Happy Reading. . .
____________________
.
.
.
Sore itu, angin bertiup lembut membawa aroma rerumputan yang menghangat di bawah cahaya matahari yang mulai condong. Suara tawa dari siswa-siswa di lapangan terdengar jauh, mengisi udara dengan energi yang tenang. Di sisi timur taman sekolah, di bawah pohon besar yang rimbun, tiga orang siswa sudah duduk bersila di atas alas piknik berwarna biru tua.
Yuri membuka bukunya perlahan, matanya menyapu halaman demi halaman, sementara Zivana duduk di sebelahnya dengan ekspresi serius namun sedikit mengantuk. Di sisi lain, Ken tengah menyiapkan termos berisi teh hangat yang ia bawa sendiri dari asrama.
"Ini tehnya," ujar Ken pelan sambil menuangkan ke cangkir logam kecil. "Katanya bagus buat fokus."
"Terima kasih, Ken," sahut Yuri dengan senyum kecil. Ia menerima cangkir itu dan meniup perlahan uapnya sebelum menyeruput. "Hmm... enak."
Ken hanya tersenyum samar. Ia tidak berkata banyak, tapi dari gerak-geriknya terlihat jelas bahwa ia memikirkan semuanya dengan detail—dari suhu teh hingga posisi duduk Yuri agar tidak terkena angin langsung.
Sementara itu, Zivana menatap soal-soal di buku latihan mereka dan menghela napas keras. "Kalau ujian teori sihir level menengah ini ada bagian esainya lagi, aku mundur teratur," gumamnya.
"Jangan dramatis, Vi. Kita bisa belajar pelan-pelan. Kan bareng-bareng juga," kata Yuri, mencoba menenangkan.
Zivana mencibir. "Kalau bukan karena kamu, aku udah nyerah. Tapi ya udah deh, lanjut."
Baru saja Yuri hendak membuka halaman baru, langkah kaki cepat terdengar dari arah jalan setapak. "Yoooo! Belajar tanpa aku? Gak sopan banget," teriak suara yang sudah sangat familiar. Rey muncul dengan buku tebal di tangan dan raut wajah semangat yang entah tulus atau pura-pura.
"Aduh..." Zivana langsung melempar pandangan pasrah ke langit. "Kenapa dia..."
Rey menjatuhkan diri dengan anggun berlebihan di sebelah Yuri, membuat daun-daun berjatuhan. "Kalau kamu kesulitan fokus, Yuri... aku bersedia jadi tempat kamu bersandar."
Yuri mengangkat alis. "Bukannya kamu sendiri yang selalu tertidur waktu belajar kelompok?"
"Karena aku bermimpi tentangmu," balas Rey sambil mengedipkan sebelah matanya.
Zivana mendengus keras. "Astaga, Rey. Bisa gak satu kalimat aja tanpa gombal?"
Ken hanya diam, meskipun matanya sedikit menyipit saat melihat Rey duduk terlalu dekat dengan Yuri. Ia mengalihkan pandangannya, lalu dengan tenang membetulkan posisi buku Yuri yang miring. "Halaman sebelas, Yuri. Tadi kamu lompat ke dua belas."
Yuri mengangguk dan tersenyum. "Makasih, Ken."
Beberapa menit kemudian, dua suara lain bergabung.
"Apa-apaan nih? Belajar ramai-ramai gak ajak-ajak?" Aoi muncul bersama Alex, masing-masing membawa buku dan camilan dari kantin.
"Aku cuma ikut Aoi. Katanya dia bosan belajar di kamar," kata Alex dengan nada datarnya, lalu duduk di sebelah Ken.
Aoi menempatkan diri di antara Rey dan Zivana, membuka bukunya, lalu menepuk-nepuk pipinya sendiri. "Oke, otak! Kita harus kerja sekarang!"
"Kalau belajar itu kayak sihir, kamu pasti sudah bikin buku itu bicara sendiri," ejek Zivana.
"Bisa sih, tapi tuan Hilbert bakal marah besar," jawab Aoi dengan terkekeh.
Dan begitu, mereka berenam pun memulai sesi belajar yang tidak bisa dibilang serius-serius amat, tapi juga tidak sepenuhnya kacau. Sesekali ada pertanyaan soal teori sihir level menengah, tentang interaksi antara elemen dan batas sihir jarak jauh. Alex menjawab dengan tenang, kadang membetulkan jawaban Yuri dengan nada kalem yang khas. Aoi menjelaskan sambil menggambar diagram acak di tanah. Rey sesekali mengalihkan fokus ke hal-hal tidak penting seperti bentuk rambut Yuri yang katanya "terlalu memesona untuk konsentrasi."
Ken tetap tenang, membantu mencari halaman yang diperlukan, memastikan semua kebagian makanan ringan, bahkan dengan cekatan menangkap kertas soal yang tertiup angin. Dia tidak berkata apa-apa tentang Rey, tapi beberapa kali ia menatap lelaki itu dengan tatapan datar saat Rey terlalu dekat dengan Yuri.
"Eh, Rey, geser dikit. Kamu bikin bayangan di bukuku," protes Yuri sambil menyodok bahu Rey pelan.
Rey menghela napas dramatis. "Dunia ini terlalu sempit untuk menampung perasaan ini, tapi baiklah."
Zivana menggeleng keras. "Aku yang sempit sabarnya."
Sore makin merambat menuju senja. Langit berubah jingga keemasan, cahaya matahari menyaring lewat daun-daun, menciptakan bayangan yang menari di halaman buku mereka. Suasana menjadi hangat, tidak hanya karena suhu, tapi karena kehadiran mereka satu sama lain.
Yuri berhenti menulis sejenak, memandang teman-temannya satu per satu. Zivana yang menguap lebar, Aoi yang melilit rambutnya sendiri sambil berpikir, Alex yang menjawab pelan dengan mata setengah terpejam, Rey yang entah sedang serius atau pura-pura serius, dan Ken yang duduk tenang dengan ekspresi lembut.
Ia menyadari... meski rasa sakit dari hari itu belum sepenuhnya hilang, dan liontin ungu violet itu masih tersimpan di laci meja asramanya, dunia tidak sepenuhnya runtuh. Masih ada hal-hal kecil yang layak dijaga—suara tawa mereka, gesekan dedaunan, dan ketenangan sore yang sederhana.
"Kenapa bengong, Yuri?" tanya Ken pelan.
Yuri tersenyum, lalu menggeleng. "Nggak. Cuma... bersyukur aja."
Ken menatap Yuri beberapa detik, lalu menunduk. "Aku juga."
Saat bel magis berdentang dari menara tengah, tanda waktu makan malam hampir tiba, mereka pun mulai merapikan buku dan camilan. Zivana berdiri dan meregangkan tubuh. "Besok kita lanjut lagi, kan?"
"Jelas," kata Aoi sambil mengangkat tangan. "Kalau enggak, aku pasti ngulang."
Rey menoleh pada Yuri dan berseru, "Kalau kamu butuh tutor pribadi malam ini, aku bersedia. Gratis, dengan bonus senyuman."
Yuri hanya menatap datar. "Tawaranmu makin aneh tiap hari."
"Tapi tetap tulus," jawab Rey cepat.
Ken berjalan di belakang Yuri, membawakan bukunya tanpa diminta. "Ayo, Yuri. Aku bantu bawa ke asrama."
"Aku bisa bawa sendiri, loh," kata Yuri sambil tersenyum kecil.
Ken tidak menjawab, hanya melangkah pelan bersama yang lain.
Langit mulai berubah menjadi ungu pucat, dan di sela udara yang mulai dingin, mereka kembali ke asrama dengan langkah ringan dan hati yang perlahan membaik. Tak ada sihir besar hari itu, tak ada duel, tak ada misteri. Tapi di bawah pohon, di sore itu, mereka menemukan sesuatu yang sama pentingnya—kebersamaan yang menyembuhkan.
To Be Continued. . .
______________________
YOU ARE READING
School Of Magic [OC]
SonstigesSejak kecil, Yuri sudah tahu satu hal: di School of Magic, tidak ada yang benar-benar aman. Di balik tembok kastil megah dan teknologi sihir canggih, para murid dilatih bukan hanya untuk menjadi penyihir terbaik-tapi juga untuk menjalankan misi-misi...
![School Of Magic [OC]](https://img.wattpad.com/cover/372260106-64-k958533.jpg)