Happy Reading. . .
.
.
.
Cahaya pagi menembus kaca jendela ruang kelas, memantul lembut di permukaan meja-meja kayu yang masih kosong. Suasana masih sepi, hanya terdengar suara kicauan burung dan gemerisik dedaunan di luar. Yuri melangkah masuk ke kelas dengan buku tebal di tangan, seragamnya rapi dan rambutnya sedikit basah karena baru selesai mandi pagi.
Ia duduk di kursinya yang biasa, tepat di tengah ruangan, lalu membuka buku catatan sambil menghela napas pelan. Setelah misi di desa beberapa hari yang lalu, suasana sekolah perlahan kembali normal. Tapi perasaan di dalam dada Yuri belum benar-benar pulih. Tidak sepenuhnya. Ia sudah mencoba fokus pada pelajaran, pada teman-temannya, pada hari-hari biasa yang dulu terasa membosankan tapi kini justru menenangkan.
Tak lama kemudian, Zivana datang dengan langkah ringan, rambutnya digerai seperti biasa. Ia meletakkan buku-bukunya di meja sebelah Yuri lalu duduk sambil meregangkan lengan.
"Pagi banget kamu, Yuri," katanya dengan senyum kecil. "Biasa kamu datang mepet bel."
Yuri terkekeh. "Lagi pengen baca ulang catatan semalam. Entah kenapa rasanya belum masuk semua ke kepala."
Zivana menyandarkan dagunya di telapak tangan. "Padahal kamu tuh termasuk cepat nangkep, loh. Jangan terlalu keras sama diri sendiri juga."
Yuri tersenyum kecil, tapi tidak menjawab. Ia justru memandangi halaman yang terbuka di depannya, isinya penuh coretan simbol sihir, rumus energi ether, dan catatan kecil dari kelas sebelumnya.
Beberapa menit kemudian, Ken masuk. Ia tampak membawa dua gelas minuman—satu berisi kopi hitam dan satu lagi teh hangat.
"Pagi," sapa Ken singkat.
"Pagi, Ken!" Zivana langsung melambaikan tangan.
Yuri melirik dan tersenyum. "Pagi. Eh... itu buat siapa?"
Ken meletakkan gelas teh hangat di meja Yuri. "Buat kamu. Biar nggak pusing baca rumus terus."
Yuri agak kaget. "Eh? Oh... makasih." Ia mengambil gelas itu dan menghangatkan tangannya di permukaannya. Harumnya lembut, seperti bunga herbal yang baru diseduh. "Kamu bikin sendiri?"
Ken mengangguk pelan. "Biasa, herbal yang dikasih Profesor Nevara minggu lalu."
Zivana memandang mereka berdua sambil mengerling iseng, tapi tak berkata apa-apa. Ia hanya menyeruput kopinya sendiri sambil melirik ke luar jendela.
Satu per satu murid lain mulai masuk kelas. Hiruk pikuk pagi hari pun mulai terasa, dengan tawa ringan, suara langkah kaki, dan obrolan-obrolan soal materi ujian yang makin dekat.
Namun suasana menjadi sedikit lebih hidup ketika suara familiar memecah keramaian.
"Yuriiiii~!"
Rey muncul di pintu kelas dengan senyum lebarnya, langkahnya santai dan penuh percaya diri. Di belakangnya, Alex dan Aoi ikut masuk, meski mereka berasal dari kelas lain.
"Woi, Rey, kelas lu bukan di sini," celetuk Zivana sambil geleng-geleng.
"Aku tau," jawab Rey santai. "Tapi hatiku... tertinggal di sini."
Zivana langsung menoleh tajam. "Kalau mau gombal, bisa nggak tunggu setelah ujian selesai?"
Ken mendesah pelan, tapi tidak berkata apa-apa. Sementara Yuri hanya terkikik kecil, menanggapi Rey seperti biasa.
"Rey," kata Yuri. "Kamu ini nggak pernah capek ya?"
"Capek dong," jawab Rey, duduk di kursi kosong dekat jendela. "Capek... nahan rindu."
"Astaga." Zivana menutup wajahnya dengan buku.
Alex duduk santai di kursi belakang Yuri. "Aku rasa aku kehilangan beberapa sel otak setiap kali dia mulai ngomong."
Aoi, yang berdiri di samping meja Ken, hanya menghela napas. "Kalau bukan karena Red yang nyeret, aku nggak bakal ke kelas ini."
"Eits, jangan gitu dong, Aoi," Rey menyenggol bahu Aoi yang langsung menghindar. "Kita kan satu dunia."
"Satu dunia, kepala kau," balas Aoi cepat.
Yuri tertawa pelan sambil menyeruput tehnya. Suasana ini... terasa seperti rumah. Walaupun hubungan mereka tak selalu sempurna, dan sifat masing-masing bisa bikin gemas satu sama lain, tapi Yuri menyukai dinamika ini.
Namun pelajaran dimulai tak lama kemudian, Aoi, Alex dan Rey langsung buru-buru kembali ke kelas mereka, lalu Profesor Lenz masuk membawa tumpukan buku dan langsung menulis di papan. Fokus kembali ke materi, dan semua suara tawa menghilang diganti dengan suara kapur dan lembaran buku yang dibuka.
Yuri duduk tenang di antara murid-murid yang duduk di sampingnya. Pandangannya sesekali beralih dari papan ke catatannya, lalu ke jendela yang masih menyisakan embun pagi. Di luar sana, dunia terlihat damai. Tapi di dalam dirinya, masih ada banyak hal yang belum sepenuhnya ia mengerti.
Saat Profesor menjelaskan tentang perbedaan sihir elemental dan sihir sintetis, Ken diam-diam mendorongkan secarik kertas ke arah Yuri. Tulisan tangan Ken rapi dan pendek: Kalau nggak paham, tanya aku aja ya.
Yuri tersenyum kecil dan membalas dengan tulisan: Iya. Makasih, Ken.
Zivana melirik dari sudut mata dan tersenyum tanpa suara. Ia tahu—mungkin semuanya memang perlahan membaik.
Hari itu dimulai seperti hari biasa, tapi bagi Yuri, ada hal kecil yang terasa berbeda.
Langkah baru, meski masih ragu-ragu. Tapi tetap... langkah ke depan.
To Be Continued. . .
_____________________
YOU ARE READING
School Of Magic [OC]
RandomSejak kecil, Yuri sudah tahu satu hal: di School of Magic, tidak ada yang benar-benar aman. Di balik tembok kastil megah dan teknologi sihir canggih, para murid dilatih bukan hanya untuk menjadi penyihir terbaik-tapi juga untuk menjalankan misi-misi...
![School Of Magic [OC]](https://img.wattpad.com/cover/372260106-64-k958533.jpg)