Happy Reading...
________________
.
.
.
Hujan gerimis turun sejak subuh, membasahi halaman batu Akademi. Kabut lembut menggantung di udara, membuat segala sesuatu tampak seperti lukisan air yang belum selesai. Suasana sekolah berubah total sejak pengumuman ujian akhir—semua murid tahun pertama tahu, hari ini bukan sekadar ujian tertulis biasa.
Ini adalah Ujian Arka.
"Yuri, kamu beneran nggak apa-apa?" suara Aoi terdengar dari balik uap teh panas yang mengepul dari cangkirnya. Mereka sedang duduk di kantin pagi itu, meja langganan mereka di sudut dekat jendela seperti biasa. Tapi tak ada tawa kali ini. Hanya tatapan gugup, napas tertahan, dan suara hujan yang lembut.
"Aku cuma... agak tegang," kata Yuri jujur. Ia menggenggam cangkirnya dengan dua tangan, mencoba menghangatkan jari-jarinya yang dingin.
Rey mencoba mencairkan suasana. "Eh, ini ujian aja kok. Bukan duel hidup dan mati."
"Katanya, ada yang pingsan tahun lalu gara-gara ujiannya terlalu... personal," gumam Ken sambil memandangi jendela.
"Terima kasih, Ken," kata Zivana datar. "Tambah semangat banget sekarang."
Yuri diam. Ia sudah mendengar desas-desus itu. Ujian Arka bukan sekadar tes kemampuan sihir, tapi juga ujian batin. Setiap siswa akan masuk ke ruang ilusi—Ruang Arka—yang akan memproyeksikan ketakutan, kenangan, atau sisi terdalam diri mereka. Dan mereka harus menghadapinya sendirian.
Saat nama-nama mulai dipanggil di aula utama, suasana semakin mencekam.
"Zivana Lyora La Rubyjane ."
Zivana menegakkan bahu. "Doain semoga aku gak ketemu mantan." Ia melenggang pergi, tapi semua tahu itu hanya tameng dari kegelisahannya.
Satu demi satu, teman-temannya dipanggil. Aoi. Alex. Rey. Ken.
Yuri duduk sendirian, tangan di pangkuan, napas pendek. Ia mencoba mengingat semua mantra, formasi sihir, teori elemen. Tapi semuanya terasa seperti kabur, tenggelam di balik kecemasan yang tak bisa ia redam.
"Yuri Alexander."
Langkahnya terasa berat saat ia maju. Aula utama kini sunyi. Di tengah ruangan berdiri gerbang batu besar dengan ukiran rune kuno. Profesor Nyx, kepala divisi sihir tinggi, berdiri di sampingnya dengan ekspresi tak terbaca.
"Ujianmu akan dimulai saat kau melangkah ke dalam," katanya. "Jangan lawan ilusi. Dengarkan. Pahami. Lalu lewati."
Yuri mengangguk pelan, lalu melangkah masuk.
Gelap.
Sunyi.
Kemudian...
Cahaya biru lembut menyala dari bawah kakinya. Ia berdiri di dalam hutan asing, dipenuhi kabut ungu yang berputar perlahan. Dedaunan berdesir, tapi tak ada angin. Udara terasa berat.
Langkah terdengar dari arah berlawanan.
Seseorang muncul dari balik kabut—seorang gadis.
Yuri membeku.
Gadis itu adalah dirinya sendiri. Tapi berbeda. Rambutnya terikat rapi, matanya merah menyala, dan auranya dingin seperti batu malam.
"Kau pikir mereka benar-benar menerimamu?" Suara gadis itu sama dengan suaranya—tapi lebih dingin. Lebih pahit.
"Mereka tertawa bersamamu. Tapi kalau mereka tahu apa yang kau sembunyikan... mereka akan pergi."
"Diam," gumam Yuri. Ia mundur satu langkah, tapi bayangan dirinya maju dua langkah.
"Kau tahu apa yang terjadi di antara kedua orang tuamu. Dan kau diam saja. Karena kau takut."
"Cukup!"
"Dan sekarang, kau berpura-pura jadi anak biasa. Murid biasa. Teman biasa. Tapi kau bukan mereka. Kau... bukan siapa-siapa."
