Chapter 42

836 60 27
                                        

Terbaring tak sadarkan diri di ruang gawat darurat, dikelilingi dokter dan perawat yang bertindak cepat. Alat-alat medis berbunyi terus-menerus, memecah keheningan dengan suara bip yang monoton. Xiaozhan kritis.

Wajahnya pucat, darah masih mengalir deras dari beberapa lukanya, membasahi hampir seluruh pakaian yang dipakai.

Di luar ruangan, Yibo berdiri terpaku, punggungnya bersandar di dinding koridor yang dingin. Bahunya gemetar hebat, menahan isakan yang tertahan di tenggorokan. Matanya merah, sembap, tapi tak ada air mata yang cukup untuk melukiskan rasa bersalah dan ketakutannya. Ia menggenggam erat kain kausnya, jarinya hampir menembus seratnya, berharap rasa sakit itu dapat mengalihkan perasaan putus asa yang menggerogoti dadanya.

"Kumohon, jangan tinggalkan aku..." bisiknya hampir tanpa suara.

Yibo terjatuh ke lantai, lututnya tak sanggup menopang beban tubuhnya lagi. Dalam kepalanya, bayangan Xiaozhan tersenyum samar terus menghantui, seperti ejekan kejam dari takdir. Dunia serasa runtuh perlahan, dan ia hanya bisa berbisik, lagi dan lagi, "Jangan pergi... Kumohon, jangan pergi..."

Di dalam, mereka memutuskan untuk melakukan operasi darurat.

Tak lama, seorang dokter keluar dari ruangan itu. Wajahnya tegang, suaranya pelan, tapi menusuk seperti belati ke telinga Yibo.

"Tuan Wang," katanya, ragu-ragu sebelum melanjutkan, "Kami harus segera mengeluarkan bayi nya. Kondisi istri Anda kritis. Jika kami tidak bertindak sekarang, nyawanya bisa—" dokter menghentikan kalimatnya, tapi Yibo tahu akhir dari kata-kata itu.

Dokter menarik napas dalam, menahan sesuatu yang lebih berat. "Kami tidak mendeteksi detak jantung bayi nya. Dia… dia sudah tidak ada."

Dunia Yibo runtuh. Seolah udara di sekitarnya lenyap, menyisakan kehampaan yang menyesakkan. Lututnya melemah, tangannya mencari dinding untuk menopang tubuh yang nyaris jatuh lagi. Air mata yang sejak tadi ditahan kini mengalir tanpa henti. Setiap kata dokter terasa seperti palu yang menghantam dadanya, menghancurkan harapannya menjadi debu.

Ia mencoba bicara, tapi hanya kelu yang muncul. Bibirnya bergetar, suaranya tercekat di tenggorokan. Hanya sebuah anggukan lemah yang mampu ia berikan, meski hatinya menjerit pilu.

Di ruang operasi, dokter dan timnya segera melakukan prosedur.

Waktu berlalu perlahan, tiap menit terasa seperti jam. Xiaozhan masih mengalami pendarahan hebat, dan meskipun mereka telah melakukan segala yang mereka bisa, tubuh Xiaozhan tak menunjukkan tanda-tanda membaik.

Akhirnya, setelah beberapa jam yang sangat panjang, Xiao Zhan dipindahkan ke ruang perawatan intensif dalam kondisi koma. Dokter mengatakan pendarahan telah berhenti, akan tetapi Xiao Zhan masih dalam kondisi kritis.

"Untuk saat ini, dia berhasil diselamatkan, tapi kondisinya masih kritis, dan harapannya... masih sangat rendah."
Kalimat dokter itu terus terngiang di benaknya, mengisi pikirannya dengan ketakutan. Yibo berdiri di sana, membeku, tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Perlahan, dia bersandar ke dinding, mengatur napas yang terasa sesak.

Di ruang intensif, suasana terasa sunyi, hanya terdengar suara alat-alat medis yang terus berbunyi. Zhan terbaring di atas ranjang, tubuhnya terlihat begitu lemah. Beberapa infus dan monitor terpasang di sekelilingnya, kondisinya masih jauh dari stabil.

Yibo berdiri di samping nya, wajahnya menunduk menatap sendu. Air mata yang tadi membasahi pipinya kini telah mengering dibalik masker, hatinya masih terasa seperti diperas.

"Zhanzhan," bisiknya pelan, suaranya serak karena terlalu banyak menangis. "Bertahanlah untukku. "

Tatapan nya terus tertuju pada wajah istrinya yang tampak begitu damai dalam koma nya.
Tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang selain menunggu. Ia bahkan belum sempat memberitahu semua keluarganya tentang apa yang terjadi. Ia merasa mereka harus tahu, tapi di sisi lain, ia merasa belum siap menghadapi mereka.

My Young Husband [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang