#Chaper 19 : Meja paling ribut di kantin.

5 0 0
                                        

Happy Reading. . .

__________________

.

.

.

Suasana kantin hari itu seperti biasa—riuh, penuh suara obrolan, piring-piring beradu, dan aroma makanan yang menggoda selera. Murid-murid berkumpul di meja masing-masing, membicarakan pelajaran, gosip terbaru, atau sekadar tertawa atas hal remeh yang terjadi di kelas.

Di sudut dekat jendela yang menghadap taman belakang sekolah, sekelompok murid dari kelas berbeda berkumpul di satu meja panjang. Meja itu sudah jadi langganan bagi Yuri dan kawan-kawan—tempat aman untuk mengobrol bebas tanpa terlalu banyak didengar orang lain.

"Dagingnya lebih empuk dari kemarin," komentar Ken sambil memotong steak di piringnya dengan tenang. Ia duduk di samping Yuri, seperti biasa.

"Apa itu artinya kamu menyelidiki tekstur daging setiap hari?" tanya Aoi dengan alis terangkat.

Zivana yang duduk di seberang langsung tertawa, "Ken tuh emang gitu. Suatu hari dia pasti jadi kritikus makanan. Tapi bukan buat publik. Cuma buat Yuri."

Rey langsung menyambung, "Eh tapi jangan salah, aku juga bisa jadi kritikus makanan. Nih contohnya—" Dia menyodorkan sendok kecil ke Yuri. "Coba sup ini, aku mau tahu pendapat sang princess tentang racikan rasa cinta ini."

Yuri hanya memiringkan kepalanya sedikit sambil memandangi Rey. "Kalo kamu masaknya sambil ngomong 'racikan cinta', jujur aku malah takut nyoba."

Alex menyumpal mulutnya dengan roti sambil menahan tawa. "Dia udah makin parah dari kemarin," gumamnya pelan.

Rey menaruh sendoknya kembali dan pura-pura kecewa. "Kenapa hatimu dingin banget, Yuri? Padahal cintaku panas, kayak sup ini."

Zivana menunjuk Rey dengan garpu. "Panas bukan karena cinta, tapi karena kamu nyenggol panci pas masak terus sup-nya tumpah."

Seluruh meja meledak dalam tawa. Aoi menutup mulut dengan tangan sambil menggeleng. "Meja kita tuh... berisik banget. Tapi menyenangkan."

"Karena kamu belum denger versi kita kalau udah mulai debat soal jawaban ujian," kata Zivana, dengan nada dramatis. "Waktu itu, Rey bilang jawaban soal alkimia adalah 'cinta sejati'. Aku langsung lempar buku ke mukanya."

"Aduh, jangan diungkit lagi!" Rey mengangkat tangan. "Itu eksperimen sosial. Buat ngukur toleransi kalian terhadap kreativitas jawaban."

Yuri menyuap nasi ke mulutnya sambil senyum kecil. Tawa dan gurauan ini adalah hal yang ia butuhkan setelah minggu-minggu yang berat. Meski pikirannya kadang masih terlintas ke masa lalu, kini ia perlahan merasa bisa bernapas lebih lega.

Ken diam-diam memperhatikan Yuri. Wajahnya tenang, tapi matanya hangat. Ia tak pernah ikut menggoda seperti Rey, tapi selalu ada. Misalnya, sekarang—tanpa banyak bicara, ia menuangkan air ke gelas Yuri yang mulai kosong. Tanpa disuruh, tanpa diminta.

Zivana yang duduk di seberang langsung menatap Ken dan bersuara pelan, tapi cukup terdengar, "Lembut banget si Ken ini ya. Tapi bahaya sih. Tipe yang diem-diem jatuh cinta trus nyimpen sendiri."

Alex melirik ke Zivana. "Kamu ngomong gitu karena pengalaman pribadi?"

Zivana menjulurkan lidah ke arah Alex. "Rahasia negara."

Suasana di meja itu makin ramai. Mereka membicarakan soal ujian minggu depan, gosip tentang murid yang katanya ketahuan nyelinap keluar malam-malam, dan bahkan bahas rumor baru tentang lab bawah tanah yang katanya disegel puluhan tahun lalu.

"Eh, kalian denger gak sih soal desa yang kita bantu kemarin?" tanya Aoi, nada suaranya sedikit menurun.

Yuri menoleh cepat. "Kenapa emangnya?"

"Ada desas-desus katanya desa itu dulunya markas... organisasi bawah tanah yang pengen jatuhin kekaisaran. Tapi nggak tahu bener atau nggak," ujar Aoi hati-hati.

Semua terdiam sesaat. Rey yang biasanya paling ribut pun tampak berpikir.

Zivana mengangkat bahu. "Selama yang bawah tanah itu gak muncul dari bawah meja kita, aku sih santai aja."

"Ya, tapi hati-hati juga. Kalau desanya punya sejarah kayak gitu, bukan gak mungkin bakal ada kelanjutannya," gumam Ken, matanya serius.

Yuri menggenggam sendoknya sedikit lebih erat. Ia tahu lebih banyak dari mereka, tapi belum siap membicarakannya. Belum sekarang.

Rey tampak memperhatikan perubahan ekspresi Yuri, lalu segera kembali ceria. "Udah ah, jangan bahas yang serem. Mending kita fokus belajar buat ujian. Kalo nilai kita bagus, mungkin kita bisa dapet liburan ekstra dari profesor!"

"Ya kali, Rey. Dapet nilai bagus aja udah kayak nyari jarum di tumpukan rumput sihir," celetuk Zivana sambil nyengir.

Alex menepuk dahi. "Itu istilah apaan..."

Mereka kembali tertawa. Tak ada yang memperhatikan bahwa Yuri sempat terdiam sedikit lebih lama dari biasanya. Tapi saat ia menatap teman-temannya lagi—Zivana yang tertawa keras, Rey yang pura-pura merajuk, Ken yang diam tapi selalu ada, Aoi dan Alex yang seperti kakak beradik—ia merasa hangat. Aman. Tidak sendirian.

Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.

To Be continued. . .

--------------------------

School Of Magic [OC]Stories to obsess over. Discover now