#Chapter 22 : Bayangan di arena.

5 0 0
                                        

Happy Reading. . . 

___________________

.

.

.

Langit pagi itu sedikit mendung, seolah tahu bahwa hari ini bukan hari yang biasa. Lapangan latihan Akademi Sihir telah diubah total. Rerumputan dilapisi medan sihir pelindung, tribun-tribun sementara didirikan di sekeliling arena. Di tengah, lingkaran besar bercahaya tampak mengambang di atas tanah—tanda batas duel yang telah diperkuat oleh lima penyihir senior. Ini bukan latihan biasa. Ini hari ujian.

Yuri berdiri bersama barisan murid lainnya, seragamnya rapi, rambut hitamnya terikat separuh ke belakang. Matanya menatap lurus ke depan, meski telapak tangannya sedikit berkeringat. Ia bukan murid yang mencolok, dan biasanya orang tak memperhatikannya terlalu lama. Tapi hari ini, setiap mata akan menatap siapa pun yang naik ke arena. Termasuk dirinya.

"Pertarungan ini akan dilakukan satu lawan satu, sesuai undian yang telah ditentukan sebelumnya," suara Profesor Aldric menggema di seluruh lapangan, diperkuat oleh mantra suara. "Gunakan semua kemampuan kalian, tetapi ingat batasannya. Dilarang menyerang titik vital. Tim pengawas akan siap menghentikan pertarungan bila perlu."

Desas-desus mulai terdengar dari barisan murid. Beberapa sibuk menebak siapa melawan siapa, yang lain sekadar bergumam menahan gugup. Yuri mendengar gumaman Aoi di belakangnya.

"Kalau aku dapet lawan kayak si Markus dari kelas C, mending langsung nyerah deh," bisik Aoi. Alex yang berdiri di sebelahnya hanya mengangkat bahu.

Tak lama kemudian, nama-nama mulai disebut satu per satu. Yuri menanti tanpa ekspresi, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.

"Yuri Alexander... akan melawan... Reymond Pratama De Zaxnoa."

Yuri mengangkat alis pelan.

"Eh?" gumamnya.

Dan dari seberang barisan, Rey—dengan rambut cokelat acak-acakan khasnya, sepasang telinga serigala mencuat di atas kepala, bergoyang pelan mengikuti arah angin—mengangkat tangan santai. Senyum menyebalkan sudah terpampang di wajahnya, taring tajam sedikit terlihat saat ia menyeringai. "Wah, kita jodoh ya, Yuri. Di atas arena, maksudnya."

Yuri menarik napas pelan. "Guru yang nentuin ini... suka humor gelap kayaknya."

Beberapa menit kemudian, keduanya berdiri saling berhadapan di dalam lingkaran cahaya. Penonton sudah berkumpul. Teman-teman satu angkatan menyemangati dengan sorakan kecil. Tapi suasana tetap terasa serius. Sihir penghalang diaktifkan, menyelubungi arena dengan kilauan lembut berwarna biru.

Rey menarik napas panjang dan mengangkat tongkatnya. "Yur, aku kasih tahu dari awal ya. Kalau aku kalah hari ini, alasannya cuma satu."

Yuri menyiapkan posisi kuda-kuda, tapi tetap melirik.

"Aku kalah karena terlalu sibuk menatap kamu, bukan nahan serangan."

Yuri menatapnya datar. "Makanya, jangan berdiri di jalur seranganku."

Beberapa murid yang mendengar langsung tertawa kecil. Rey memukul dadanya dramatis. "Aduh, itu tadi... langsung ke jantung, tapi bukan karena sihir."

Sebelum mereka bisa saling balas lagi, Profesor Aldric mengangkat tangan.

"Mulai."

Tanpa aba-aba lebih lanjut, aura keduanya langsung menyala.

Yuri bergerak duluan—sebuah keputusan yang mengejutkan beberapa murid. Ia bukan tipe penyerang. Tapi saat ini, ia tidak bisa membiarkan Rey mengontrol ritme. Dengan satu gerakan tangan, ia membentuk tombak es dan melemparkannya cepat ke arah Rey.

School Of Magic [OC]Stories to obsess over. Discover now