#Chapter 18 : Di tengah hingar bingar sekolah.

6 0 0
                                        

Happy Reading. . .
_____________________
.

.

.

Langit siang membentang luas di atas menara-menara megah Akademi, menyiratkan ketenangan yang bertolak belakang dengan hiruk-pikuk di halaman tengah sekolah. Para murid berseliweran dengan buku di tangan, sebagian memanfaatkan waktu istirahat untuk makan siang, sebagian lagi hanya ingin duduk santai di bawah pohon raksasa yang tumbuh di tengah taman utama akademi.

Yuri duduk di bawah pohon itu, di meja kayu panjang yang sudah mulai akrab baginya. Di sisi kanan, Ken sibuk membuka buku tebal bertuliskan "Teori Sirkulasi Mana Lanjutan". Di seberangnya, Zivana sedang mengunyah roti isi sambil menatap halaman yang sama untuk kelima kalinya.

"Ujian minggu depan ya?" gumam Zivana sambil menyandarkan kepala ke meja. "Kenapa harus ada ujian setelah misi hampir bikin kita mati?"

Yuri tertawa kecil. "Supaya kita sadar kita masih hidup," balasnya ringan.

Ken menoleh, memperhatikan ekspresi Yuri yang tampak lebih cerah dibandingkan beberapa hari lalu. Memar di pelipisnya sudah memudar, dan senyum tipis itu—meski masih menyimpan sesuatu di baliknya—telah kembali.

"Aku lebih suka latihan praktikum daripada harus baca teori begini," kata Ken pelan.

"Padahal kamu jago soal teori," komentar Yuri sambil menyender ke bangku.

"Kalau sama kamu, iya," bisik Ken, tapi langsung batuk pura-pura saat Zivana menatapnya curiga.

Tak lama, suara langkah tergesa disertai tawa khas menyapa dari arah barat taman.

"Oi! Kalian duduk-duduk enak banget!" seru Rey, membawa sekotak kue dan senyum lebarnya.

Di belakangnya, Aoi tampak menyeret Alex yang ekspresinya pasrah karena baru saja keluar dari kelas yang katanya "sangat membosankan".

"Lho, kok kalian bisa keluar bareng?" tanya Zivana sambil mengangkat alis.

"Guru kami kasih kami waktu istirahat tambahan karena tadi paginya kelasnya 'gagal total'," jelas Aoi dengan nada geli.

"Rey meledakkan meja praktik lagi?" tebak Yuri.

"Mana mungkin! Kali ini bukan aku!" bela Rey cepat, lalu menunjuk Aoi. "Dia yang salah hitung rasio elemen!"

"Setidaknya aku enggak ngibulin profesor buat bolos!" sergah Aoi cepat.

Alex hanya duduk dengan lelah. "Aku nyerah. Dengerin kalian berdua debat rasanya kayak kena mantra tidur."

Akhirnya mereka semua duduk mengelilingi meja. Kotak kue Rey dibuka, isinya kue mentega buatan toko favorit di ujung utara akademi.

"Untuk menyambut reuni kecil kita," katanya dramatis sambil menyodorkan kue ke Yuri. "Sang penyelamat kelompok, gadis bermata rubi yang memesona."

"Ugh, mulai lagi," gumam Aoi sambil memutar bola matanya.

"Rey..." Zivana memberi tatapan maut.

Yuri hanya tertawa kecil dan mengambil kue itu. "Makasih. Aku butuh gula."

Ken, di sisi lain, hanya menatap sekilas pada kue di tangan Yuri. Ia bangkit dan pergi sebentar, lalu kembali dengan secangkir teh hangat dari kedai sebelah aula.

"Ini, buat temen ku yang habis makan manis-manis," katanya tenang sambil menyodorkan cangkir itu ke Yuri.

Yuri menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Kamu inget banget ya aku enggak suka aftertaste-nya kue mentega."

Ken hanya mengangguk pelan, tanpa berkata apa-apa. Rey yang melihat adegan itu langsung menahan tawa dan membisik pada Aoi.

"Gawat, sainganku kuat juga."

"Ya ampun Rey, kamu saingan sama Ken? Kamu kalah dari awal," kata Aoi sambil menyuap sepotong kue.

Obrolan mereka makin ramai. Topik beralih dari ujian, makanan kantin, gosip antar kelas, sampai rumor kalau ada guru baru dari kerajaan timur yang konon bisa membaca pikiran.

"Kalau rumor itu bener, habis sudah nilai kita," keluh Alex.

"Aku sih enggak masalah," kata Rey dengan percaya diri. "Isi pikiranku penuh hal positif."

"Seperti gombalan ke Yuri setiap dua menit?" ejek Zivana.

"Persis."

Tawa mereka menggema ringan di antara semilir angin siang. Sinar matahari menembus celah dedaunan pohon raksasa, membentuk bayangan berpola di atas meja.

Di tengah kehangatan itu, Yuri memejamkan mata sebentar. Dalam ketenangan, ia mendengar suara tawa temannya, rasa manis teh hangat di lidahnya, dan tiupan angin yang lembut menyentuh wajahnya. Hati yang sempat terbebani perlahan terasa ringan. Ini... rumah. Meskipun luka dan ingatan dari misi di desa itu belum benar-benar hilang, tapi setidaknya hari ini, semuanya terasa baik-baik saja.

Saat Yuri membuka mata, ia menatap mereka satu per satu—Ken yang menatapnya penuh perhatian, Zivana yang menggoda Rey, Alex yang mulai ketiduran sambil duduk, Aoi yang menertawakan semuanya, dan Rey yang entah kenapa bisa terus bersikap ceria bahkan setelah apa yang mereka alami.

"Aku bersyukur bisa bareng kalian," gumamnya pelan.

"Apa tadi kamu bilang, Yuri?" tanya Rey, mencondongkan tubuhnya.

"Bukan buat kamu," jawab Yuri cepat.

Zivana cekikikan. "Salah sendiri, Rey. Emang dunia ini bukan drama romantis buat kamu jadi pemeran utama."

"Siapa bilang? Aku yakin banget ini kisah tentang aku," balas Rey sambil meletakkan tangan di dada.

Alex yang setengah tidur pun membuka mata dan berkata, "Kalau ini cerita tentang kamu, aku pengen pindah sekolah."

"Jahat!" Rey pura-pura terisak.

Tawa mereka pun meledak lagi. Meski sekolah ini keras, penuh rahasia, dan dunia di luar sana lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan, tapi di saat-saat seperti ini semuanya terasa lebih ringan.

Dan untuk Yuri, yang beberapa hari lalu berdiri di antara api, debu, dan pengkhianatan... meja ini, tawa ini, dan kebersamaan ini adalah pengingat bahwa dia masih punya tempat untuk pulang.

To Be Continued. . .

---------------------------

School Of Magic [OC]Stories to obsess over. Discover now