15. Strolling Around City

174 37 6
                                        

Selly berhasil menyamakan langkahnya dengan Echa dan segera menghentikan gadis itu. "Kamu kenapa sih Cha? tiba-tiba pergi gitu aja." tanya Selly sambil masih terengah-engah karena habis berlari mengejar Echa.

"Sebenarnya ada hal yang belum aku ceritakan padamu Sel, mengenai aku dan Mas Evan." jawab Echa yang memilih untuk menceritakan tentang dirinya dan Evan. Selly masih setia menunggu Echa melanjutkan pembicaraan.

"Aku dan Mas Evan memang sedang dekat Sel, tap–"

"APA?" Echa segera membungkam mulut Selly yang tiba-tiba berteriak. Gadis itu menyuruh Selly untuk diam dengan gestur tangan yang langsung diangguki oleh sang sahabat.

"Dengar dulu aku belum selesai berbicara." Selly pun mengarahkan tangannya seperti gestur mengunci mulut dan membiarkan Echa kembali berkata. Echa pun menceritakan tentang kejadian tadi pagi pada Selly yang senantiasa mendengarkan. Setelah mendengar keseluruhan cerita Echa, Selly pun tidak bisa menutupi keterkejutannya. Sosok Mas Evan yang terkenal cuek itu bisa berperilaku demikian pada sahabatnya.

"Jadi kalian ini semacam hts?" Echa mengernyit bingung. "Apa itu hts?" Selly menepuk dahinya pelan, ia lupa jika temannya satu ini sangat kudet.

"Hts itu hubungan tanpa status, Echa." jawab Selly membuat Echa ber-oh ria. Ia bahkan baru mengetahui istilah seperti itu.

"Ya, mungkin bisa di bilang seperti itu." setelah itu Selly langsung mengubah ekspresinya menggoda Echa. "Jadi tadi kamu cemburu melihat Mas Evan dengan Mbak Cantika?" pertanyaan Selly sukses membuat Echa gelagapan.

"Ti-tidak, aku hanya–"

"Ekhem." ucapan Echa terhenti tatkala suara seseorang menginterupsi keduanya. Baik Echa maupun Selly segera menoleh untuk melihat siapa yang menyela pembicaraan mereka. Saat tahu Evan yang datang, jujur saja Echa sedikit terkejut, bukannya tadi pemuda itu masih bercengkerama dengan Cantika.

Selly yang paham akan situasi ini pun pamit undur diri. "Sepertinya Jeremy sudah menungguku Cha, nanti kabari saja ya jika bisa. Kan kamu bisa mengajak Mas Evan biar tidak sendirian." ucap Selly diakhiri dengan kedipan singkat sebelum ia berlalu pergi meninggalkan dua manusia berbeda jenis kelamin ini.

Setelah kepergian Selly, Evan langsung menatap Echa yang mencoba menghindari tatapannya. Lucu sekali, pikirnya.

"Jadi apa yang ada di dalam pikiran kamu sekarang? coba beritahu pada saya karena saya tidak bisa membaca pikiran kamu." tanya Evan saat melihat Echa seperti sedang memikirkan sesuatu namun hingga beberapa menit gadis itu tak kunjung bersuara.

"Echa, tanyakan saja apa yang ada di dalam pikiran kamu? saya tidak keberatan." kali ini Echa membalas tatapan Evan, pemuda ini seolah tahu ada banyak hal yang berkecamuk dalam benak Echa. Evan hanya ingin gadis ini mengutarakan apa yang sedang ia pikirkan.

"Tidak ada." jawab Echa sambil menggeleng pelan. Evan yang melihat itu pun lantas memegang kedua pundak sang gadis. Ia tahu Echa masih cukup ragu untuk mengutarakan.

"Kalau yang ingin kamu tanyakan adalah kenapa tadi saya bersama Cantika, itu karena Mas Zaidan tadi menelfon saya, dia bilang Cantika sedang tidak enak badan dan meminta bantuan saya untuk mengecek keadaan Cantika sebelum dia datang. Jangan berpikir yang tidak-tidak, kan saya sudah bilang saya sedang belajar untuk mencintai kamu." Echa langsung memeluk tubuh Evan dan menangis. Merutuki dirinya sendiri yang selalu berburuk sangka.

"Maafkan saya Mas, saya sedang datang bulan jadi suasana hati saya sedikit sensitif." ucap Echa sambil meremas baju Evan. Sementara Evan merengkuh tubuh Echa sambil mengusap pelan punggung sang gadis.

"Sudah jangan menangis, jika ada yang ingin kamu tanyakan langsung saja Echa, saya akan menjawabnya. Jangan diam-diam pergi seperti tadi, saya jadi bingung." jelas Evan yang langsung diangguki oleh Echa. Setelah tangisnya sedikit reda Echa melerai pelukan mereka dan menghapus sisa air matanya.

PRADHANATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang