Yibo tidak bisa tidur semalam, bahkan ketika merasa tubuhnya hampir tak sanggup menahan lelah.
Menatap wajah istrinya yang masih terpejam. Jemarinya masih menggenggam, meski tak ada tekanan balik dari tangan Xiaozhan.
Hanya suara mesin pemantau jantung dan hembusan napas yang menjadi satu-satunya pengingat bahwa Xiaozhan masih bersamanya.
Ketukan pelan di pintu mengalihkan perhatiannya. Yibo menoleh dan melihat ibunya masuk.
"Bu," suaranya lelah.
Ibunya mendekat, menatap putranya dengan mata penuh khawatir. "Apa kamu tidak tidur lagi, Yibo?" tanyanya pelan.
Yibo hanya diam. Ia tak ingin berdebat, tak ingin mendengar nasihat bagaimana ia harus menjaga dirinya sendiri. Yang dirinya ingin hanya— istri nya bangun.
"Sudah makan?"
Lagi-lagi Yibo diam. Dirinya bahkan tidak berpikir tentang makanan sejak semalam.
Ibunya menghela napas jengah, ekspresinya berubah kesal.
Ibunya mulai kehilangan kesabaran. Wanita itu melipat tangan di dada. "Kamu sudah sering melewatkan makan berkali-kali. Kamu pikir tubuhmu itu dari baja?"
Yibo tetap diam.
"Mau jatuh sakit juga? Kamu pikir menantu ku akan senang kalau dia bangun dan melihat suaminya sakit karena tidak makan dan tidak tidur dengan baik?"
Yibo mengatupkan rahangnya, tampak menahan kesal. Ibunya memukul lengan dia dengan cukup keras, membuat lelaki itu menoleh dengan sorot mata protes.
"Ibu nya, ayah nya, aku! Semuanya khawatir, dan kamu Yibo justru menambah beban dengan keras kepala seperti ini."
Yibo mengepalkan tangan, rahangnya mengencang.
"Aku tatap mau menjaganya,"
"Kau pikir dengan kau seperti ini, Xiaozhan akan bangun lebih cepat? Yang ada, kau malah akan menyulitkan semua orang."
Yibo menutup mata, ia menelan emosinya. Tidak ingin berdebat. Ia hanya ingin tetap di sisi Zhan, menggenggam tangan istrinya.
Namun, ibunya juga tidak akan berhenti begitu saja. Dia meraih pergelangan tangan Yibo dan menariknya berdiri.
"Bu!" Yibo merengut, memaksa melepaskan tangannya.
"Kita pergi dari sini."
"Aku tidak mau!"
Tidak peduli dengan jawaban Yibo, sang ibu menariknya lebih kuat, membuat Yibo nyaris tersandung.
"Kau seperti anak kecil! Lihat nanti, aku akan mengadu pada menantu ku, karena kelakuanmu ini."
Yibo menggerutu terpaksa membiarkan dirinya ditarik keluar. Ibunya tidak melepaskan genggamannya sampai mereka tiba di depan lift. Dengan wajah masam, Yibo membiarkan dirinya didorong masuk ke dalam, sementara ibunya menekan tombol menuju lantai di mana kantin rumah sakit berada.
Yibo melipat tangan di dada dalam ekspresi tidak senang. Ia kesal karena ibunya memaksanya keluar, apalagi meninggalkan Zhan sendirian.
"Tidak perlu memasang wajah seperti itu," ibunya mendengus. "Aku tidak sedang menyeretmu ke tempat penyiksaan."
Yibo mendesah pelan, tetapi tidak membalas.
Sesampainya di lantai kantin, ibunya langsung menggiringnya ke salah satu meja kosong di sudut ruangan. Kantin rumah sakit tidak terlalu ramai pagi ini, hanya ada beberapa keluarga pasien yang duduk dengan wajah lelah dan mata sembab.
"Duduk." Ibunya menepuk kursi di hadapan Yibo sebelum berjalan ke area pemesanan makanan. Yibo tidak punya pilihan selain menurut.
Tak lama kemudian, ibunya kembali dengan nampan berisi bubur, satu porsi sayuran, dan segelas teh hangat. Ia meletakkan semuanya di depan Yibo, lalu duduk di kursi seberangnya sambil menyilangkan tangan di dada.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Young Husband [END]
FanfictionSiapa sangka pertemuan yang salah kaprah bisa menyeret Xiao Zhan pada pernikahan tak terduga dengan Wang Yibo-seorang pria yang awalnya hadir dengan niat terselubung. Namun takdir mempermainkan mereka: dari pertemuan yang salah hingga pernikahan yan...
![My Young Husband [END]](https://img.wattpad.com/cover/371965456-64-k86016.jpg)