Happy reading!
Waktu seakan berputar dengan begitu cepat. Hari ulang tahun Bam sudah berlalu beberapa hari yang lspas dan hari yang ditungu-tungu akhirnya tiba.
Xavian sudah menyiapkan semuanya, yang harus mereka lakukan tinggal berangkat pergi saja. Pada mulanya hanya Xavian, Bam, Peter dan seorang chef yang akan ke Desa Seriu, namun karna Leonardo memaksa untuk ikut serta Xavian dengan tidak relanya terpaksa membawa Leonardo.
Si kecil tentunya jadi orang yang paling semangat karna ia akan bertemu dengan keluarganya lagi. Bam kangen semuanya. Bam juga mengisi koper mininya dengan boneka dan mainan yang akan dibawa ke desa.
"Bam, ayo sarapan dulu." Xavian melangkah masuk ke dalam kamar Bam yang berantakan dengan permainan si kecil. Ia membantu si kecil menutup kopernya dan menggendong si kecil. Namun Bam kukuh menolak untuk digendong dan dibantu. Alhasil, Xavian terpaksa mengikut langkah kaki Bam yang kecil dengan kesabaran penuh.
"Berat nggak kopernya?"
"Ndak belat diddy. Bam bica kok," jawap Bam lalu mendorong kopernya masuk ke dalam lift. Di ruang makan sudah ada Leonardo yang menunggu kedua manusia itu. Hidangan sarapan pagi juga sudah terhidang di atas meja makan, tinggal menunggu untuk dinikmati.
"Celamat pagi abang!"
"Pagi juga gembul."
"Jonathan mana?" tanya Xavian karna ia tidak melihat ada kelibat anak sulungnya di sekitar ruang makan.
"Udah jalan tadi. Ada meeting pagi kayaknya."
Xavian mengangguk paham. Ia meletakkan beberapa keping pancake diatas piring Bam dan memberinya sirup mapel. Ia juga memberi beberapa jenis buah beri kepada si kecil di mangkuk yang lain.
"Makacih diddy."
"You're welcome sayang. Makan ya, biar nggak kelaparan nanti."
"Okay diddy," jawap Bam.
Singkat cerita acara makan pagi pun selesai dan mereka bertiga kini menuju ke lantai paling atas di mana helipad berada. Peter dan chefnya sudah berangkat kemarin karna perlu mempersiapkan segalanya di rumah baru Xavian.
Bam kembali mendorong kopernya masuk ke dalam lift. Xavian menahan tawanya melihat Bam kesusahan mendorong koper mininya ke sana sini.
"Itu kopernya ditarik."
"Ndak mau diddy. Bam mau dolong kopelnya."
"Terserah Bam saja kalau begitu."
***
Bam dan Leonardo terlelap sepanjang perjalanan menuju ke Desa Seriu. Untung sahaja helicopter milik Xavian mampu menampung 5 orang termasuk pilotnya, jadi mereka tidak perlu melakukan dua kali trip perjalanan.
Tanpa disadari setelah hampir 3 jam perjalanan, mereka akhirnya tiba di Desa Seriu, desa yang mempertemukan Xavian dan Bam. Leonardo sudah terjaga dan asik melihat sekeliling. Untuk Bam sendiri ia masih belum bangun dari tidur karna headsets yang digunakan menghalang bunyi-bunyi yang tidak menyenangkan dari menyapa indra pendengaran Bam.
"This is our home, dad?" tanya Leonardo.
"Yup. As you can see." Xavian mencopot headsets yang menutupi telinga Bam dan memberikannya pada pilot. Lalu tubuh si kecil diangkat perlahan agar Bam tidak bangun.
KAMU SEDANG MEMBACA
BAM [END]
RandomB R O T H E R S H I P A R E A (BUKAN BL) Seputar kisah si imut Bam yang bertemu dengan Xavian, si duda dengan dua 'buntut' gergasi. "Bam, panggil saya daddy ya? Mulai hari ini saya akan jadi keluarga Bam. Bam okay?" "Bam okay!" "Coba panggil daddy...
![BAM [END]](https://img.wattpad.com/cover/374329945-64-k648413.jpg)