Chapter 12

24.5K 1.5K 54
                                        

TOLONG BACA NOTA DI HUJUNG CERITA.

Happy reading!

   "Opa, Bam mau diddy caja."

   "Nggak usah. Hari ini, jadi asisten miniku saja."

    "Bam macih kecil opa. Diddy bilang ndak boleh kelja," tolak Bam. Si kecil menolak untuk mengikuti sang opa keluar. Diddynya juga sama, mau saja diddy menyuruhnya bersama opa hari ini. Bam mau bobo tau.

    "Kecil? Opa lihat kau gembul sekali."

    "Bam ndak gembul! Bam macih kecil. Macih bayi." Bam menghentikan langkah kakinya. Ia menatap tajam sang opa yang menatapnya remeh. Bukannya menakutkan, Bam malah terlihat imut dengan ekspresi marah yang dibuat buat.

    "Anak bayi itu nggak boleh jalan sendiri. Sini opa gendong biar beneran kayak anak bayi gembul."

    "Ndak mau. Bam mau jalan cendili."

    "Kalau Bam mau opa gendong, nanti opa beliin Bam makanan. Mau?"

     "Lima tapi."

     "Sini gendong dulu."

***


    Devano menatap Bam gemas. Cucunya yang satu ini beda banget dengan cucunya yang lain. Mau dilihat dari sisi mana pun Bam nggak ada mirip miripnya sama keturunan Montgomery yang lain. Tapi...namanya juga cucu angkat, gimana sih.

    Cucunya yang lain lebih kaku dan nakal, Bam lebih ke random. Bisa imut, bisa nakal tapi bisa jadi penurut juga. Kulitnya juga lebih putih seperti susu dengan mata yang berkilauan. Kandungan 'lemak badan' Bam juga....hmm pastinya lebih banyak.

    Bam itu gembul namun kecil. Seharusnya anak seumur Bam punya tinggi badan sekitar 100 cm dan ke atas namun entah apa yang terjadi si kecil, anak itu  tingginya cuman 75 cm. Anak kicil~

    'Yang penting sehat.' bisik hati Devano.

    "Opa, Bam mau yang cetlobeli cama coklat," ucap Bam pada Devano.

    "Beli aja. Bilang sama kakaknya."

   "Pelmici kakak... Bam mau cetlobeli cama coklat....cama picang juga. Hehehe. Bam mau cucu coklat juga."

    "Baik, ada lagi?"

    "One americano for me." Devano menggunakan kad credit untuk membayar semuanya.

    "Makasih. Ini nomornya ya, nanti kami hantar langsung ke meja bapak."

    Devano hanya mengangguk lalu mencari meja yang masih kosong. Dengan Bam yang masih dalam gendongannya ia berjalan dengan santai.

   "Makacih opa. Muah." Satu kecupan tanda terima kasih Bam layangkan ke pipi kanan Devano. "Nanti tlaktil lagi ya."

    "Dasar tuyul kecil."

***

    Devano memutuskan untuk menginap di kediaman Xavian beberapa hari sebelum ia terbang ke Malaysia menemui anak bungsunya. Biasanya ia datang berkunjung ke rumah anak-anaknya bersama sang istri tercinta, namun kali ini sang istri tidak menemaninya karna sibuk.

    Ia tidak menyangka kedatangannya ke Indonesia kali ini mempertemukannya dengan Bam, cucu barunya. Cucunya makin bertambah saja. Istri kapan?

    Malam telah pun tiba, Devano, Xavian, Jonathan, Leonardo dan Bam kini menunggu makan malam dihidangkan. Devano meminta mereka semua makan malam bersama karna sudah lama sekali mereka nggak makan bersama.

BAM [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang