Happy Reading. . .
___________________
.
.
.
Hari itu pun mereka habiskan dengan mempersiapkan perlengkapan. Aoi dan Ken bertugas menyiapkan logistik makanan, Alex memeriksa alat-alat sihir penerangan dan perlindungan, sementara Rey dan Zivana sibuk dengan alat masak dan permainan untuk mengisi waktu di danau.
Yuri hanya membantu seperlunya, tapi diam-diam ia memperhatikan semuanya dengan saksama. Meskipun terlihat santai, ia tetap waspada. Bukan karena mencurigai sesuatu, tapi karena ia tahu, ketenangan seperti ini jarang bertahan lama.
Namun untuk saat ini, ia memilih membiarkan dirinya larut dalam keceriaan sederhana bersama teman-temannya.
Keesokan paginya, mereka berkumpul di gerbang akademi dengan perlengkapan masing-masing. Cuaca cerah, langit biru tanpa awan.
"Oke, semua siap?" seru Zivana sambil memeriksa daftar barang.
"Siap!" jawab Rey dan Aoi bersamaan.
"Jangan lupa alat masaknya, Rey," ingat Ken.
Rey mengangkat panci kecilnya dengan bangga. "Siap chef!"
Perjalanan ke danau memakan waktu sekitar dua jam berjalan kaki melewati hutan ringan. Selama perjalanan, mereka bercanda, memetik bunga liar, dan sesekali berhenti untuk istirahat. Yuri berjalan di belakang, menikmati pemandangan tanpa banyak bicara, tapi matanya tetap awas mengamati sekitar.
Saat mereka tiba di tepi danau, suasananya tenang dan damai. Air danau berkilauan diterpa cahaya matahari pagi, dan angin sepoi-sepoi meniup rerumputan yang tumbuh liar di sekitarnya.
"Wah, tempatnya cakep banget!" seru Aoi sambil melebarkan tangannya.
"Ini sih pas buat camping," tambah Alex sambil meletakkan tasnya.
Mereka mulai mendirikan tenda, menyalakan api unggun kecil, dan menata perlengkapan masak. Suasana ramai tapi menyenangkan.
Siang harinya, Rey dan Zivana mulai masak dengan bahan seadanya.
"Oke, chef Rey akan memasak hidangan spesial: omelet keju sihir!" seru Rey sambil memutar spatula-nya.
Yuri hanya duduk di dekat danau sambil memperhatikan air yang tenang. Sesekali ia menoleh ke arah teman-temannya yang sibuk bercanda.
"Yur, sini cobain!" panggil Zivana sambil menyodorkan piring.
Yuri mendekat perlahan dan mencicipi. "...Bisa dimakan."
Rey pura-pura tersungkur. "Komentar kamu selalu ngena di hati aku, Yur."
Tawa pun pecah lagi. Liburan ini terasa sederhana, namun hangat.
Malam harinya, mereka duduk melingkar di sekitar api unggun. Aoi mulai memainkan alat musik kecilnya, sementara Rey bercerita tentang kisah-kisah konyol yang entah nyata atau fiksi.
Yuri, yang biasanya diam, tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, ia merasa benar-benar santai.
Angin malam berhembus lembut melewati pepohonan, menyisakan suasana tenang tanpa gangguan apapun.
Zivana tiba-tiba menoleh ke teman-temannya sambil tersenyum lebar. "Eh, besok kalian kemana? Kalo nggak kemana-mana, kita pergi ke kota Aramanda yuk. Katanya lagi banyak festival makanan di sana."
--- >><< ---
Pagi itu, udara di gerbang akademi masih terasa segar ketika rombongan kecil itu berkumpul. Tas-tas besar dan perlengkapan sudah siap, kali ini bukan untuk piknik singkat, tapi perjalanan menuju salah satu kota paling terkenal di seluruh negeri—Aramanda.
YOU ARE READING
School Of Magic [OC]
RandomSejak kecil, Yuri sudah tahu satu hal: di School of Magic, tidak ada yang benar-benar aman. Di balik tembok kastil megah dan teknologi sihir canggih, para murid dilatih bukan hanya untuk menjadi penyihir terbaik-tapi juga untuk menjalankan misi-misi...
![School Of Magic [OC]](https://img.wattpad.com/cover/372260106-64-k958533.jpg)