Setelah satu minggu dirawat di rumah sakit, keadaan Ayah Echa berangsur pulih. Hari ini dokter telah memperbolehkan Abi pulang. Echa pun membantu sang Ibu untuk mengantarkan Ayahnya pulang. Sementara Bayu membantu membawakan barang-barang mereka.
Betapa bahagianya Echa saat dokter mengatakan bahwa Ayahnya sudah diperbolehkan pulang, namun setiap tiga hari sekali Abi harus kontrol ke rumah sakit, tidak lupa dokter meresepkan beberapa obat yang harus diminum rutin.
Untungnya Abi beserta keluarga memiliki BPJS kesehatan dari pemerintah sehingga ia tidak perlu mengeluarkan biaya apapun lagi.
Sesampainya di rumah, Abi langsung beristirahat dengan Dewi yang setia mendampingi. Semenjak Abi sakit, Ibunya itu tidak pernah mau jauh-jauh dari Ayahnya.
“Bu, nanti tokonya Echa saja yang jaga. Ibu temani Ayah saja, ya.” Dewi tampak mengangguk pelan.
Keluarga Echa ini memiliki toko roti yang tidak terlalu besar, namun tidak pernah sepi pembeli. Roti buatan Dewi sangat lembut dan juga enak, sehingga mereka telah memiliki banyak pelanggan.
Sebenarnya Echa jarang sekali menjaga toko roti milik Ibunya karena jadwal kuliahnya dari pagi sampai sore, lalu malamnya ia harus mengerjakan tugas dan projek. Terkadang di hari libur Echa baru bisa membantu orangtuanya.
Kini Echa harus pintar-pintar membagi waktu untuk membantu orangtuanya, apalagi sang Ayah yang masih dalam masa pemulihan dan harus tetap dijaga. Mau tidak mau Echa menyisihkan waktu.
Pukul dua siang ia mulai membuka toko. Sembari menunggu pembeli, Echa merapikan susunan roti berbagai macam rasa di etalase, tidak lupa ia juga merapikan kue kering buatannya.
“Bu, saya beli donat bomboloni rasa coklat sama kejunya lima ya.” tanpa melihat si pembeli, Echa segera mengambilkan pesanannya.
“Tunggu sebentar ya, Mas.” balas Echa setelah mendengar suara laki-laki.
Setelah mengambil pesanan si pembeli, Echa segera menyerahkan kepada lelaki yang tengah menunduk bermain ponsel.
“Ini Mas, totalnya jadi dua puluh lima ribu.” ucap Echa sambil tersenyum ramah sebelum senyum itu menghilang tatkala netranya bersitatap dengan si pembeli.
“Mas Evan.” lirihnya.
Evan terkejut, biasanya seorang wanita paruh baya yang menjaga toko, namun kali ini gadis pemilik kartu yang ia temui. Pemuda itu hanya meliriknya sekilas lalu menyerahkan selembar uang dua puluh ribu dan selembar lima ribuan.
“Kamu tahu nama saya?” tanya Evan. Sementara Echa mengambil uang pemuda itu sambil mengangguk singkat.
“Teman saya yang kasih tahu.” jawaban Echa membuat Evan menaikkan satu alisnya.
“Saya tidak tahu jika saya cukup terkenal ternyata.”
Echa hanya tersenyum canggung menanggapi. Kemudian Evan pun segera mengambil donatnya dan berbalik untuk keluar sebelum sebuah suara menginterupsi.
“Tunggu, Mas.” Evan berbalik sambil menaikkan satu alisnya seolah bertanya.
“Ini saya beri bonus dua donat sebagai rasa terimakasih karena telah menemukan kartu saya. Maaf waktu itu saya belum sempat mengucapkan rasa terimakasih dengan benar.” ucap Echa, ia memberikan dua donat rasa stroberi yang diterima oleh Evan.
“Tidak masalah. Omong-omong terimakasih donatnya, ini kesukaan Mama saya.”
Tanpa menunggu balasan lawan bicaranya, Evan segera keluar dari toko meninggalkan Echa yang mendengus pelan.
“Cuek sekali.” ucapnya melihat kepergian Evan.
***
Satu bulan berlalu, seperti biasa Echa mengendarai motornya ke kampus. Setelah memarkirkan si merah dengan apik, gadis itu segera berjalan memasuki gedung fakultasnya yang berada paling ujung.
Sebelum memasuki kelas, Echa pergi ke toilet kampus yang berada di sebelah taman belakang. Setelah menuntaskan panggilan alamnya, Echa segera masuk ke dalam kelas karena sepuluh menit lagi kelas akan di mulai. Namun saat baru beberapa langkah dari toilet, samar-samar ia mendengar suara dari taman belakang. Echa yang penasaran pun melangkah mendekat dan bersembunyi dibalik tembok kamar mandi.
“Sampai kapan kamu hanya menganggap saya teman, Cantika?”
Di sana Echa melihat Evan berdiri berhadapan dengan gadis yang ia ketahui bernama Cantika.
“Evan, aku takut.” jawab sang gadis. Lantas Evan menggenggam kedua tangan gadisnya.
“Apa yang kamu takutkan? kamu tidak pernah mengatakan apapun kepada saya.” pemuda itu menghela nafas sebentar sebelum kembali bersuara.
“Saya sudah lama memiliki perasaan ini, saya cinta sama kamu Cantika. Saya ingin hubungan kita tidak hanya sekedar teman. Apa kamu tidak memiliki perasaan dengan saya?”
Cantika menatap mata teduh Evan, rasanya ia tidak ingin menyakiti pemuda dihadapannya ini. Siapa yang bisa menolak pesona Evan, jikalau bisa, dari dulu Cantika sudah menerima ajakan Evan untuk berkencan. Namun, karena suatu alasan ia tidak bisa menerima Evan sebagai kekasihnya.
“Aku tidak bisa Evan, lebih baik kamu cari gadis lain daripada aku, maaf.” Cantika lantas pergi begitu saja dengan tangan yang mengusap pipi pertanda bahwa ia menangis.
Evan terkekeh, lagi-lagi Cantika menolaknya. Apa salahnya sehingga gadis itu sulit sekali menerima Evan sebagai kekasihnya. Tapi entah kenapa Evan merasa Cantika sebenarnya memiliki perasaan yang sama terhadap dirinya, namun ada suatu hal yang disembunyikan oleh gadis itu.
Echa yang sedari tadi mendengar percakapan kedua insan itu memandang sendu. Pasti ada suatu hal yang membuat Cantika tidak bisa menerima Evan, dari tatapan mata keduanya, Echa dapat melihat sorotan penuh cinta. Mereka sebenarnya saling mencintai, namun tidak bisa bersama entah karena apa.
Melirik jam tangannya, Echa segera berbalik menjauh dari tempat itu sebelum sebuah suara menghentikan langkahnya.
“Echa? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Evan menginterupsi langkah Echa.
Mampus, batinnya.
Dengan kikuk, Echa membalikkan badannya sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal untuk mencari alasan yang tepat.
“Ah itu, anu tadi saya habis buang pembalut di tempat sampah.” ucap Echa sambil menunjuk tempat sampah yang tidak jauh dari Evan berdiri. Tak lama kemudian Echa menepuk mulutnya pelan bisa-bisanya ia mengatakan hal pribadi perempuan kepada laki-laki.
“Oh.” Evan mengangguk sebentar sebelum pergi dari sana.
Kali ini Echa dibuat melongo melihat tingkah Evan yang kelewat dingin. Memang ia tidak salah dengar, tadi pemuda itu bisa bicara panjang lebar dengan Cantika. Tapi, giliran dengan dirinya hanya satu dua kata yang keluar, paling banyak mungkin tidak sampai sepuluh kata.
“Orgil.”
Echa pun bergegas menuju kelas sebelum pelajaran di mulai.
***
Dalam perjalanan pulang, tidak lupa Echa mampir ke sebuah apotek untuk membeli beberapa obat sang Ayah.
Gadis itu berjalan sambil membaca pesan dari ibunya terkait obat apa saja yang harus Echa beli. Karena ia fokus membaca ponsel, sehingga Echa tidak sengaja menabrak seseorang.
“Ah maaf saya tidak sengaja-” Echa mematung melihat gadis yang tidak sengaja ia tabrak. Terlihat jika gadis itu buru-buru memasukkan barang yang sempat terjatuh ke dalam tasnya.
Sambil membungkuk gadis itu pergi tanpa mengucap satu kata pun.
“Bukankah yang tadi itu Mbak Cantika? Untuk apa dia beli testpack?” gumam Echa. Namun ia tidak terlalu memikirkannya mungkin itu untuk ibunya, siapa tahu.
Echa bergegas masuk ke dalam apotik untuk membeli beberapa obat. Sementara itu Cantika langsung masuk ke dalam sebuah mobil yang sudah menunggu di seberang jalan.
_______
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
PRADHANA
FanfictionBagaimana jika hidupmu hanya berputar pada seorang Evan, pemuda yang kerap kali bersikap dingin pada gadis semanis Echa. Namun perlahan semuanya berubah, satu-persatu kepingan puzzle itu menjadi satu merangkai sebuah cerita yang tidak terduga. Mungk...
