Chapter 20

17.8K 1.2K 15
                                        

Happy reading!



    Rumah terlihat begitu sunyi sepi, bayang-bayang si bungsu juga tidak terlihat di mana mana. Biasanya si bungsu akan berlari dan berteriak jika ia pulang rumah.

    "Where's Bam?" tanya Xavian pada Efren.

     "Er...He still in his room."

     "Since when? Didn't he know that I am  home?"

      "He...he refuses to get out of his room...and he locks the door from inside," jawap Efren dengan hati-hati. Memang benar usai dimarahi Leonardo tadi siang Bam tidak henti menangis dan berlari masuk ke dalam kamarnya. Bahkan Bam mengunci kamarnya dari dalam.

    Ketika Efren ingin mengambil kunci cadangan, Leonardo menahannya dan meminta Efren membiarkan Bam sendiri. Ia jadi serba salah.

    "Hah? Ngapain Bam kunci pintu?"

    "Itu...itu..."

    "Just tell me the d*mn thing you b*stard!" Xavian sudah curiga melihat kelakuan Efren. Apa yang sudah terjadi?

    "Mmm...Itu-"

    "Bam hilang karna kabur tadi siang. Untungnya cuman dekat," sambung Leonardo. Ia berjalan menghampiri Xavian dan Efren.  "I scolded him and he cried. Anaknya lagi ketakutan kali."

     Xavian tidak habis pikir. Gimana Bam bisa hilang? Gimana itu anak bisa keluar dari rumah ini? Untung perumahan di sini aman. "Why none of you tell me about this?"

    "Lah...Ini lagi apa? Ngomong kan?"

    "I know you get what I mean, Leo." Xavian menatap Leonardo dengan tajam namun anak tengahnya itu seolah tidak peduli dengan dirinya. "After this, make sure to update me everything regarding Bam to me. ASAP."

      "Baik tuan." Xavian segera meninggalkan mereka berdua dan menuju ke lantai tiga. Perkara pertama yang ia lakukan setelah berada tepat di depan kamar Bam adalah mengetuk pintu kamar Bam dengan perlahan.

      "Baby...Ini diddy, sayang."

      Sunyi.

      "Baby? Buka pintunya ya?"

     Masih sunyi. Mau nggak mau Xavian terpaksa masuk ke dalam kamarnya dan mengambil spare key kamar Bam. Tidak butuh waktu lama, akhirnya kamar Bam terbuka. Namun Bam tidak ada di atas kasur.

     "Bam?" Xavian melihat sekeliling. Mencari setiap sudut di mana si kecil berada. "Bam? Sayang?"

    Xavian dapat menebak di mana si kecil bersembunyi. Ia membuka pintu lemari perlahan lahan dan tebakannya tepat sekali, Bam lagi tidur di dalam tumpukan baju-bajunya.

    "Baby..." Xavian menggendong tubuh si kecil masuk ke dalam pelukannya. Bam masih menutup matanya dan tidak terganggu dengan Xavian. "Kasian sekali anak diddy."

     Mata si kecil sembab dan merah. Pipi si kecil juga masih merah dan ada bekas berwarna biru. Ini pasti kerjaan Leo. Xavian menidurkan Bam di atas kasurnya namun setelah menyedari sebentar lagi makan malam akhirnya Xavian memilih untuk membangunkan si kecil.

BAM [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang