Happy Reading!
Leonardo mengambil ratusan foto si kecil sementara Kaizo menyiapkan kerjanya. Salah dikit kepala melayang. Request-an Leonardo itu terlalu specific dan harus dituruti. Jadi mau nggak mau Kaizo harus lebih teliti dan sabar dengerin perintah tuan muda Montgomery satu ini.
Si kecil Bam juga terlalu lena dibuai mimpi. Bam duduk di atas kursi dan diikat supaya badannya nggak meleyot ke bawah.
"Diddy~" ucap Bam dalam lenanya.
"Bokap lo tau lo bikin adek lo begini?" tanya Kaizo karna penasaran.
"Taulah...tapi nanti."
"Gue nggak tau apa-apa ya. Awas aja kalau gue juga kena."
"Relax man," ujar Leonardo lalu mengambil beberapa foto dan video untuk konten tiktoknya.
"Kebo banget adek lo. Jangan jangan lo kasi ubat tidur?"
"Kagak asu! Dia emang begini. Ni anak kelelahan kali, habis piknik sama opa gue soalnya."
"Oh, pantesan." Kaizo menaruh segala alatan di atas meja. "30 menit lagi bangunin adek lo."
"Hmm...." 30 menit kemudian, Leonardo memaksa si kecil bangun dari tidurnya. "Bangun."
"Hmm...diddy~"
"Bangun. Daddy nggak ada. Bangun gembul!"
"Ih, abang belicik! Bam ngantuk tau." Si kecil ngomel-ngomel namun kedua matanya masih tertutup.
"Bangun nggak? Atau aku buang tas-tas kesayanganmu?"
"Abang~" Bukannya bangun, si gembul malah ngerengek manja. Mau nggak mau, Leonardo terpaksa menggendong Bam. "Bam di mana?"
Pertanyaan si gembul menyedarkan Leonardo dari lamunannya. Bam membuka mata dan melihat sekeliling. "Pala Bam napa, abang? Kok ada topinya?"
"Eh, udah bangun?"
Bam melihat ke arah sumber suara itu. Bam nggak kenal..siapa ya?
"Bam mau pulang."
"Nanti dulu. Sekarang cuci rambut kamu dulu," ucap Leonardo. Ia membawa Bam menghampiri Kaizo. Leonardo berniat untuk memberikan Bam pada Kaizo namun si kecil malah nggak mau lepas. "Cuci rambut sama dia dulu."
"Ndak mau abang! Lepac! Bam ndak kenal om ya."
"Ya ampun. Untung adek lo. Sini deh lo taruh adek lo di sini, gue bilasnya cepat cepat." Leonarno membaringkan tubuh Bam di atas kursi dan menahannya agar si kecil tidak lari.
"Abang!" Bam memanggil Leonardo dengan kesal lalu menangis heboh. "Lepacin Bam! Daddy!"
"Diem gendut. Berhenti gerak, kalau nggak aku buang ke jalan."
Mendengar ancaman Leonardo, Bam tentunya takut. Alhasil, si gembul menahan suara tangisannya supaya nggak kedengaran lagi, gimana nasibnya kalau dibuang? Leonardo tentunya merasa kasian karna....ya lihatlah ekspresi si kecil. Kayak anak babi.
"Nurut sama aku. Nanti aku traktir makan. Mau makan apa? Hmm?"
"Aic klim."
"Kalau nggak nangis, nanti kita mampir beli."
"Dua ya?"
***
"Ke mana si itu anak? Udah dia bawa anak orang." Laki laki berusia 44 tahun itu terlihat panik karna anak bungsunya yang belum pulang ke rumah meskipun udah jam 8 malam. Jika ada kabar mungkin Xavian nggak akan sepanik ini. Namun walau ditelpon beratus kali, Leonardo langsung nggak mau jawab. Dasar!
KAMU SEDANG MEMBACA
BAM [END]
SonstigesB R O T H E R S H I P A R E A (BUKAN BL) Seputar kisah si imut Bam yang bertemu dengan Xavian, si duda dengan dua 'buntut' gergasi. "Bam, panggil saya daddy ya? Mulai hari ini saya akan jadi keluarga Bam. Bam okay?" "Bam okay!" "Coba panggil daddy...
![BAM [END]](https://img.wattpad.com/cover/374329945-64-k648413.jpg)