sekarang." Ia mencoba membentuk api di tangannya menjadi bentuk hati. Awalnya terlihat menjanjikan, hingga akhirnya api itu malah berbentuk... ayam goreng?

"Astaga, Rey! Itu love apaan?!" Yuri tak bisa menahan tawa melihat bentuk api yang aneh itu.

"Eh, eh, salah pencet kayaknya," Rey menggaruk kepala dengan wajah bingung.

"Udah, Rey. Lo tuh lebih cocok jadi chef daripada pesulap api," ledek Zivana sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Tiba-tiba, terdengar suara gedebuk keras dari arah lain. Ternyata salah satu anak yang tadi menonton malah jatuh ke genangan lumpur. Anak itu berteriak, "REY! Ini gara-gara api lo, gue kepleset!"

"Eh, maaf, Dek. Bonus entertainment, ya," jawab Rey santai sambil melambai.

Alex yang sudah berhasil bangkit dari tanah mendengus kesal. "Rey, lo bener-bener bikin pusing. Gue serius nih, kalau lo nggak bisa berhenti main api sembarangan, gue bakal laporin lo ke Kak Acha."

"Laporin aja. Gue bawa dessert dari Zivana, kok. Kak Acha pasti maafin gue," jawab Rey dengan penuh percaya diri.

"Dasar muka tebal," gerutu Alex sambil berjalan pergi, meninggalkan Rey yang malah asyik memamerkan trik api barunya kepada anak-anak lainnya.

"Gue capek," keluh Zivana sambil duduk di atas rumput. "Kenapa sih hidup gue harus ngeliat Rey setiap hari?"

"Biar hidup lo nggak ngebosenin," jawab Yuri sambil tertawa kecil. "Ayo, kita masuk sebelum mereka bikin keributan lagi."

Dengan langkah malas, Zivana dan Yuri kembali ke dalam rumah, sementara di luar, suara Rey dan Alex yang saling adu mulut masih terdengar dengan jelas.

To Be Continued...

--------------------------

Halo! Gimana kabar kalian semua? Semoga sehat yaaaaaaaa.

Jujur, akhir-akhir ini aku susah buat dapet ide karena... banyak tugas sekolah pren T^T Jadi kemungkinan aku bakal up, tapi jadwalnya ga nentu. Doa kan saja aku bisa up sesuai jadwal, hari minggu dan ide baru muncul terus. Sekian dari aku, jangan lupa vote + komen yaaa, dadah!

School Of Magic [OC]Stories to obsess over. Discover now