Happy Reading . . .
_________________
.
.
.
Setelah meninggalkan area praktik sihir, Yuri dan dua temannya berjalan kembali ke gedung utama. Bel sore sudah lama berbunyi, dan murid-murid mulai berhamburan ke asrama atau tempat favorit mereka untuk melepas lelah. Yuri sendiri tidak ingin langsung pulang ke kamarnya.
Begitu mereka turun dari tangga batu yang menghubungkan halaman belakang ke sisi barat gedung utama, suara familiar memanggil dari kejauhan.
"Yuriii!" Rey melambaikan tangan seperti hendak menerbangkan diri. Di belakangnya menyusul Alex yang membawa dua botol jus dan Aoi yang tampak setengah menguap, seperti baru bangun tidur.
Zivana langsung komentar, "Lho, kalian beneran nyusulin ke sini?"
"Yah," Aoi mengangkat bahu, "daripada ditinggal, mending ikut rame-rame, kan?"
Alex menyodorkan salah satu jus ke Yuri. "Kamu kayaknya kelihatan capek banget. Nih. Hadiah karena udah survive ujian tulis hari ini."
"Thanks," jawab Yuri pendek sambil menerimanya.
Rey mendekat dan berdiri sedikit lebih dekat dari seharusnya, matanya memicing jail. "Kamu tahu nggak, Yuri? Waktu aku ngerjain soal tadi, setiap kali mentok... aku langsung bayangin kamu."
Yuri menoleh dengan wajah datar. "Karena kamu yakin aku bisa kasih jawaban?"
Rey menyengir. "Bukan. Karena kalau aku bayangin kamu, jantungku deg-degan. Jadi aku tetap sadar."
Yuri menyesap jusnya pelan. "Efeknya kayak kopi ya. Bikin deg-degan, tapi bisa bikin mules juga."
Alex hampir tersedak mendengar jawaban itu. Aoi menahan tawa di balik lengan bajunya.
Rey meletakkan tangan di dada, pura-pura terluka. "Sakitnya tuh... di hati. Tapi aku bangga. Kamu makin tajam sekarang."
"Dia belajar dari kenyataan, Rey," sahut Zivana sambil nyengir. "Dari semua korban gombalan kamu."
Ken hanya tersenyum kecil, tidak ikut menggoda. Tapi matanya sebentar-sebentar melirik ke arah Yuri, seolah ingin memastikan ia baik-baik saja.
Setelah beberapa menit bercanda dan melepas lelah, Yuri akhirnya mengangkat topik yang lebih serius.
"Tadi, kami lihat sesuatu," ucapnya sambil menurunkan suaranya. Semua mata langsung memandangnya.
"Ronan," lanjut Yuri. "Dia lagi pakai alat bantu sihir di ruang praktik. Dan... ada orang asing yang datang menemuinya."
Aoi langsung serius. "Orang asing? Maksudmu, bukan guru?"
Ken mengangguk. "Bukan staf akademi juga. Pakaian dan caranya bicara... kayak orang dari luar."
Alex mencibir pelan. "Bisa jadi, mereka nyalurin informasi ke Ronan. Tapi buat apa? Cuma buat lulus ujian?"
"Mungkin bisa lebih dari itu," gumam Zivana. "Kalau alatnya bisa nerima info dari luar, bisa juga buat nyambung ke jaringan yang lebih besar."
"Organisasi bawah tanah?" bisik Aoi.
Rey bersandar ke pohon terdekat, wajahnya mendadak lebih serius dari biasanya. "Kalau ini beneran sebesar itu... kita harus hati-hati. Terutama kamu, Yuri."
"Yah, untuk sekarang," katanya, "kita nggak bilang siapa-siapa dulu. Kita kumpulkan bukti. Lihat sejauh mana ini berjalan."
Alex mengangguk. "Kita mainkan pelan-pelan."
YOU ARE READING
School Of Magic [OC]
AcakSejak kecil, Yuri sudah tahu satu hal: di School of Magic, tidak ada yang benar-benar aman. Di balik tembok kastil megah dan teknologi sihir canggih, para murid dilatih bukan hanya untuk menjadi penyihir terbaik-tapi juga untuk menjalankan misi-misi...
![School Of Magic [OC]](https://img.wattpad.com/cover/372260106-64-k958533.jpg)