(+17 Area!)
Awalnya hidup Kenan baik-baik saja, namun semuanya berubah ketika dia harus mengalami amnesia dan tinggal serumah dengan cewek manja serta maniak kutek berwarna-warni.
_______________________________________________
⚠Warning⚠
Harus siapi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Gue dan Lexy boleh nginep disini, kan? Nggak mungkin lo tega ngusir kami berdua tengah malam begini,"
Perkataan Lexa barusan membuat Kenan tersedak minumannya sendiri. Sebenarnya dia tidak masalah dan fine-fine saja jika kedua sepupunya menginap di rumahnya malam ini, tetapi ingat di kamarnya ada Gabby yang kini sedang tertidur nyenyak.
Lantas mereka berdua harus tidur dimana, huh?
Tubuh Kenan tiba-tiba menegang. Gawat. Dia takut jika kepergok ada seorang gadis di dalam kamarnya. Itu adalah masalah besar baginya. Tidak, dia tidak ingin hal tersebut terjadi.
Kemungkinan besar jika kedua sepupunya tahu pasti mereka berdua akan heboh sendiri, mengingat bahwa selama ini dia adalah tipikal cowok gentleman dan tidak suka membawa gadis pulang ke rumah.
Boro-boro membawa gadis ke dalam kamarnya, membawa gadis jalan saja sebenarnya dia ogah. Memangnya dia cowok apaan, huh?
Jika di suruh memilih suka berbuat onar di sekolah atau menjaga seorang gadis manja nan cengeng seperti Gabby— jelas Kenan akan memilih opsi yang pertama.
Kenan mengetuk-etuk dagunya, seolah tengah berpikir keras. "Gimana ya... boleh deh, buat Lexa lo tidur di ruang keluarga dan buat Lexy lo tidur di ruang tengah aja ya?"
Keduanya lantas terperangah karena jawaban Kenan barusan.
Apa-apaan sepupunya ini?
Kenapa sangat tega dengan sepupunya sendiri, huh?
"Nggak mau. Kenapa lo nggak nyuruh gue buat tidur sekamar sama lo aja?" Lexy bertanya sembari mengangkat salah satu alis tebalnya.
*
Lain dengan Gabby yang saat ini tengah menggeliat tak nyaman, matanya mengerjap pelan, tanda bahwa dia sudah bangun dari tidurnya.
Dia menutupi mulutnya yang menguap, nyawanya belum terkumpul penuh, meraba sisinya—dia tidak merasakan keberadaan Kenan yang semula di sampingnya.
Lantas Gabby segera mengubah posisinya untuk duduk, dia menoleh ke samping. Kenan tidak ada. Lantas cowok itu ada di dimana, huh?
Gabby mengerucutkan bibirnya lucu. "Awas aja kalau pergi, Gabby mau ngambek lagi sama Kenan,"
"Nanti kalau ketemu Gabby mau cubit, ah, salah siapa pergi nggak bilang-bilang." Dia bermonolog sendiri.
Gabby beranjak dari kasur king size milik Kenan. Dia berjalan keluar dari kamar. Tentu saja dia ingin mencari Kenan yang saat ini entah berada dimana.
Samar-samar Gabby mendengar cowok dan cewek sedang beradu argumen. Ada suara Kenan juga. Gabby tersenyum semringah, dia langsung menuruni tangga dengan cepat.
Saking terburu-burunya dia jadi tersandung karena kakinya sendiri. Dia jatuh dan berhasil membuat ketiga remaja seumurannya menoleh ke arahnya.
"By!!!" Kenan berteriak, degup jantungnya berdegup lebih cepat dari sebelumnya ketika melihat Gabby yang saat ini sudah jatuh tersungkur.
Tanpa ba-bi-bu dia segera berlari untuk menghampiri Gabby yang terlihat mengenaskan. Ah, kasihan sekali gadis itu.
Suara tangisan terdengar. Kenan bisa bernafas lega karena Gabby tidak pingsan. Jika dia pingsan pasti akan lebih merepotkan dari pada saat ini.
"Lo kenapa bisa jatuh, By? Udah bagus-bagus tidur malah bangun lagi, heran gue sama gadis kayak lo," Kenan mengomel kesal.
Gabby hanya diam saja dan memilih abai. Alih-alih menghentikan suara tangisnya, dia menambah volume tangisnya agar lebih keras.
Hal itu berhasil membuat Kenan menggeram kesal. Kenan menyelipkan tangan kanannya di kedua bawah lutut Gabby untuk menggendongnya ala brydal style dan membawanya ke kamarnya.
Berbeda dengan Lexa yang masih membeku di tempatnya menyaksikan adegan yang berada di jarak satu meter darinya dengan wajah yang begitu terkejut.
Alasan ada tiga;
Poin pertama, dia baru saja mengetahui bahwa Kenan tinggal bersama seorang gadis.
Poin kedua, dia tidak menyangka bahwa Kenan menyembunyikan seorang gadis di dalam kamar.
Poin terakhir, dia syok ketika melihat Kenan dengan santainya membawa seorang gadis dengan gendongan ala brydal style.
"Wah... parah tu anak, gue aja kalah anjir!"
"Nggak usah norak, lo aja sering gonta ganti cowok di kamar." Lexy menyahut santai.
Lexa mendelik mendengar jawaban dari kembarannya barusan. "Heh... sembarangan lo!"
Apa-apaan Lexy ini? Kenapa harus membocorkan hal yang terdengar begitu menyebalkan. Meski memang faktanya begitu, tetap saja dia tidak terima.
"Oh, pantes aja gue di suruh tidur di ruang keluarga, orang di kamarnya ada ceweknya anjay!"
"—Kalau nggak istimewa mana mungkin Kenan bawa dia ke rumah, di kamar lagi, oh tidak! Ini sangat-sangat momen langka ya— aw!"
Perkataan Lexa terhenti ketika Lexy menoyor kepalanya pelan. Sontak Lexa langsung mengubah ekspresinya menjadi jengkel.
"Nggak usah norak, Xa!"
Lexa tidak menanggapi perkataan saudara kembarnya. Dia memilih abai sebelum beranjak menyusul Kenan dan gadis yang kini sudah menaiki tangga.
Dia penasaran dengan gadis itu. Bagaimana mungkin sepupunya yang terkenal dingin itu membawa seorang gadis kerumah? Dia sungguh masih tidak percaya.
Sejujurnya Lexa merasa tidak terima ketika melihat sepupunya bersama gadis lain selain dirinya. Kemungkinan besar Kenan sudah berada di kamar bersama gadis yang tadi sempat terjatuh. Lexa menggelengkan kepalanya pelan. Dia masih sulit menerima fakta ini.
Bagaimana bisa ada gadis yang seceroboh itu, huh? Ya walaupun sesama perempuan, tetapi dia tidak pernah seceroboh itu.
Apakah tipe sepupunya adalah gadis yang ceroboh?
Bay the way, selain ceroboh, gadis itu juga cengeng, ya?
Sangat berbeda jika dibandingkan dengannya, mengingat bahwa dia adalah gadis yang mandiri dan tidak suka menangis. Menurutnya menangis adalah suatu hal yang alay— padahal faktanya tidak seperti itu. Wajar jika menangis, itu artinya hati kita masih berfungsi.
Lexy juga sama, dia beranjak dari duduknya untuk mengekori Lexa yang sudah berjalan lebih dulu. Mana mungkin dia di tinggal di bawah sendiri? Itu terdengar tidak adil.
Lexy tidak kaget jika Gabby berada di rumah Kenan— dia tentu saja kenal Gabby sedari kecil— mengingat bahwa dia, Kenan, dan Gabby adalah seorang sahabat.
Hanya saja Lexa yang belum kenal dengan Gabby. Ketika masih kecil— Lexa sudah terlebih dahulu dibawa kedua orang tuanya di Korea.
Sejujurnya Lexy sudah menyukai Gabby sejak lama, hanya saja perasaannya harus terpendam ketika dia mengetahui bahwa Kenan dan Gabby saling suka.
Jika ditanya apakah dia membenci Kenan? Dia akan menjawab tidak dengan lantang.
Baginya perasaan seseorang tidak bisa dipaksakan. Jadi dia ikhlas jika harus melihat Kenan dan Gabby bahagia. Dia tidak ingin egois, lagi pula apa manfaatnya jika dia merebut Gabby dari Kenan dan berharap bahwa Gabby akan menerima perasaannya.