(+17 Area!)
Awalnya hidup Kenan baik-baik saja, namun semuanya berubah ketika dia harus mengalami amnesia dan tinggal serumah dengan cewek manja serta maniak kutek berwarna-warni.
_______________________________________________
⚠Warning⚠
Harus siapi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Wajah Kenan kontan terasa memanas dan sudah di pastikan bahwa sekarang wajahnya pasti sudah memerah, atau bahkan mungkin kedua kupingnya juga ikut memerah? Tentu saja. Deru nafas Kenan kian memburu.
"Dasar cewek mesum!" Kenan berseru kesal, sebelum akhirnya dia berlari menuju kamar mandi.
Enak banget tuh cewek dapet tontonan roti sobek gue secara cuma-cuma alias gratisan. Kenan membatin keki di dalam hati.
Sayangnya Kenan baru menyadari bahwa saat ini dia hanya mengenakan celana kolor berukuran pendek yang bermotif gambar Doraemon yang terlihat sangat menggemaskan.
Kenan mendengus keras-keras. Ternyata saat Gabby tadi bertanya 'Kenan masih suka nonton film Doraemon ya?' pasti karena melihat motif dari celananya.
Ah, sangat menyebalkan dan sangat memalukan sekali, bukan?
Wajar saja jika perut Kenan bentuknya seperti roti sobek. Karena sejujurnya setiap hari weekend dia meluangkan waktunya untuk pergi ke tempat gym yang letaknya tidak jauh dari rumahnya.
Sebenarnya di rumahnya juga memiliki tempat gym. Namun agaknya dia lebih menyukai tempat gym yang sering dia kunjungi.
Alasannya sangat simple, karena disana juga tempat para teman sekolahnya yang suka berlatih juga di sana.
Gabby mengetuk-ngetuk pipinya dengan jari telunjuknya yang terlihat lentik. "Mesum? Apa itu? Gabby nggak tau tuh."
Gabby mengerucutkan bibirnya dengan lucu ketika melihat tubuh jangkung milik Kenan yang sekarang sudah menghilang ketika cowok jangkung tersebut sudah masuk kedalam kamar mandi.
Kini, raut wajah Gabby sangat terlihat sedih. Sayang sekali, padahal Gabby sama sekali belum puas melihat tubuh separuh telanjang milik seorang cowok jangkung, berkulit putih, dan berparas tampan tersebut.
Sekarang, Gabby hanya bisa menatap nanar punggung tegap milik Kenan yang kian menghilang seiring langkah kakinya yang lebar. Jujur saja, Gabby nampak kecewa. Ah, ralat! Tepatnya sangat kecewa.
Andai jika dirinya selalu ada disini dan tidak sekolah diluar negeri, dia pasti akan selalu menemani Kenan, sudah bisa dipastikan jika Kenan pasti tidak akan berubah dan masih seperti waktu kecil yang dulu dia kenal.
*
Kini, Kenan tengah berdiri diatas lantai marmer yang terasa dingin. Sementara diatasnya ada shower yang kini tengah menyala. Percikan air begitu terdengar jelas di telinga Kenan. Ya, sekarang dia tengah mandi.
Sebenarnya dia ingin meredakan emosinya dengan air dingin.
"Hidup gue pasti ke depannya akan jauh lebih rumit dari sebelumnya? Ah, shit!" Kenan lagi-lagi kembali mengumpat. Mengingat bahwa kedepannya Gabby akan tinggal dirumahnya dan tentu saja bersamanya.
Pintu kamar mandi terdengar berdecit ketika Kenan keluar dari kamar mandi dengan setelan kimono handuk berwarna putih yang sekarang sudah melekat ditubuhnya. Wajahnya nampak datar.
Rambutnya yang berwarna coklat kehitaman itu terlihat sangatlah basah. Sesekali tetesan air jatuh dari ujung rambutnya dan menetes ke hidungnya yang mancung.
Sementara kedua tangannya kini tengah sibuk untuk mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Berharap bahwa rambutnya akan kering dengan lebih cepat.
Kontan Gabby yang masih duduk bersimpuh di atas ranjang milik Kenan, langsung terperangah begitu saja saat melihat Kenan yang ketampanannya terlihat berlipat ganda saat rambutnya basah.
Gabby tersenyum sumringah. Detik berikutnya dia beringsut dari duduknya untuk turun dari ranjang milik Kenan.
"Kenapa Kenan tampan sekali?" Gabby bertanya dengan sedikit meninggikan suaranya.
Kenan mendelik seketika saat melihat Gabby yang kini tengah berlari kecil untuk menghampirinya. Dia kontan langsung membuang asal handuk kecil berwarna putih itu ke lantai.
Dia mundur selangkah. "Stop!" Kenan berseru, suaranya terdengar meninggi.
"Lo berhenti disitu! Jangan gerak dulu, oke?" Kenan bertanya dengan sedikit berseru seraya menunjuk tempat Gabby berpijak.
Gabby cemberut. Tentu saja dia tak menolak. Melainkan dia menuruti perkataan Kenan barusan. Sejujurnya dia hanya berniat untuk memeluk Kenan saja, tidak lebih dari itu.
"Kenan kok gitu sih?" Gabby protes seraya manautkan jari jemarinya yang nampak lentik. Terlihat kukunya dicat berwarna merah darah yang mampu membuat Kenan bergidik ngeri.
Kenan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sejujurnya dia kini sedang dilanda rasa bingung. Tentu saja dia ingin menghindari cewek ajaib yang kini masih berada di kamarnya.
"Nggak usah kebanyakan protes. Nurut aja bisa kan?" Kenan bertanya dengan lembut. Sejujurnya dia sangat kesal sekali kepada Gabby.
Gabby langsung mengangguk membenarkan. "Gabby bisa kok, Kenan."
Kenan membuang nafasnya dengan lega. Seenggaknya walau gadis itu sangat menyebalkan, namun dia kelihatannya sangat terlihat penurut jika bersamanya.
Tiba-tiba seringai menyeramkan muncul begitu saja pada wajah tampan Kenan, ketika saat itu juga terdapat sebuah ide bagus yang baru saja terlintas dibenaknya.
Menarik. Kenan membatin dalam hati.
*
Dengan rasa malas Gabby menggeret koper berukuran mini miliknya menunju ruang keluarga yang saat ini sedang dihuni oleh Kenan. Terlihat diujung sana terdapat Kenan yang sedang duduk bersila diatas sofa.
Suasana sepi dan senyap begitu kentara di rumah Kenan. Mengingat bahwa saat ini rumahnya hanya dihuni oleh dua human saja. Siapa lagi kalau bukan dirinya dan si gadis ajaib?
Gabby berhenti berjalan. Sesaat dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Terlihat ruang keluarga terlihat sangat jauh dari kata bersih.
Bagaimana tidak? Puluhan kulit kacang berceceran dilantai yang terasa dingin akibat terkena AC yang kini tengah menyala.
Saat ini, Kenan tengah asyik menonton televisi yang menyala seraya memakan kacang gurih yang berada didalam toples yang sekarang sedang berada dipangkuan Kenan.
Sesekali dia tertawa renyah saat melihat kekonyolan yang dibuat oleh Nobita.
Padahal hari ini adalah hari Senin, dimana dia harus pergi ke sekolah. Namun berbeda dengan sekolah Kenan yang satu bulan kedepannya diliburkan untuk sementara untuk kepentingan guru.
Kontan hal tersebut membuat Kenan sedikit gondok. Mengingat bahwa kemarin lusa dia menghabiskan malamnya penuh untuk belajar, sebab guru matematikanya bilang besok akan ulangan.
Ah, menyebalkan sekali.
Tentu saja, rencana itu gagal mengingat bahwa hari ini sekolahnya diliburkan selama satu bulan. Sungguh dia tidak bisa membayangkan jika harus tinggal berdua dengan gadis yang baru saja dia kenal.
Dan jangan lupakan! Kenan juga merasa menderita jika teringat oleh chat yang dikirimkan maminya untuknya waktu kemarin.
Sungguh terasa menyebalkan jika kedepannya dia harus mengurus seorang gadis yang kelakuannya masih seperti anak TK. Ah, rasanya Kenan ingin pindah rumah saja jika teringat hal itu.
Gabby ikut mengembangkan senyumnya ketika melihat Kenan yang terlihat sangat bahagia sekali. Walau bahagianya bukan karenanya, namun tentu saja dia tak mempermasalahkan hal tersebut.
"Gabby ikut bahagia jika melihat Kenan bahagia." Gabby berujar lirih. Sekarang mata yang seperti boneka miliknya sudah berkaca-kaca.