Chapter 21

18.9K 1.3K 43
                                        

Happy reading!




    Waktu berlalu begitu cepat, seperti angin yang melintas tanpa jejak, meninggalkan manusia terdiam betapa singkat setiap detik berlalu dalam hiruk pikuk kehidupan. Bam dan Max juga sudah menjadi teman sepermainan.

     Terkadang Morigan akan menghantar Max bermain di rumah Bam atau pun Bam sendiri yang berkunjung ke rumah Max. Max dan Bam itu bestie menurut Morigan.

     Si kecil juga sudah jarang ke kantor Xavian, dan Xavian maklum dengan hal itu. Xavian sudah berencana untuk mendaftarkan si kecil di TK yang sama dengan Max ketika umur si kecil sudah memasuki angka 5.

     Namun hari ini Bam nggak boleh keluar main karna nanti sore mereka sekeluarga bakal terbang ke Luxembourg buat ketemu opa dan oma. Saudara Xavian yang lain juga bakal kumpul kumpul di Luxembourg.

     "Diddy...Nanti aeloplanenya telbang tinggi? Lama ndak?" tanya si kecil karna penasaran.

      "Tinggi dan lama sekali. Are you afraid, baby?"

     "Bam ndak takut. Kalau Bam takut nanti Bam hug diddy cepelti ini."

      "Bam kalau mau peluk diddy nggak perlu nunggu takut. Diddy sendiri bakal hug Bam kalau Bam mau."

      "Iya. Diddy hug Bam aja. Nanti Bam cleep cambil hug diddy," ucap si kecil membuat Xavian tersenyum manis. Xavian nggak pernah sekalipun menolak untuk memeluk si kecil, jika bisa dia bakal peluk si kecil 24 jam tanpa henti.

      "Nanti diddy hug ya? Sekarang Bam mandi dulu. Nanti kita makan lagi sebelum ke airport, okay?"

    "No ploblem diddy!"

***

    Perjalanan menuju Luxembourg mengambil masa kira kira 20 hingga 24 jam dan satu kali transit di Singapura. Xavian, Jonathan, Leonardo dan Bam memilih penerbangan first class.

     Bam sendiri betah duduk diam di atas kursinya sambil menonton kartun Hey Tayo di ipad milik Xavian. "Diddy...macih lama campai na?"

    "Masih sayang. Kalau Bam ngantuk lagi tidur aja."

     "Bam ndak mau bobo diddy. Bam mau lihat Tayo lagi," jawap si kecil sambil menunjukkan layar ipad pada Xavian.

     "Yaudah kalau gitu. Bam mau cookies?"

    "Mau!" Bam langsung mendekatkan diri dengan Xavian.

     Xavian menghulurkan sekeping cookies pada Bam namun Bam tidak mengambilnya. "Bam nggak mau?"

     "Kiss diddy...Ndak mau ini." Bam menolak cookies pemberian Xavian dan berkeras mendekatkan dirinya dengan Xavian. Setelah bengong beberapa saat barulah Xavian paham permintaan si kecil. Ia mencium kedua pipi gembul sang anak dengan penuh kasih sayang.

     "Diddy udah kiss."

     "Hihihi...Makacih diddy."

     "Bam nggak mau ini?" Sekali lagi Xavian memperlihatkan cookies di tangannya.

     "Ndak mau tapi makacih diddy." Untung saja si kecil bukan bocil kematian. Selama dalam perjalanan si kecil tidak berulah dan langsung mengatakan apa yang ia inginkan tanpa melakukan drama murahan. Contohnya bila si kecil mau tidur, ia bakal naik ke pangkuan Xavian dan meminta untuk dipeluk.

    Bila ia ingin bermain ia akan meminta Xavian mengeluarkan barangan pribadinya dan mula bermain bersama diddynya. Bila ia lapar ia akan langsung meminta makanan pada diddynya.

BAM [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang