#Chapter 25 : Aramanda.

6 0 0
                                        

Happy Reading. . .

__________________

.

.

.

Mereka baru saja melangkah masuk ke lobi hotel, dan semuanya terdiam.
Atapnya menjulang tinggi dengan langit-langit kaca transparan yang menampilkan pemandangan langit sore kota Aramanda. Tapi yang paling bikin mereka melongo bukan cuma arsitekturnya, melainkan semua hal yang bergerak sendiri di sekitarnya.

Di dekat pintu masuk, sebuah robot berbentuk tabung dengan lengan kecil menyambut tamu, menyodorkan minuman dingin tanpa harus diminta. Lantai lobi terasa hangat, meskipun di luar udara cukup dingin. Dindingnya menampilkan lukisan digital yang berubah sesuai waktu — sore ini, pemandangannya menampilkan hamparan taman bunga yang bergoyang tertiup angin.

"Woooow..." Zivana memutar tubuhnya pelan, seperti takut kalau dia mengedip terlalu lama, pemandangannya bakal hilang. "Ini... ini hotel beneran? Kok kayak masuk film fiksi sih?"

Rey udah nggak bisa diem. Dia melangkah ke arah salah satu dinding yang punya panel kaca besar. Begitu dia sentuh, panel itu langsung berubah jadi layar interaktif yang menampilkan peta kota. "Lihat! Lihat! Gue cuma nyentuh dan—WOAH! Ini bisa zoom in!" teriaknya sambil memperbesar peta sampai kelihatan jalan-jalan kecil.

Aoi, yang biasanya kalem, malah sibuk mengeluarkan alat foto sihirnya. "Aku harus dokumentasiin semua ini. Biar nanti bisa cerita ke anak cucu." Dia mengambil gambar setiap sudut, bahkan pot bunga yang ternyata adalah dispenser air otomatis.

Alex justru berdiri agak belakang, matanya menyapu tiap detail dengan penuh rasa ingin tahu. "Sistem keamanan mereka... ini keren banget. Pintu nggak pakai kunci fisik, tapi pakai sensor retina. Dan ada lapisan pertahanan sihir tipis di seluruh bangunan... walau kayaknya lebih fokus ke teknologi daripada sihir."

Ken hanya bersandar di salah satu pilar, nyengir melihat tingkah teman-temannya. "Baru liat beginian aja udah kayak anak kecil masuk toko permen."

"Lah lo nggak kaget, Ken?" tanya Rey sambil mencoba menggeser layar panel tadi.

Ken cuma angkat bahu. "Pernah lihat yang mirip-mirip, tapi ya... ini lebih canggih."

Di belakang mereka, Yuri hanya berjalan santai, tatapannya tenang. Dia nggak menunjukkan keterkejutan berlebihan seperti yang lain. Malah sesekali, saat salah satu dari mereka bingung, dia memberi arahan pendek.

"Zivana, itu tombolnya di bawah, bukan di samping."
"Rey, kalau mau balikin ke peta awal, geser dua jari ke bawah."
"Aoi, kalau foto dari sini, pantulan cahayanya nggak bakal ganggu."

Mereka menganggapnya cuma karena Yuri punya logika cepat, tapi sebenarnya, setiap langkahnya seperti orang yang sudah hafal tempat itu.

"Wah... sumpah, nggak nyangka hotel ini bahkan punya... eh, apa tuh?!" Zivana menunjuk sebuah lorong di sisi lobi. Dari sana, sebuah platform bundar melayang turun tanpa rel atau tali, lalu terbuka seperti pintu lift.

"Papan melayang?" tanya Aoi bingung.

"Bukan. Itu lift gravitasi nol," jawab Yuri datar.

Semua langsung noleh ke Yuri.
"Eh, kok kamu tau?" tanya Rey.

Yuri cuma mengangkat alis. "Namanya kebaca di panelnya." Dia menunjuk ke tulisan kecil di atas pintu — padahal dari jarak mereka berdiri, mustahil ada yang bisa baca jelas kecuali udah pernah lihat sebelumnya.

Mereka naik ke lift itu, dan sensasinya bikin semua teriak pelan. Begitu pintu tertutup, tubuh mereka terasa ringan, seperti melayang sebentar sebelum perlahan turun. "WOAHHH! GILA!" Rey sampai pegangin bahu Ken.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 24, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

School Of Magic [OC]Stories to obsess over. Discover now