Happy reading!
1: Bam kangen diddy!
"Diddy~~" suara Bam terdengar serak karna si anak lagi nangis manja. Ia menatap wajah Xavian yang ada di layar ipadnya.
"Kenapa nangis lagi? Hmm? Abang apain Bam lagi?"
"Loh, kenapa namaku disebut?" ucap Leonardo dengan nada sinis. Memangnya dia yang bikin anak kesayangan Xavian ini menangis? Hello?!
"Kalau bukan abang siapa? Bilang sama diddy."
"Bam kangen diddy. Diddy kapan pulang? Diddy ndak sayang Bam lagi?! Huhu..." Air mata si bungsu Xavian semakin mengalir deras membasahi pipi gembulnya. "Udah satu minggu loh! Diddy bilang cuman 4 hari! You're a liar!"
"Oh god! Siapa bilang diddy nggak sayang sama Bam? Diddy itu sayangggg sekali sama anak manis diddy satu ini. Diddy miss you too, baby."
"Terus kenapa ndak pulang?!"
"Kan diddy udah bilang. Diddy masih punya kerjaan yang belum diddy selesaikan."
"Kerja terus! Anak anaknya dilupain," jawap Bam dengan kesal. Ia memeluk boneka bebeknya dan menyembunyikan wajah merahnya dari pandangan Xavian. Ia kesal!
"Diddy kerja buat Bam. Kalau diddy nggak kerja Bam mau makan apa?"
Bam diam dan nggak ada niat menjawab soalan Xavian. Bam masih kesal karna Xavian masih di luar kota dan meninggalkan dirinya bersama sang abang durjana.
"Bam? Dengar diddy tidak?"
"Hmmmm..."
"Besok diddy pulang. Nanti diddy jemput Bam pulang sekolah. Okay?"
"Promise?"
"Diddy promise. Udah, jangan nangis lagi. Nanti manisnya hilang. Homework Bam udah selesai?"
"Udah. Bam udah bikin homework."
"Pintar. Okay, nanti matiin callnya ya. Diddy masih punya kerjaan dikit. Bam istirahat, jangan begadang."
"Okay, diddy. Good night. I love you."
"Love you too, baby. Good night."
Leonardo yang hanya menjadi penonton tak dianggap hanya mampu melihat Bam menangis tak karuan. Alay sekali, padahal tahun ini Bam udah masuk 13 tahun tapi masih seperti anak kecil. Bam nggak bisa ditinggal Xavian, kalau ditinggal pasti nangis. Anak manja memang.
"Leo, kerjaan mu sudah selesai?"
"Not yet dad, maybe next week?"
"That's great. Tapi jangan lupa istirahat, jaga kesehatan."
"Okay dad. Don't worry."
"Daddy titip Bam sama kamu. Besok daddy pulang."
"Hmm..."
"Daddy matiin callnya. Good night, son."
"Night." Usai layarnya berubah menjadi gelap, Leonardo langsung melihat ke arah adiknya yang masih asik bermain telefon.
"Bam, go to sleep now."
"Bam belum ngantuk abang. Bentar lagi ya?"
"I said now. Bam mau tidur atau abang tinggalin Bam sendiri di sini."
"Ih, abang! Tapi Bam belum ngantuk!"
"Kalau besok Bam telat sekolah jangan coba coba salahin abang."
"Abang, ih! Iya ini Bam mau tidur." Si bungsu langsung berdiri dan berjalan menuju ke arah lift sambil menghentak kakinya tanda protes.
"Langsung tidur. Awas saja kalau nanti abang lihat Bam masih main hp."
"Iya!"
****
"Bam, tumben kamu belum pulang? Nggak ada yang jemput?" Max, sahabat terrrbaiknya Bam datang menyapa.
"Ada. Hari ini diddy aku yang jemput. Mungkin masih lama soalnya diddy dari luar kota," jawap Bam. "Kamu sendiri gimana?"
"Biasa, supir." Bam mengangguk paham. Mata Bam masih menatap setiap kenderaan yang berharap mobil Xavian akan segera tiba.
"Itu mobil Om Xavian!" Bam sendiri terlihat semangat karna itu memang benar mobil sang diddy. Yeah! Akhirnya.
Mobil hitam mengilap itu melambat sebelum berhenti tepat di depan Bam dan Max. Kaca jendela turun, memperlihatkan wajah Xavian yang tampak sedikit lelah, tapi tetap dengan senyum hangatnya.
"Bam!" panggil Xavian, matanya berbinar saat melihat putranya.
Bam langsung mendekat dengan langkah cepat, tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. "Diddy!" serunya sambil membuka pintu mobil. Sebelum masuk, ia menoleh ke Max. "Aku duluan. Kamu hati hati ya."
Max mengangguk sambil tersenyum tipis. "Iya, kamu juga. Sampai ketemu besok!"
Begitu Bam duduk di kursi penumpang, Xavian menepuk kepalanya pelan sebelum kembali fokus ke jalan. "Gimana sekolah hari ini?" tanyanya sembari mulai menjalankan mobil.
"Baik! Tapi capek juga, apalagi hari ini ada ulangan mendadak. Bam ndak bisa jawab beberapa soalan." Bam melepaskan ranselnya dan meletakkannya di pangkuan. "Diddy gimana? Diddy terlihat lelah."
Xavian menghela napas, lalu mengangguk. "Iya, cukup melelahkan. Tapi sekarang ngga lagi, kan udah ada Bam. Diddy jadi semangat lagi."
Bam tersenyum. "Berarti malam ini bisa makan bareng?"
Xavian melirik ke arah putranya dan tersenyum kecil. "Tentu. Kita makan di luar?"
Bam berpikir sejenak. "Hmm… makan di luar aja, sekalian quality time bareng abang sama kakak!"
Xavian tertawa pelan. "Baiklah, Bam yang pilih tempat, okay?"
Mobil terus melaju di jalanan, membawa mereka pulang setelah seminggu yang terasa begitu lama.
END
16/03/2025 (Sunday)
KAMU SEDANG MEMBACA
BAM [END]
RandomB R O T H E R S H I P A R E A (BUKAN BL) Seputar kisah si imut Bam yang bertemu dengan Xavian, si duda dengan dua 'buntut' gergasi. "Bam, panggil saya daddy ya? Mulai hari ini saya akan jadi keluarga Bam. Bam okay?" "Bam okay!" "Coba panggil daddy...
![BAM [END]](https://img.wattpad.com/cover/374329945-64-k648413.jpg)