⚠️Jangan lupa follow akun ini
Ig : wp_penjahatcinta besty
Ig: wp_anaksenja
Tiktok : wp_anaksenja04
Tiktok: amerta_harsa
Cerita ini mengisahkan perjalan cinta anak seorang kiayai, berlatarbelang pondok pesantre, AL MUHABBAH pondok pesanten terbes...
Jangan lupa follow dulu akun ini biar nggak ketinggal ceritaaa.....
Maaf kalo banyak tpyo yaaaa..... Hmmm,...
Cusss bacaaa🤗🤗🤗
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Semuanya atas jawaban Hanan, kiayi Hasan sekilas melirik kearah Mazhar dan Laya matanya netral melihat, seyuman tipis dari wajah keduanya, saat mendengar ucapan Hanan tanpa ragu, sangat jarang sekali kakak beradi itu tersenyum mereka berdua selalu menampilkan wajah datar tanpa ekpresi.
"Laya Abah boleh tau siapa Haza dan latar belakangnya?" Ucap Abah Hasan.
Laya sedikit terkejut saat Abah Hasan malah bertanya kepada dirinya kenapa tidak langsunh bertanya kepada Hanan, tapi bukan Laya yang menjawab melaikan Mazhar.
"Afwan Bah, Mbak Haza putri dari Gus Arfan dan Ning Ameena cucu kiyai Fihkar," jelas Mazhar. Abah, Uma dan Ning Unara terkejut atas penjelasan Mazhar tadi tak menyang jika Haza seorang Ning pemiliki marga Amaeena yang sangat terkenal, cucu kiyai Fihkar pemilik pondok pesantren terbesar pertama di surabaya.
" Afwan Gus, maksud Gus mbak Haza adalah Ning Ameera Shaza Qomirah yang selamaini dicari cari," ucap Ning Unara.
" Na'am Ning," sahut Laya.
Ning Unara paham akan jawab Ning Laya, semua orang juga tau jika Mazhar ati sekali dengan perempuan kecuali saudara pun masih memdapatkan sifat dingginya, tak heran jika Laya yang menjawab bukan Mazhar.
"MasyAllah Nak, semoga lancar ya acara pernikahan kalian," ucap Uma Laila.
"Loh, mbak seharusnya Hanan dengan Fayda bukan malah dengan Haza," sanggah Ami.
"Tidak apa Mbak berati mereka berdua tidak jodoh, kita dukung apa keputasan anak anak kita ya mbak demin kebahagian mereka," jawab Uma
"Sudah mbak, tidak apa itu sudah keputusan Nak Hanan," imbuh Abah Hasan.
"Afwan mas, kita ajeng[badhe] nitipkan unara wonten ngriki angsal[KEPARENG], fayda ingkang ajeng[badhe] kita bawak wangsul[KONDUR] dumugi keadanipun membaik, " ucap umma.
[Afwan Mas, kami mau nitipkan Unara disini boleh, Fayda yang akan kami bawak pulang sampai keadanya membaik," ucap Umma.
"na'am mbak, mangga[sumangga] kita sinten nampi ning unara wonten ngriki, " sumaur abi. [Na'am Mbak, silakan kami siapa menerima Ning Unara disini," sahut Abi.]
"nggih sampun us'man masalah perjodohan puniki[MENIKA] sampun bibar kalih[kaliyan] pembatal puniki[MENIKA] nggih, kita nedha[NYUWUN] pangapunten[nuwun sewu] inggil tinggah pajeng putri kita, utawi nggih ucapanipun wanci[wekdal] saweg emosi, " kantenan abah.