Chapter 24

12.5K 988 17
                                        

Happy Reading!

     Xavian pusing! Sumpah duda satu ini pusing bukan main. Niatnya pulang ke Luxembourg buat kenalin Bam ke keluarga sekaligus libur. Namun kenapa malah ia makin pusing?

     "Why are you such a naughty, sayang?"

     Bam tertidur di atas kasur dengan mata bengkak karna menangis. "Diddy~ help~"

      "Diddy di sini baby." Xavian mengelus rambut Bam yang mulai lepek. "Siapa suruh Bam nakal, hmm?"

      Semuanya bermula apabila ketiga tiga tuyul Montgomery itu asik bermain di luar mansion. Taman belakang mansion itu terbilang cukup luas dan dipenuhi dengan bunga milik sang nyonya Montgomery. Dihujung taman, ada sebuah pohon tua yang berhampiran dengan kolam ikan kecil.

     Tidak diketahui sejak kapan ada sarang lebah di pohon itu. Mungkin saja pekerja kebun nggak sadar atau memang sarang lebah itu masih baru.

    Tambah lagi tidak ada pembantu yang menjaga anak kecil itu. Ivan, Leah dan Bam tanpa sengaja melihat sarang lebah itu dan mulai penasaran. Entah ide dari mana, Ivan mengambil batu dan melemparnya ke arah sarang lebah itu hingga Leah dan si kecil Bam ikut melempar tanpa tau apa akan terjadi.

     Alhasil ketiga tiga tuyul itu dikejar lebah dan mendapat beberapa sengatan manja di badan dan wajah. Para pekerja hanya sadar akan situasi mendebarkan itu apabila mendengar suara tangisan anak anak kecil itu.

     Syukur mereka sempat diselamatkan. Leah dan Ivan cuman bengkak di beberapa bagian karna sengatan. Tapi si kecil Bam harus diperiksa dokter karna ternyata si kecil alergi sengatan lebah. Setelah mendapat sengatan lebah, kulit si kecil mulai berubah merah dan menjadi gatal. Bahkan Bam sampai kesulitan bernafas.

     Xavian panik bukan main. Untung saja si kecil cepat mendapat penanganan. Setelah lelah menangis, si kecil pun akhirnya tertidur.

     "How is Bam doing?" soal Devano. Ketua kepala keluarga Montgomery itu mendekati anak dan cucu kecilnya. Ia baru saja melihat keadaan Leah dan Ivan, syukurlah keduanya semakin pulih. "They said he was allergic to bee stings."

     "Lumayanlah. Gatalnya udah mulai berkurangan. Cuman bengkaknya belum turun."

     "Thank god." Devano sendiri panik bukan main karna melihat cucunya disengat lebah. Baru kali ini kejadian seperti ini berlaku. Ia juga sudah meminta asistennya untuk mengurus sarang lebah itu secepatnya. Tapi sisi baiknya, setelah ini ketiga cucu kecilnya akan lebih berhati-hati ketika lagi main. Semoga saja...

     "How about Leah and Ivan?"

    "Sudah membaik. Mereka lagi main di bawah," jawap Devano seadanya.

***

    Jonathan dan Leonardo menahan tawa masing-masing karna melihat ekspresi lucu sang adik. Pipi si kecil yang sudah bulat bertambah bulat karna bengkak. Jangan lupakan mata yang turut membengkak karna menangis.

    "Jangan tawain Bam! Abang! Kakak!" Si kecil mulai marah karna abang dan kakaknya asik mentertawakannya. Mana dia dipoto lagi sama Leonardo. "Bam bilangin diddy!"

    "Bilang aja. Kami nggak buat apa-apa lo. Kamu aja yang sensian," jawap Leonardo santai.
  
     "Sakit lagi nggak badan sama pipinya?" Jonathan mulai mengajak si kecil berbicara. Ia sebenanrnya gemes sekali dengan si kecil. Bayangin aja, rambut yang awalnya diikat dua bahagian kaya air mancur sudah lepas yang sisi kanannya. Badannya juga kelihatan makin embul.

BAM [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang