Chapter 7

24.8K 1.5K 52
                                        

Happy reading

   "Saya mau mengadopsi Bam. Secepatnya."

   Peter sudah menduga hal itu akan keluar dari mulut sang majikan. Ia langsung mencatat dan mencari semua data serta formulir yang mungkin diperlukan. Urusan adopsi anak itu tidak mudah tapi jika ada uang semuannya akan jadi lebih mudah.

    "Saya senang jika Tuan ingin mengadopsi Bam. Namun, saya perlu menanyakan Bam sendiri untuk hal ini karena Bam juga ada hak ke atas dirinya sendiri."

   "Saya paham. Nanti saya akan tanyakan sendiri hal ini pada Bam. Kalau Bam mau, saya akan mengurus pengadopsian dengan cepat."

   Usai perbicaraan singkat mereka, Peter langsung menanyakan apa sahaja yang diperlukan oleh panti asuhan untuk urusan pengadopsian. Sementara, Xavian melangkah keluar untuk menemui Bam.

    Dari kejauhan ia sudah melihat sosok bertubuh kecil itu bermain bersama anak-anak yang lain. Xavian beranggapan si kecil sudah semakin sihat.

   Xavian berdiri di teras panti, ia nggak ada niat untuk menghentikan kegiatan si kecil. Biarlah Bam bermain dahulu bersama teman-temannya.

   "Bam itu ada omnya," Bam menoleh melihat siapa yang dikatakan Amira.

   "Oh, itu om gelgaci! Om! Om main cama Bam mau?" Bam berlari menuju Xavian dengan tangan terulur. Xavian mengangkat si kecil ke pelukannya.

   "Om ada mau bicara sama Bam. Bisa?"

    Alis Bam berkerut karena si kecil tidak mengerti apa yang Xavian katakan. "Bicala? Bicala apa?"

   "Kamu mau ikut om?"

    "Mau! Mau! Pelgi ke mana? Lumah Abang Tommy cama Kakak Cinta?"

    "Bukan. Ikut ke rumah om."

   "Hmm? Ada pelmen? Atau ada tac banyak?"

   "Ada. Nanti om sediain semuanya buat Bam. Bam mau?"

   "Mau!"

   "Kalau mau, Bam harus jadi anak om dulu. Om bakal jadi daddy kamu. Kita akan jadi keluarga. Kamu mau?"

   "Hmm? Anak? daddy? Bam nggak tau." Anak berusia 4 tahun sudah tentu pusing mendengar hal itu. Daddy? Kenapa om gelgaci jadi daddy? Bam nggak mengerti sama sekali, yang ingin si kecil lakukan ialah bermain.

   "Begini saja. Bam cuma tinggal jawap pertanyaan om. Bam mau ikut om pulang nggak?"

   "Mau!"

   "Kamu suka sama om? Sayang sama om?"

    "Bam cuka cemuanya. Semuanya Bam cayang. Om cayang Bam?"

    "Sayang." Xavian mencuri ciuman di pipi Bam. "Bam mau jadi anak om? Nanti om belikan semua yang kamu mau, nanti kita pergi ke mana aja yang kamu mau. Nanti om juga bakal beliin kamu tas yang banyak. Mau?"

    "Wah, mau!"

    "Good baby boy. Sekarang kamu jadi anak saya."

    "Hmm! Bam anak om gelgaci cekalang." Xavian tersenyum nipis bila mendengar kata-kata Bam. Argh, ia bahagia sekali! Bila terakhir kali Xavian sesenang ini?Ah, setelah sekian lama ia akan punya anak kecil lagi.

   "Bagus. Sekarang kita bertemu dengan Buna Yana mu."

***

    Segala perbincangan antara dua pihak telah selesai. Bam kini dalam proses menjadi anak kepada Xavian Montgomery. Namun si kecil masih tinggal di panti hingga beberapa hari ke depan hingga proses-proses pengadopsian selesai.

BAM [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang