Chapter 18

18K 1.1K 14
                                        

Happy reading!



    "Bam ndak mau ikut diddy."

    "Terus Bam mau ikut siapa? Hmm? Kakak juga nggak ada di sini. Bam mau ikut abang main?" tanya Xavian. Sejak acara sarapan tadi Bam sudah berkali kali bilang ia mau tinggal di rumah aja.

    "Bam main di cini caja."

   "Bam nggak punya teman sayang," pujuk Xavian.

   "Bam mau cini! Ndak mau ikut diddy!" Bam berteriak kesal. Si kecil menghentak kakinya di atas lantai. Xavian tentunya nggak senang melihat Bam yang mulai nakal dan keras kepala.

   "Siapa yang ajarin Bam teriak begitu? Ini diddy Bam."

   Bam mengembungkan pipinya dan berbalik badan. Si kecil hanya diam dan nggak menjawap pertanyaan Xavian. Pokoknya si kecil marah dan kecewa dengan Xavian.

   "Bam? Diddy lagi ngomong ini." Xavian menarik tubuh kecil Bam untuk mendekat namun si kecil masih diam dan malah menolak sentuhan Xavian. "Bam mau diddy marah ya? Bam mau dihukum?"

    "Ich! Bam ndak mau ikut diddy hali ini. Bam mau di lumah caja."

    "Ini sudah tiga hari loh Bam. Kenapa Bam ndak mau ikut diddy?" Xavian memaksa Bam memandang tepat pada bola matanya. Ia cuma mau penjelasan mengapa si kecil tidak mau menemaninya ke kantor lagi. Sudah tiga hari si kecil menolak bermain ke kantor.

    Bam maunya setelah kelas pagi langsung di rumah saja. Yang menjadi masalah, nggak ada orang yang bisa mengawasi si kecil di rumah pada waktu siang. Ia belum bersedia untuk mencarikan babysitter untuk si kecil, Xavian maunya ngurus Bam sendirian.

    "Bam mau main di lumah caja. Kalau Bam ikut diddy, ndada yang main cama Bam. Cemua cibuk cendili."

    "Tapi kan di rumah Bam juga nggak punya teman."

    "Ndak papa. Bam punya banyak mainan. Banyak teman boneka juga. Bibi juga banyak."

     "Main di kantor diddy saja ya? Nanti diddy bawa mainan sama boneka Bam ke kantor." Xavian nggak bisa kalau nggak sama Bam. Xavian maunya dia melihat perkembangan si kecil setiap jam dan jika bisa setiap detik. Jauh dikit, Xavian mulai rindu dan gelisah.

    "Diddy! Diddy ndak cayang Bam!"

   "Ya ampun. I love you baby. Kenapa ngomong gitu."

    "Bam mau main di lumah tapi diddy ndak bolehin." Bibir si kecil mulai melengkung ke bawah dengan air mata yang mulai berjatuhan. "Bam mau di lumah diddy."

    "Sayang... anak diddy... coba bilang sama diddy. Bam kenapa mau di rumah? Kan di kantor juga bisa main, sayang. Nanti diddy usahain berenti kerja beberapa jam untuk main sama Bam. Mau ya?"

    "Diddy~ pweaceee...Bam di lumah ya? Bam ndak nakal kok. Pweacee diddy~."

    "Huh...Yaudah. Tapi seandainya Bam mau ke kantor langsung bilang Om Efren ya? Om Efren bakal jadi teman main Bam hari ini. Okay?"

    "Hehehe. Makacih diddy." Bam segera menghapus air matanya dan masuk ke dalam pelukan Xavian.

    "Now, go to living room. Bentar lagi kelas pagi Bam kan?"

    "Iya diddy. Bam belajal dulu ya. Love you diddy."

     "I love you more, baby."

***

     Kelas Bam telah selesai namun si kecil masih menulis di buku kerjanya. Yvone sudah pulang 10 menit yang lalu dan Efren lagi menyediakan air untuk si kecil mandi pagi.

BAM [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang