Chapter 9

24.8K 1.6K 40
                                        

Happy reading!

    "Bam nggak cuka cama abangnya. Abangnya nakal.... Jelek lagi." Suara Bam menjadi perlahan di hujung ayat. si kecil takut jika diddynya marah karna bilang abang jelek. Tapi memang jelek kok! Nggak boong.

   "Iya... Bam tau nggak kenapa abangnya jelek?"

    "Kenapa?"

    "Karna yang manis itu cuma Bam." Idihhh si bapak! Gombal! Bam gigit ni, Rawr!

   "Kata buna Bam ganteng juga." Si kecil semakin menyombongkan diri. Ia memeluk leher sang diddy, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

   "Iya. Anak diddy ganteng." Xavian tidak lupa mencium pipi, dahi, dagu, hidung dan mata si kecil. "Yang tadi itu namanya Leonardo, panggil saja abang Leo. Nanti besok Bam ketemu sama kakak lagi. Nama kakak Bam itu Johnathan."

   "Kakak di mana diddy?"

   "Kakak lagi kerja. Cari duit."

   "Kelja di mana?"

   "Di kantor. Kenapa?"

   "Bam mau kelja juga."

   "Bam mau kerja? Buat apa? Emangnya Bam nggak mau main?".

   "Kalau kelja nggak boleh main, diddy?"

   "Kalau udah kerja, Bam nggak boleh main lagi." Mata Bam melotot kaget.

   "Benelan? Bam... Bam ndak mau kelja kalau gitu. Bam mau main saja."

   "Memangnya kenapa Bam mau kerja? Hmm?"

   "Bam mau duit juga kayak kakak. Mau beli pelmen banyak-banyak. Telus, Bam mau beli tac campai catu lumah."

   "Bam nggak usah kerja. kalau Bam mau nanti diddy beliin. Bam mau lihat sesuatu nggak?" Tanpa menunggu jawapan dari Bam, tubuh kecil itu langsung saja digendong dan dibawa ke arah satu lemari di sudut ruangan.

   "Mau lihat apa di....WAHHH!" Bam menggerakkan badannya dengan agresif, untung saja Xavian bisa menahan tubuh si kecil yang sudah seperti cacing kepanasan. "Banyak tac! Ini tac Bam?"

   "Of course baby. Semua ini diddy sediakan khas untuk Bam."

   "Makacih diddy! Cayang diddy!" Siapa sih yang nggak bahagia kalau dibeliin lebih dari 100 tas selempang yang lucu. Kalau Bam jelas bahagia sekali. "Wah, dulian! Ada dino juga! Kelincinya lucu...Banyaknya tac Bam. Makacih diddy!"

    "Sama-sama sayang. Kalau mau lagi beritahu diddy."

   "Kalau Bam mau tac banyak-banyak lagi bica?"

   "Sudah tentu."

   "Wah!" Bam bahagia sekali. Kalau begini bukan setiap hari tapi Bam bakal nukar tas tapi setiap jam. Senangnya! "Makacih diddy!"

   "Iya. Tapi sekarang Bam perlu istirahat. Besok diddy temenin Bam main."

   "Benelan?"

   "Diddy nggak boong tapi sekarang Bamnya harus tidur. Bobo manis."

   "Tapi diddy nyanyi ya? Nyanyi kaya Buna."

   Xavian tertawa kikuk. Mana bisa lelaki itu bernyanyi. "Diddy nggak bisa nyanyi, baby. Kalau diddy bacain buku cerita mau?"

   "Mau! Celita tentang panggelan Bam lawan monstel ya."

   "Iya baby."

***

BAM [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang