Chapter 25

10.2K 789 21
                                        

Happy reading!




   Kita merancang, tuhan menentukan.

   Kepulangan keluarga kecil Xavian ke Indonesia tidak seperti yang diharapkan. Nahas berlaku ketika kenderaan yang mereka gunakan untuk pulang ke rumah terlibat dalam kecelakaan.

     Mobil yang mereka naiki ditabrak dari arah belakang. Alhasil mereka juga menghantam mobil yang ada di depan. Bam menangis histeris karna panik. Xavian berhasil menahan tubuh mungil Bam dari terjatuh ke bawah.

    Supir yang membawa mobil mengalami cedera di kepalanya. Ia bahkan sudah pingsan dan ada darah segar yang mengalir dari kepalanya.

    "Leo! Nathan! You guys okay?" Xavian bertanya panik. Kedua-dua anaknya itu duduk di kursi bagian belakang.

    "We're okay," jawap Leo dengan suara lemah. Hantaman dari belakang membuatnya sakit dan luka di beberapa tempat. Jonathan sendiri masih dalam keadaan syok parah.

      Xavian membuka sabuk pengaman yang menahan tubuh Bam dan menarik si kecil masuk ke dalam pelukannya.

    "Baby... Jangan takut."

    "Diddy!!!" Bam menangis histeris. Tangan si kecil gemetaran, bahkan mukanya sudah bertambah pucat.

    "Jangan nangis sayang." Pandangan Xavian mulai menggelap. Namun ia tetap berusaha memeluk si kecil untuk memberikan ketenangan buat si kecil.

     "Anak diddy..."

     "Bam takut diddy..."

***

   Dinding putih merupakan hal pertama yang dilihat Xavian usai membuka matanya.

    "Tuan?"

     Xavian melihat ke samping.

     "Sebentar, saya panggilin dokter dulu." Efren menekan tombol yang ada di samping kasur beberapa kali dan benar saja, setelah itu seorang dokter dan suster masuk ke dalam ruangan itu.

      "Syukurlah Tuan Xavian sudah sadar," ucap doktor melihat Xavian yang sudah siuman. "Biar saya periksa dulu."

      Xavian membiarkan saja dokter itu menjalankan tugasnya. Lebih cepat lebih baik.

     "Keadaan tuan bisa dikatakan cukup baik. Cuman ada luka di beberapa bagian karna terkena kaca."

      "Have I fainted?"

      "Ya. Tuan pingsan ketika kejadian dikarenakan extreme panic attact."

      Xavian meraup wajahnya. Memang benar, ia terlalu panik ketika insiden itu terjadi. Ia terlalu takut jika berlaku hal hal buruk terjadi pada anak-anaknya.

      "Efren, dimana anak anak ku?"

      "Mereka ada di kamar samping ini tuan. Tuan Jonathan dan Tuan Leonardo dalam keadaan baik. Begitu juga dengan tuan kecil. Tapi sekarang saya biarin Tuan kecil istirahat dulu." Efren menjelaskan semuanya dengan jelas. Ia memanjatkan rasa syukur karna sang majikan masih diberikan umur yang panjang. Ia panik bukan main bila menerima berita kecelakaan sang majikan dan keluarga kecilnya.

    Ketika Efren sampai di rumah sakit, Xavian telah pun dimasukkan ke dalam ruangan pribadinya dan Jonathan, Leonardo dan Bam mendapat rawatan ringan. Si kecil pastinya menangis dan memanggil Xavian tanpa henti. Bahkan mata si kecil sudah bengkak dan berwarna merah.

     "Syukurlah. Bring me to them."

     "Mereka lagi istirahat tuan. Tuan juga perlu istirahat. Nanti saya bawa tuan muda dan tuan kecil ke sini setelah kalian istirahat," ucap Efren. Xavian yang mendengar itu hanya mampu mengangguk paham. Ia masih nggak bisa mikir tentang kejadian yang menimpanya. Namun syukur, mereka masih diberi rezeki intuk hidup.

***

    "Diddy...Buka matanya. Bam kangen diddy." Suara manis sang anak terdengar perlahan di indera pendengarannya. "Diddy~"

     "Bam?" ucap Xavian perlahan. Kedua kelopak matanya dibuka perlahan, hal pertama yang ia lihat adalah muka temben anaknya.

    "Om! Diddy udah bangun! Abang! Kakak! Cepetan! Nanti diddy tidul lagi."

    "Bam, jangan berisik. Pelan pelan ngomong," tegur Jonathan. Si kecil yang mendengar itu hanya tersenyum malu.

   "Maaf kakak."

   "Air~"

    Efren yang mendengar itu langsung memberikan segelas air minum untuk Xavian. "Ini tuan."

    Bam memeluk erat tubuh Xavian setelah Xavian menyerahkan gelas kosong kepada Efren. "Diddy okay?"

     "Diddy okay, sayang. Bam gimana? Ada yang sakit?" Xavian mengelus lembut rambut si kecil dan si kecil menggelengkan kepalanya. "Jonathan, Leo...kalian nggak apa apa?"

    "We're okay dad. No need to worry," jawap Leonardo mewakili sang kakak. Memang kecederaan yang mereka alami tidak terlalu parah, yah masih bisa jalanlah.

    "Diddy, jangan tidul gitu lagi ya? Bam takut lihatnya."

    Xavian yang mendengar itu tersenyum manis. Sekilas ingatan ketika kejadian memenuhi mindanya, di mana ia melihat si kecil menangis histeris dan suara kesakitan kedua putranya dari arah belakang. Demi apa pun, Xavian panik!

    "Iya...Maafin diddy ya, karna bikin Bam takut."

    "Bam maapin, tapi hug Bam dulu." Tanpa memikirkan apa pun Xavian langsung memeluk tubuh gembul si kecil. "Abang cama kakak nda hug?"

    Jonathan dan Leonardo yang mendengar itu langsung menolak namun melihat tatapan mematikan sang daddy, akhirnya mereka berempat berpelukan walau sedikit kaku.

    "I'm happy cause both of you're safe," ucap Xavian perlahan namun cukup jelas di telinga Jonathan dan Leonardo.

    "EHEM!" Suara Efren menyebabkan pelukan keluarga kecil itu langsung terlepas. "Tuan, anda perlu istirahat lagi."

    "I'm resting right know. Can't you see?" sinis Xavian.

    "Maksud saya, berbaring tuan."

   "Aku baru bangun. Masa disuruh tidur lagi?"

    "Bam temanin diddy tidul dicini ya? Diddy don't wolly," ucapan manis si kecil langsung menyentuh hati Xavian. "Diddy tidul lagi ya? Bam hug diddy di cini."

    "Makasih anak mbul diddy."

    "Cama cama diddyku cayang."

.
.
.
.
To be continued.....

Halo teman teman. Maaf ya, udah lama aku ngga update. Maklum, lagi sibuk banget irl. Aku baru submit thesis aku minggu lalu dan presentationnya nanti tanggal 5 February. Doain aku ya. Semoga aku bisa presentasi dengan baik dan bisa ngejawap soalan dosen"nya.

Oh ya, jangan lupa komen dan vote (600) ya. Bantu aku tandain kata yang salah atau bahasa Malaysia yang aku gunakan. See u next chapter. Bye!

25/01/2025 (Saturday)
   

    

     

    
     

BAM [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang