(+17 Area!)
Awalnya hidup Kenan baik-baik saja, namun semuanya berubah ketika dia harus mengalami amnesia dan tinggal serumah dengan cewek manja serta maniak kutek berwarna-warni.
_______________________________________________
⚠Warning⚠
Harus siapi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Keysa tidak ingin ambil resiko lagi. Lebih baik dia tutup mulut dari pada harus menjelaskan lagi apa yang sudah di alami Kenan— anak tunggalnya.
Pernah suatu ketika Keysa menjelaskan sosok Gabby yang nota bene-nya adalah sahabat kecil Kenan, namun Kenan merasa terkejut hingga kembali pingsan dan terbangun menjadi tidak ingat apa-apa lagi.
Kenan yang tadinya sudah ingat sedikit persoalan Gabby pun jadi tak ingat lagi. Kata dokter itu pengaruh amnesia disosiatif yang di alami Kenan.
Dokter menyarankan agar tidak memberi tahu Kenan soal masa kecil mendetail, tentu saja karena takut amnesia yang di alami Kenan bertambah parah dari pada yang sebelumnya.
Dokter juga menyarankan supaya tidak memaksa Kenan untuk ingat semua masa lalunya— karena dengan memaksa seperti itu akan membuatnya menjadi tidak ingat apa-apa lagi.
Jadi Keysa dan Darel untuk saat ini keduanya harus bersabar menghadapi Kenan anak semata wayangnya yang masih amnesia. Memang tidak mudah untuk menghadapi ingatan anaknya yang belum pulih. Tetapi mereka berdua percaya dengan Gabby— bahwa Gabby bisa mengembalikan ingatan Kenan yang hilang.
"Anak kamu bikin pusing, Pi."
Keysa menghampiri Darel yang berada di atas ranjang, Darel memijat pelipisnya karena pusing melihat tingkah laku Kenan yang sangat berbeda jauh dengannya.
"Dia kenapa lagi, Mi?"
"Anak kamu katanya akhir-akhir ini sering ngerasa sakit kepala dan juga inget tentang masa kecil, gimana ini, Pi? Mami takut kalau ingatan Kenan tiba-tiba bertambah parah."
Darel merengkuh tubuh istrinya yang kini duduk di sampingnya, dia tersenyum kecil mendengarnya. Melihat istrinya khawatir kepada anak semata wayangnya, membuat hati Darel menghangat.
"Bagus, dia pasti bisa pulih, tapi kamu jangan paksa dia langsung ingat semua hal, oke? Pelan-pelan aja."
Keysa mendongak menatap sendu mata Darel. Darel masih sama seperti dulu, masih tampan dan sikapnya masih manis seperti dulu saat masa putih abu.
Setelah menikah dan mempunyai anak, Keysa banyak menyadari persoalan Darel. Salah satunya adalah pikiran suaminya yang bertambah dewasa.
Darel tidak menututnya untuk menjadi istri yang sempurna. Bahkan Darel dengan lapang dada menerima fakta bahwa istrinya tidak bisa mengandung lagi. Alhasil mereka berdua hanya mempunyai Kenan— anak semata wayang mereka berdua.
*
Lexy dan Lexa menuju pekarangan rumah kediaman marga Arsenio yang saat ini memang di huni oleh Kenan anak Darel— pamannya dan Keysa— tantenya.
Keduanya baru saja pulang dari Korea Selatan, karena libur panjang keduanya memutuskan pulang ke Indonesia, tentu saja karena ingin bertemu sepupunya.
Keduanya sudah tahu jika sepupunya amnesia— orang tua Kenan yang menceritakannya pada waktu lalu. Sejujurnya keduanya merasa iba dengan musibah yang telah dialami sepupunya.
Bel rumah Kenan berbunyi, Gabby masih tidur, sementara Kenan masih terjaga. Kenan lantas terkesiap dan langsung turun dari kasur king size miliknya. Kenan menggeram kesal karena mendengar bel yang berulang kali berbunyi.
Siapa sih? Ganggu orang aja. Batinnya kesal.
Berjalan keluar kamar, menuruni tangga secepat kilat, jujur saja dia tidak tahu siapa yang memencet bel rumahnya.
Tetapi Kenan tidak menduga bahwa orang itu adalah kedua orang tuanya. Karena jika kedua orang tuanya ingin pulang— pasti akan menghubunginya dahulu dan tidak mendadak seperti ini. Dia menduga bahwa saat ini yang datang jelas bukan kedua orang tuanya.
Kenan membuka pintu, matanya membulat— betapa terkejutnya dia saat melihat dua remaja yang berlawanan jenis, keduanya terlihat seumurannya. Yang satu berparas tampan, sebelas dua belas jika di bandingkan dengan dirinya dan satunya lagi berparas cantik.
Kenan lantas menyipitkan matanya.
Lexa melambaikan tangan sembari tersenyum manis ketika melihat sepupunya. Menurutnya Kenan bertambah tampan dari yang sebelumnya— tentu saja karena sudah remaja. Dia merasa bahwa level ketampanan Lexy dan Lexa hampir sama.
Sementara Lexy hanya memasang wajah datar tanpa minat. Sebenarnya dia tidak ingin mengunjungi sepupunya karena sudah malam tentu saja kedatangan keduanya pasti akan menganggu sepupunya.
Namun Lexy lupa bahwa dia mempunyai sepupu bodoh yang tidak tahu malu seperti Lexa. Tadi Lexa memaksanya untuk ikut, tetapi Lexy menolak keras.
Hal tersebut tentu membuat boomerang untuk keduanya, Deolinda— nenek mereka berdua mengusulkan agar Lexy menuruti kemauannya Lexa— sang adik kembarnya.
Tidak punya pilihan lain.
Lexy hanya bisa pasrah saja kalau begitu.
"Hai sepupu tampanku, udah lama nggak ketemu," Lexa bersuara dan berhasil memecah keheningan, dia langsung menghambur ke pelukan Kenan.
Tanpa mempedulikan wajah Kenan yang saat ini begitu terlihat terkejut. Dia tidak membalas pelukan yang di berikan gadis yang saat ini tengah memeluknya dengan erat. Dia sedikit terkejut tentu saja.
"Lo pasti Lexa?" Tebak Kenan dengan benar.
Lexa melepaskan pelukannya, wajah cantiknya seketika berbinar. "Lo masih inget gue ternyata, seneng banget gue, anjir! Kirain lo lupa sama sepupu lo yang cantik ini,"
Kenan terdiam sejenak setelah mendengar celotehan Lexa barusan. Seolah Lexa mengiranya bahwa dia tengah amnesia. Tentu saja dia merasa tersindir.
Entah kenapa Kenan masih ingat dengan kedua sepupunya. Tetapi anehnya dia sulit mengingat mengenai masa kecilnya dan dengan siapa dia bermain dulunya.
Baginya itu terlalu sulit hingga bisa membuat kepalanya sakit jika harus terus memaksa. Tetapi Kenan tidak boleh menyerah begitu saja. Dia akan mencobanya perlahan-lahan.
Mungkin untuk saat ini dia belum ingat, namun dia percaya bahwa pasti suatu saat dia akan mengingat semuanya yang telah terjadi kepadanya.
Kenan menghela nafas kasar. "Inget lah, ya kali lupa sama sepupu bloon kayak lo!"
"Fuck! Gue di katain bloon sama Kenan, Lex. Sebagai kembaran gue lo harusnya ngerasa nggak terima, kan?" Lexa bertanya sembari memasang wajah yang seolah-olah sedang terluka.
"Wehh... Lo jangan diem aja dong, Lex! Bisa-bisanya cewek secantik gue dibilang bloon," Lexa menyikut perut kembarannya karena belum memberikan respon apapun.
Hal tersebut berhasil membuat Lexy hanya bisa menghela nafas kasar karena kelakuan kembarannya yang kelewat konyol. "Brisik monyet!" Sahut Lexy kesal.
Lexa refleks mendelik tak terima. Kembarannya memang sulit diajak kompromi. Dia terlalu asik untuk kembarannya yang kulkas dua pintu. "Kalau gue monyet, lo apa dong? Gorila?"
"Kalau lo berdua mau berantem silahkan pulang, jangan di sini, ganggu orang tidur aja lo berdua," Kenan membuka suaranya, dia sudah tidak tahan lagi melihat kelakuan kedua sepupunya yang membuat darahnya mendidih.
"Lexa yang brisik, bukan gue," Lexy mengelak tak terima.
"Sepupu ganteng gue gini amat, ya? Nggak peka, udah capek-capek nyamperin ke sini, eh malah di suruh berdiri, nggak di suruh masuk lagi," Lexa menyindir sembari mengibaskan rambut panjangnya kebelakang.
Damn!
Kenan meringis, merasa bodoh karena lupa tidak menyuruh kedua sepupunya untuk masuk ke dalam rumah. Sungguh dia jadi merasa malu dengan kedua sepupunya.
Setelahnya Kenan membuka pintu utama rumahnya agar terbuka lebih lebar sebelum menyuruh kedua sepupunya untuk masuk.