Chapter 27

10.6K 800 27
                                        

Happy Reading!




   "Max, Bam boleh lihat buku walnanya Max?" tanya si kecil hati-hati. Si kecil terlihat tertarik dengan buku mewarna milik Max.

   "Tentu. Bam mau warna juga bisa. Ada bawa pensil warna?"
 
   "Ada. Diddy Bam udah beliin Bam pensil walna balu." Bam mempamerkan pensil warnanya pada Max, Pian dan Thiago. "Lucu ndak?"

   "Lucu," jawap mereka bertiga. Bam, Max, Pian dan Thiago duduk di meja yang sama, mejanya bulat jadi keempat anak itu bisa gobrol santai sambil memamerkan barang masing-masing.

   "Bam, nanti pulang sekolah main ke rumah aku ya? Pian sama Thiago juga nanti mau mampir. Kita main bareng."

   "Nanti Bam tanyain diddy."

    Thiago kelihatannya sedikit pendiam. Ngomongnya juga setengah setengah, nggak kayak Pian. Pian itu terlihat jail namun tanduknya masih belum terlalu kelihatan, maklum baru ketemu. Nanti pasti kelihatan jailnya.

    "Bam, mommy kamu mana?" tanya Pian. Maklum, kedua orang tuanya hadir, begitu juga dengan Max dan Thiago. Namun, yang datang untuk Bam cuman diddynya doang. Piankan jadi penasaran.

   "Iya, mommy kamu mana? Aku juga nggak pernah liat mommy kamu," tambah Max.

    "Bam punya mimmy kok, tapi diddy bilang mimmy lagi di sulga. Bam ndak tau kapan mimmy pulang," jawap Bam sambil meneruskan mewarna.

   "Wow, keren! Mommy Bam ada di surga. Mommy aku bilang, cuman orang baik yang masuk surga. Mommy Bam pasti orang baik." Pian terlihat kagum mendengarnya.

    "Iya dong."

    Perbualan anak kecil itu nggak berlangsung lama karna guru yang bertugas mulai menarik perhatian anak anak yang ada. Dimulai dari aktivitas ice breaking hinggalah aktivitinya selesai.

     Disudut kelas ada Xavian yang melihat Bam dengan penuh tatapan bangga. Anak manisnya terlihat bahagia dengan teman barunya. Ia mengambil beberapa foto dan juga video untuk diabadikan. Namun nyatanya bukan Xavian saja yang berperilaku seperti itu, semua orang tua yang hadir juga sama. Sama sama bangga dan terharu.

    Hari ini sekolah cuman berlangsung selama 3 jam. Iya, cuma 3 jam. Anak kecil dibiarkan untuk adaptasi dan memberi ruang pada orang tua untuk melihat anak anak di sekolah.

   Bam terlihat bahagia sekali bersama Max dan teman barunya. Lagi lagi Xavian merasa terharu. Anak bontotnya udah mulai sekolah. Dulu ketika Jonathan dan Leonardo awal masuk TK, Xavian tentunya sedikit terharu dan bangga namun melihat ekspresi kaku anak anaknya bikin Xavian kesel sendiri.

   "Pak Xavian, apa kabar?" sapa Ilyas, orang tua Max.

    "Kabar baik. Bagaimana dengan anda?" Xavian menyambut huluran tangan Ilyas sambil tersenyum kecil. Xavian sudah kenal betul dengan Ilyas, karna terkadang Ilyas sendiri menghantar si kecil pulang setelah Bam habis main di rumah Max. Terkadang Ilyas akan datang ke rumahnya untuk menjemput Max pulang ke rumah mereka sehabis berolahraga.

   "Gimana perasaannya? Anak bungsu anda udah TK," soal Ilyas karna penasaran.

    "Bahagia dan sedih. Nggak nyangka Bam udah bisa sekolah. Anda sendiri gimana? Bukannya Max udah sekolah dari tahun lalu? Kenapa tahun ini masih nganterin anak?."

    "Saya nggak punya alasan khusus. Cuman mau melihat tumbuh anak. Anak itu makin lama makin tumbuh dewasa. Masa kecil mereka bagi saya sangat berharga, karna bila mereka udah dewasa, saya nggak tau bisa melihat mereka lagi."

    "Hmm...Saya juga kalau bisa nggak mau Bam tumbuh besar. Kalau bisa, saya mau jadi sosok yang akan ada di samping Bam di setiap saat."

    "Jadi hantu aja kalau gitu." Ilyas tertawa ringan dengan ucapannya sendiri. "Bercanda. Jangan diambil serius."
   
    Xavian turut tersenyum tipis mendengar candaan Ilyas. Apa ia jadi hantu ya? Kayak saran Ilyas biar nempel terus sama Bam? Jangan, yang ada Bam makin sakit.

***

    Masa 3 jam hampir tamat dan tandanya anak-anak akan pulang sekolah. Xavian mencuci tangannya dengan sabun sebelum menarik beberapa helai tisu yang tersedia di wastafel. Ia berjalan dengan tegas menuju ke ruang belajar Bam. Beberapa anak udah mulai keluar bersama orang tua masing-masing.

    "Nama anaknya pak?"

    "Bam Montgomery," jawap Xavian seadanya.

     "Sebentar ya," ucap gurunya lalu berjalan menuju ke dalam ruangan. "Bam Montgomery. Waktunya pulang."

     "Hah?!" Bam terlihat kaget karna namanya disebut oleh bu guru. Ekspresi kaget Bam membuat Xavian yang berdiri di depan kelas tersenyum kecil. "Pulang?"

    "Daddynya Bam udah jemput. Ayo, say bye to your friends first."

      "Bye cemua! Ketemu lagi becok." Bam mengambil dan memakai tas miliknya sebelum mengikuti langkah besar gurunya.

     "Jangan lupa tanyain daddy kamu ya. Bilang kita mau main bareng," ucap Max.

     Bam mengangguk paham. "Okay, nanti Bam bilangin diddy dulu."

     "Okie dokey!"

     Bam berbalik dan berlari ke arah Xavian. "Diddy!"

     "Halo, anak diddy. How was your first day of school?"

     "Bam cuka diddy. Bam punya banyak teman balu. Max juga bilang mau main di lumah Max hali ini. Boleh ndak, diddy?"

     "Sure, tapi Bam makan dulu ya sama diddy. Nanti setelah itu baru diddy anterin Bam ke rumah Max."

    "Yeah, makacih diddy!" Bam memeluk erat leher milik Xavian sambil melayangkan beberapa ciuman manis di pipi Xavian.

    Xavian sendiri membalas ciuman manis itu dengan ciuman brutal di pipi berlemak Bam. Ia menggendong tubuh buntal Bam di tangan kanan dan membawa tas si kecil di tangan kiri.

   Anak dan ayah itu kini berada di dalam mobil, Xavian menunggu dengan penuh kesabaran di dada karna katanya si kecil mau memberinya hadiah istimewa.

     "Hadiah apa sih, sayang?"

     "Tada!" Bam mengeluarkan sehelai kertas dari tas lalu diserahkan pada Xavian. "Bam lukic cendili loh. Bu gulunya culuh Bam lukic olang yang Bam cayang."

     Xavian merenung kertas yang penuh dengan hasil lukisan Bam dengan perasaan campur aduk, namun perasaan senang lebih mendominasi. Lukisan dengan judul "I love my family" berhasil membuat Xavian terpaku.

     "Bam lukis sendiri?"

     "Iya, paling becal ini diddy, ini abang cama kakak. Bam juga lukic lumah panti cama oma dan opa."

     "Pintarnya."

    "Hehehe....makacih kalna diddy mau jadiin Bam kelualga diddy. Bam will always love you to the moon and back."

    "Diddy yang mau makasih sama Bam, sayang. Makasih selalu jadi anak yang baik buat diddy, adek yang baik buat kakak dan abang. Diddy also loves you to the moon and back."

.
.
.

END/TAMAT

Makasih semua karna selalu support aku untuk nulis cerita ini. Ceritanya aku tamatin sampai sini saja ya. Aku nggak yakin bisa konsisten update setelah ini karna aku akan magang dan kerja parttime (Aku butuhh uangg buat hidup).

Hehehe! Makasih karna udah sayang sama Bam ya! Makasih udah vote dan komen. Nanti kalau ada extra aku jual (jk). kwkwkw. Okay itu aja!

Kita ketemu lagi di karya aku yang seterusnya (Kalau bisa). Bye Muah!

25/02/2025 (Tuesday)

   

    

   

BAM [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang