Mereka menyeret kasar Yibo yang masih setengah sadar. Sedangkan Yibo masih berusaha melawan, tapi rasanya tenaganya sudah terkuras habis, semua ototnya terasa lemah, sementara pandangannya semakin kabur.
Salah satu pria berbadan besar melempar tubuh Yibo masuk ke mobil, tangannya mulai diikat dengan kasar. Mobil mulai melaju, meninggalkan jalanan malam sepi. Waktu tempuh saat itu sangat lama, perjalanan mereka melewati hutan.
Berhenti di depan sebuah bangunan besar dan suram, gerbangnya menjulang tinggi. Ini jelas markas Matteo– tempat yang pernah beberapa kali Yibo datangi dulu.
Yibo ditarik keluar tanpa belas kasihan, menyeretnya ke dalam. Setelah melewati beberapa lorong gelap, mereka membawanya ke ruangan bawah tanah besar. Yibo yang masih terikat itu langsung jatuh tersungkur ketika di lempar.
"Selamat datang kembali, Yibo," senyuman sinisnya kembali muncul. "Kau tahu kenapa kau ada di sini?"
Yibo hanya bisa tersengal, menahan sakit yang menyiksa di setiap inci tubuhnya. "Apa yang kau inginkan dariku?"
Matteo berjalan mendekat menatap Yibo yang terkapar di lantai dengan sorot kebencian. "Memberi mu pelajaran tentu saja."
Yibo menggertakkan giginya, sorot matanya tak kalah tajam menatapnya balik.
"Kau akan membayar dengan cara yang paling menyakitkan."
"Kau tahu, Yibo, aku selalu menghargai kesetiaan. Dan kau telah melanggar aturan itu. Sekarang, waktunya kau merasakan akibatnya."
Tak memberikan Yibo kesempatan untuk menjawab, Matteo menganggukkan kepalanya sebagai isyarat pada dua pria besar yang berdiri di belakangnya. Mereka langsung melanjutkan penyiksaan mereka.
Tendangan kaki menghantam perutnya dengan keras, membuat napasnya terhenti sejenak. Tubuhnya secara naluriah bereaksi terhadap rasa sakit. Setiap kali ia menarik napas, rasanya seperti ada sesuatu yang menusuk dada nya.
Mereka juga mulai mencambuk. Suara sabetan yang mengenai kulit terdengar ngilu, menggema dalam ruangan kosong berbau amis. Tubuhnya menggeliat, melengkung karena sakit yang tak tertahankan. Cambuk itu meninggalkan garis-garis merah berdarah yang menembus di pakaiannya.
"Arghh!!"
Sekali lagi menghantam punggungnya, lebih keras dari sebelumnya. Darah mulai merembes dari luka-luka yang semakin dalam, membasahi kain yang masih tersisa. Rasa sakit nya begitu hebat, membuatnya tak sanggup berpikir jernih. Penglihatannya semakin kabur, dan tubuhnya makin kehilangan tenaga.
"Lanjutkan,"
Mereka mematuhi tanpa ragu, mulai menghajar Yibo dengan pukulan keras di perut dan tubuhnya yang lain. Darah mengalir dari hidung dan sudut mulutnya, menetes ke lantai dingin di bawahnya. Napasnya tersengal, tubuhnya bergetar tak bisa menahan sakit yang seolah tak ada akhirnya.
Setiap detik rasanya penuh penderitaan. Cambukan dan pukulan datang silih berganti tanpa henti. Suaranya semakin serak hampir tak lagi mampu mengeluarkan suara.
"Cukup. Kumohon cukuph-" Pintanya ampun dengan suara gemetar, mulutnya sudah tebatuk-batuk mengeluarkan darah. Mata yang sudah tak sanggup terbuka menatap Pria yang jauh berdiri di depan nya.
Baju yang dikenakan Yibo sekarang tidak lebih dari kain sobek-sobek, basah oleh darahnya sendiri.
Matteo dengan seringaian nya, menghentikan anak buahnya. "Aku rasa kau sudah mendapatkan cukup pelajaran untuk malam ini," katanya dingin, lalu berjalan mendekat menatap Yibo dengan tajam. "Ingatlah rasa sakit nya, aku masih belum selesai denganmu."
Yibo yang nyaris tidak sadarkan diri, hanya bisa mendengar suara yang perlahan memudar. Air matanya mengalir bebas, pikirannya jauh pada Xiaozhan. Dia merindukan istrinya. Membayangkan entah dia akan hidup atau tidak setelah ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Young Husband [END]
FanfictionSiapa sangka pertemuan yang salah kaprah bisa menyeret Xiao Zhan pada pernikahan tak terduga dengan Wang Yibo-seorang pria yang awalnya hadir dengan niat terselubung. Namun takdir mempermainkan mereka: dari pertemuan yang salah hingga pernikahan yan...
![My Young Husband [END]](https://img.wattpad.com/cover/371965456-64-k86016.jpg)