Chapter 19

17.1K 1.2K 6
                                        

Happy reading!


   Bam berlari keluar dari rumah dengan senyuman manis di bibir mungilnya. "Wah, Bam bica jalan-jalan."

   Si kecil terus mengorak langkah tanpa melihat ke belakang lagi. Rumah Xavian terletak di sebuah perumahan mewah di sebuah kota ternama di Indonesia. Rumah-rumah yang ada di dalamnya dibina dengan jarak yang jauh antara satu sama lain dan memiliki design yang unik.

   Mobil atau motor yang keluar masuk juga diperiksa dengan ketat dan biasanya hanya warga perumahan di sana yang kelihatan mengendarai kenderaan. Bam memperlahankan lariannya dan berjalan masuk ke simpang menghala ke kanan.

   Tanpa si kecil sadar, ia diawasi oleh dua orang laki laki yang tidak dikenali ketika si kecil melewati sebuah rumah mewah bertemakan open-plan living. Kebetulan sekali dua laki-laki itu lagi bermain bersama.

   "Hai, mau kemana?" tanya laki laki itu sebaik sahaja ia keluar dari pagar utama rumahnya. Laki laki itu menghampiri Bam dengan langkah pelan. "Kamu dari mana, anak kecil?"

   "Hmm...Bam mau jalan-jalan."

   Laki laki itu berlutut untuk menyamai tinggi si kecil. "Rumah kamu di mana?"

    Bam mundur. Si kecil nggak kenal dengan laki laki ini. Bam mulai takut. Bam meremas tangan mungilnya sambil memanggil Xavian perlahan berharap diddynya datang dan membawanya pergi.

    "Diddy~"

    "Hey, jangan takut. Uncle bukan orang jahat," pujuknya. Ia ingin menghapus air mata yang turun dari pipi Bam namun Bam terus melangkah mundur menjauh darinya.

    "Papa, what's going on?" Muncul anak laki-laki dalam kisaran umur 9 tahun keluar dari pagar rumah itu. Anak itu menghampiri laki-laki yang disebutnya sebagai papa dan Bam. "Who is this?"

   "Namanya Bam. Papa tanya rumahnya dimana. Eh, malah nangis."

    "Siapa nggak nangis. Muka papa seram," jawap anak itu tanpa memperdulikan Bam yang bingung melihat mereka. "Hai, nama aku Morigan. Kamu Bam ya?"

   "Iya..." jawap si kecil walaupun suara pelan sekali.

   "Perkenalkan ini papa aku, Papa Ilyas. Papa bukan orang jahat kok. Jadi jangan takut ya."

    Bam melirik ke arah Ilyas lalu menunduk kembali. "Bam mau diddy caja."

    "Rumah kamu di mana? Nanti papa aku bisa hantar kamu pulang," tambah Morigan. Ia menarik tangan si kecil namun Bam menolaknya. Nampaknya si kecil masih takut.

    "Papa rasa rumahnya masih di sekitaran sini. Karna nggak mungkin dia dari luar perumahan masuk ke sini," ucap Ilyas.

    "Yaudah. Nanti kita bawa aja Bam ke security." Morigan menyetujui saran papanya. Morigan mendekat dan megang tangan si kecil. "Masuk dulu yuk. Di luar panas."

    "Bam mau diddy Bam."

    "Iya. Nanti Bam ketemu sama diddy Bam lagi. Tapi sekarang masuk dulu ya?"

    Bam meremas hujung bajunya sebelum si kecil mengangguk pelan, bersetuju dengan permintaan Morigan.

    Namun, tanpa Bam sadari Efren dan Leo baru saja melewati kawasan itu tanpa melihat Bam yang masuk ke rumah tetangga jauhnya.

***

   "An*ing! Dimana sih itu anak? Nyusahin aja!" bentak Leo. Ia melihat ke kiri dan kanan mencari bayang si kecil namun nihil. Mustahil sih sebenarnya anak itu hilang begitu saja karna di sini tu kawalannya ketat. Bukan sembarangan orang bisa masuk ke dalam.

BAM [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang