Chapter 8

23.6K 1.5K 58
                                        

Happy reading!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy reading!


    "Bam jangan lupain kita ya?" Anak-anak panti menatap sedih ke arah Bam yang sudah bersedia untuk dibawa keluarga barunya.

   "Ndak lupa. Diddy bilang nanti jalan ke cini lagi."

    "Iya. Harus! Wajib! Bam harus selalu main ke sini. Harus main sama kita."

   "Hmm!" Bam mengangguk setuju. Hari ini Bam bakalan ngikut Xavian, diddynya ke kota. Bam bakal tinggal di kota. Ia juga akan memiliki kakak dan abang baru. Bam senang sekali.

    "Bam jangan nakal ya di sana. Dengerin diddynya Bam," Buna Yana memeluk erat tubuh si kecil. Berat rasanya melihat Bam meninggalkan panti, namun ini juga demi kebaikan Bam. Di kota sana, Bam akan mendapat pendidikan dan kehidupan yang lebih baik dan nyaman. Lagi pula menurut Tuan Xavian, Bam akan sering ke Desa Seriu sekaligus ke panti karena Xavian akan membina rumah di sini.

    "Bam nggak nakal buna. Bam anak baik."

   "Iya. Bam anak baik, anak kesayangan buna." Setelah sekitar 10 menit berlalu, barulah kelihatan mobil milik Xavian masuk dalam kawasan panti. Xavian dan Peter langsung menyapa mereka semua, dan sang supir membuka bagasi belakang mobil.

    "Sudah siap anak diddy?"

    "Cudah!" jawap Bam semangat. Tidak terlalu banyak yang mereka lakukan setelahnya, hanya mengambil barang milik Bam dan menyelesaikan keperluan yang lainnya.

   Bam memandang teman-teman pantinya. Rasa sayu perlahan merambat ke hati mungil itu. "Bam jalan dulu ya. Nanti Bam ke cini lagi."

   Xavian mengusap rambut si anak. Bam pastinya sedih dengan perpisahan ini, tapi Xavian berjanji Bam nggak akan menyesal masuk ke dalam keluarganya.

   "Bilang bye sama temanmu dan buna."

   "Bye bye cemuanya! Bam...Bam... huaaaa!!!" Hah, akhirnya si kecil menangis juga. Air matanya meluncur laju membasahi pipinya yang bulat. Peter membuka pintu mobil di bahagian penumpang belakang dan mempersilakan Xavian dan Bam masuk ke dalam.

    "Nggak usah sedih. Nanti kita ke sini lagi," pujuk Xavian. Ia mengangkat tubuh kecil Bam dan memasukkannya ke dalam mobil sebelum ia ikut naik.

    "Bam. Duduk yang benar, nanti Bamnya jatuh."

    "Diddy. Peluk. Bam mau nangic lagi."

    "Kasian sekali anak diddy."

***

     Bam menatap kagum makanan yang tersusun rapih di depan matanya. Semuanya kelihatan enak. Bam nggak pernah merasakan yang namanya kebuluran, bahkan makanan di panti sentiasa dipantau agar memenuhi gizi dan selera anak panti. Namun yang di depannya kini memang jauh lebih menyelerakan.

BAM [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang