Chapter 50

1K 70 18
                                        

Dua hari setelahnya, Xiaozhan mengikuti keinginan orang tuanya. Pagi itu Xiaozhan langsung di bawa pergi Ryan untuk pergi ke Italia.

Xiaozhan menatap kosong ke luar jendela mobil, mereka menuju bandara sekarang. Orangtua nya ikut mengantar sampai bandara, suara mereka di kursi depan terdengar sayup-sayup, dia tidak benar-benar mendengarkan. Pikirannya melayang-layang, terjebak dalam labirin pikiran yang tak kunjung menemukan ujung. Tidak ada yang benar-benar membuatnya merasa lebih baik.

Di bandara, langkah kakinya terasa berat. Setiap tarikan napas terasa lambat dan hampa. Ketika pesawat lepas landas, Xiaozhan memejamkan mata, berusaha menenangkan pikirannya. Namun, tak ada yang benar-benar tenang di dalam dirinya. Kepergiannya terasa seperti pelarian, dan mulai meninggalkan semua yang berhubungan dengan masa lalu nya.

Xiaozhan tinggal di Scilla, sebuah desa kecil yang menawan di Calabria, selatan Italia. Laut Tyrrhenian yang membentang luas, berkilauan di bawah sinar matahari. Di kejauhan, ombak lembut menghantam garis pantai. Tepat di atas bukit yang menjulang, Castello Ruffo berdiri megah, seolah menjadi penjaga abadi desa kecil itu.

Jalan setapak yang dihiasi dengan rumah-rumah bergaya klasik, dengan balkon kecil yang penuh dengan pot bunga. Pohon-pohon palem yang berjajar di sepanjang jalan.

Hari-hari di sana terasa berjalan lambat. Setiap pagi, Xiaozhan bangun dengan tubuh yang mulai membaik namun berbeda jauh dengan pikirannya. Ia menghabiskan banyak waktu duduk di balkon, menatap langit cerah atau orang-orang yang berlalu lalang di jalanan. Ketenangan di sana terasa seperti ironi bagi batinnya yang bergejolak.

Malam-malam terasa lebih panjang, rumahnya selalu sunyi membuat Xiaozhan seringkali terjaga.
Ia selalu memeriksa ponselnya sebelum tidur, membaca pesan dari keluarganya di sana yang menanyakan kabarnya. Xiaozhan hanya membaca tanpa membalas, tak punya energi untuk menceritakan apa yang ia rasakan. Semua terasa kosong, dan ia masih tak tahu kapan atau bagaimana semuanya akan berubah.







***

"Zhan,"

"Jangan terus memikirkan hal berat, kamu perlu menjaga kondisimu."

Xiaozhan melirik sekilas kemudian mengangguk singkat.

"Mau aku buatkan teh lagi atau mau makanan yang lain? Sarapanmu tidak di makan sama sekali,"

"Aku tidak selera makan. Aku mau kembali ke kamar." Ucapnya ramah, kemudian segera berdiri, namun ketika hendak bangun, dia duduk kembali karena kepalanya pusing.

"Zhan, kamu sakit?"

Xiaozhan belum menjawab. Perutnya mulai mual lagi. "Aku mau ke kamar"

"Biar aku antar,"

"Tidak perlu, aku hanya pusing. Lanjutkan sarapan kalian,"

Yang lain hanya bisa menghela napas, melihat keadaan Xiaozhan yang hari ke hari terus seperti itu.

"Biarkan dia istirahat... Dia pasti memikirkan laki-laki itu lagi." Ujar Ryan, istri nya hanya mengangguk kemudian duduk lagi.

"Kamu akan kembali lagi ke China?" tanya Istrinya

Ryan mengangguk. "Papa dan Lucas memintaku untuk membantu menyelesaikan kekacauan kamarin setelah membawa Zhan pindah."

"Seberapa parah masalah di sana?"

"Selain masalah dengan Xiao zhan, Matteo ternyata menjalankan bisnis gelap tanpa sepengetahuan Papa, padahal dia sudah dipercaya untuk mengelola beberapa wilayah penting."

My Young Husband [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang