Happy Reading...
------------------------
.
.
.
"Kyaaa! Tolongg!!"
Suara teriakan meminta tolong terdengar dari pemukiman di arah timur. Sontak, mereka yang mendengarnya langsung mencari asal suara tersebut.
"Ada apa?" tanya Ken, sepertinya ia tak mendengar suara teriakan meminta tolong karena di sekitarnya terdengar riuh suara kembang api.
"Aku mendengar suara minta tolong," jelas Alex, sambil menunjuk ke arah sumber suara. "Dari sana." Ken langsung memberi isyarat untuk mendekati sumber suara itu, dan yang lainnya mengikuti. Begitu mereka semakin mendekat, cahaya api mulai terlihat dari kejauhan, mendorong mereka untuk mempercepat langkah.
Mereka terkejut melihat pemandangan di depan mereka: rumah-rumah terbakar. Dengan sigap, mereka langsung bergerak untuk memadamkan api. Ken menyuruh Yuri dan Zivana untuk memberi tahu warga tentang kebakaran tersebut, sementara Aoi dan Alex berusaha memadamkan api dengan sihir mereka. Ken dan Rey fokus mengevakuasi warga.
Zivana menggunakan sihir teleportasinya bersama Yuri untuk memberi tahu warga yang berkumpul di alun-alun desa. Begitu sampai, mereka melihat banyak kunang-kunang beterbangan di sana sini. Sementara Zivana memberitahu kepala desa dan warga tentang situasi yang mereka temui, Yuri memperhatikan kunang-kunang itu dengan seksama, bahkan menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas.
Saat ia hendak menghampiri Zivana, tiba-tiba sebuah ledakan terdengar di belakangnya, membuat orang-orang terkejut dan panik melihat ledakan itu serta api yang mulai melahap beberapa rumah.
Penduduk semakin panik setelah ledakan tersebut. Kepala desa mulai memerintahkan warga untuk evacuasi ke tempat yang aman, sementara para murid turut membantu memadamkan api dan mengevakuasi warga. Zivana dan Yuri juga ikut serta. Namun, ledakan demi ledakan mulai bermunculan mengelilingi desa. Lilith, yang kebetulan berada dekat Yuri untuk membantu memadamkan api, mulai kewalahan melihat banyaknya rumah yang terbakar. "APA INI?! KENAPA API-NYA TIDAK PADAM-PADAM?!" teriaknya kesal. Namun, saat sebuah kunang-kunang hinggap di bahunya, ia menepisnya dengan kasar karena jengkel.
Begitu ia menepis kunang-kunang itu, sebuah ledakan muncul dari kunang-kunang tersebut. Lilith dan Yuri yang berada di dekatnya langsung terpental karena terkena ledakan yang cukup kuat.
"Apa-apaan itu?!" kata Lilith kesal, sambil mengusap darah yang mengalir dari kepalanya. "Kau baik-baik saja?" tanyanya pada Yuri.
Yuri hanya menatapnya, seolah mengatakan 'Apa kau tidak melihat aku sudah berlumuran darah?' Lilith terkekeh dan segera berdiri dari tempatnya.
"Ada yang tidak beres," kata Lilith sambil merapikan bajunya. "Kunang-kunang..." gumam Yuri pelan, tetap diam di tempatnya sambil memandang desa yang sudah setengah hangus oleh api.
"Apa? Kunang-kunang? Kunang-kunang-nya kenapa?" tanya Lilith heran. Yuri menunjuk kunang-kunang yang beterbangan ke sana kemari, lalu mengeluarkan sihir untuk membunuh salah satunya.
Ledakan kembali terjadi begitu Yuri membunuh kunang-kunang tersebut. Lilith memandang tak percaya. "Ba-Bagaimana bisa? Kunang-kunang itu meledak?"
Yuri akhirnya bangun dari tempatnya dan mulai merapikan bajunya. "Yuri! Kita harus ke tempat Ken sekarang! Mereka butuh kita, kau juga Lilith! Ayo ikut!" seru Zivana yang datang tergesa-gesa.
"A-Apa?! Bagaimana bisa—" Belum sempat Lilith menyelesaikan kalimatnya, Zivana sudah menarik tangannya, begitu pula Yuri, meninggalkan tempat itu.
Setibanya di tempat Ken, mereka melihat pemukiman di sana sudah terbakar parah. Namun, tidak ada bantuan yang datang ke tempat ini karena semua orang sibuk memadamkan api. Itu sebabnya mereka meminta Zivana untuk membawa mereka ke sini.
YOU ARE READING
School Of Magic [OC]
DiversosSejak kecil, Yuri sudah tahu satu hal: di School of Magic, tidak ada yang benar-benar aman. Di balik tembok kastil megah dan teknologi sihir canggih, para murid dilatih bukan hanya untuk menjadi penyihir terbaik-tapi juga untuk menjalankan misi-misi...
![School Of Magic [OC]](https://img.wattpad.com/cover/372260106-64-k958533.jpg)