Sihir menyala di tangan bayangan itu—warna merah gelap, berdenyut seperti nadi. Yuri mengangkat tongkatnya, keringat dingin mengalir di pelipis.
"Tunjukkan padaku siapa dirimu sebenarnya!"
Bayangan itu menyerang lebih dulu. Ledakan energi menghantam tanah, membuat pohon-pohon ilusi bergoyang dan tanah retak. Yuri melompat ke samping, mantranya terlontar spontan: "Vira Aegis!"
Sebuah perisai terbentuk, tapi retak saat terkena serangan kedua. Yuri jatuh berlutut. Nafasnya tersengal. Sakit di bahunya mulai terasa, luka bakar dari sihir tadi meninggalkan bekas merah.
"Kau bahkan tak bisa melindungi diri sendiri."
Tapi justru saat itu, sesuatu dalam diri Yuri tergerak.
Ia menutup mata.
Bayangan itu adalah bagian dari dirinya. Semua ketakutan. Semua rasa bersalah. Semua rahasia. Ia bisa melawannya seumur hidup, atau...
Yuri berdiri. Ia tidak mengangkat tongkat. Ia menatap lurus ke arah bayangan itu.
"Aku memang takut," katanya. "Aku pernah kehilangan. Aku pernah gagal. Aku bukan yang terkuat, bukan yang paling pintar. Tapi aku... terus berjalan."
Bayangan itu berhenti. Sihirnya meredup perlahan.
"Aku gak tahu apakah aku pantas diterima. Tapi teman-temanku ada karena mereka mau tetap tinggal, walaupun aku belum bisa terbuka sepenuhnya."
Cahaya mulai menyelimuti tubuh bayangan itu.
Yuri menatapnya penuh tekad.
"Dan aku janji. Aku akan jadi lebih kuat. Bukan untuk sempurna. Tapi untuk melindungi mereka."
Bayangan itu tersenyum samar—senyum yang menyakitkan, tapi juga penuh kedamaian. Kemudian ia lenyap, seperti kabut yang diterpa cahaya pagi.
Saat Yuri melangkah keluar dari Ruang Arka, udara dingin pagi langsung menyambutnya. Cahaya matahari sudah menembus awan. Di luar, teman-temannya menunggu.
"Yuri!" seru Zivana, langsung berlari ke arahnya. "Kamu... ya Tuhan, kamu pucat banget!"
Ken langsung menyodorkan air tanpa banyak bicara. Rey menepuk punggungnya pelan.
"Aku kira kamu bakal keluar sambil bawa monster dari dimensi lain atau semacamnya," kata Rey. "Tapi ternyata kamu... Yuri yang biasa."
Yuri tersenyum kecil. "Aku ketemu seseorang."
"Siapa?" tanya Aoi, penasaran.
"Diriku sendiri," jawab Yuri pelan. "Yang nggak selalu kuat. Tapi... aku rasa sekarang aku sedikit lebih ngerti cara berdamai."
Teman-temannya terdiam sesaat. Lalu Zivana merangkul bahunya.
"Yuri versi mana pun, kita tetap temenan."
Alex menambahkan, "Tapi kalau kamu bisa nyalain api dari ujung jari tanpa bikin ruang kelas kebakar, itu bonus."
Mereka tertawa bersama. Tidak seperti sebelumnya, kali ini tawa Yuri terasa lebih ringan. Bukan karena semuanya baik-baik saja—tapi karena untuk pertama kalinya, ia tak merasa sendirian menghadapi bayangannya.
Dan entah kenapa... ia merasa bahwa ujian hari ini, hanyalah permulaan.
To Be Continued. . .
__________________
Author note : Haiii!! Kalian gimana kabarnya? Haaahh... sekarang udah mulai ujian, jadi aku bakal lebih jarang lagi up nya, haha. Yang lagi ujian juga semangat yaaa.
YOU ARE READING
School Of Magic [OC]
RandomSejak kecil, Yuri sudah tahu satu hal: di School of Magic, tidak ada yang benar-benar aman. Di balik tembok kastil megah dan teknologi sihir canggih, para murid dilatih bukan hanya untuk menjadi penyihir terbaik-tapi juga untuk menjalankan misi-misi...
![School Of Magic [OC]](https://img.wattpad.com/cover/372260106-64-k958533.jpg)