12. Afeksi Tidak Biasa

167 39 18
                                        

Echa sedang bersiap-siap untuk bekerja, ini adalah hari pertamanya. Setelah menitipkan sang ibu pada Mas Bayu, kini Echa akan bergegas untuk berangkat menuju tempatnya bekerja, tidak lupa dengan si merah motor kesayangannya.

Tempatnya lumayan jauh dari rumah Echa, sekitar empat puluh menit perjalanan hingga gadis itu sampai di sebuah gedung tempatnya bekerja. Sebenarnya Echa bekerja di restoran yang kebetulan ada pesanan cathering dan membutuhkan tambahan pekerja, jadilah Echa langsung diterima dan bekerja hari ini.

Sesampainya di sana, Echa segera berganti pakaian dan bergabung dengan yang lain untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk acara di gedung ini. Ia tidak tahu ada acara apa, tapi melihat betapa megahnya dekorasi gedung ini, ia bisa menyimpulkan bahwa ini adalah acara pernikahan yang sangat mewah tentunya. Bahkan kue pernikahannya saja lebih tinggi dari badannya sendiri.

Gadis itu tak hentinya berdecak kagum melihat dekorasi gedung yang sangat cantik. Echa jadi penasaran siapakah yang melangsungkan pernikahannya di sini, karena acaranya masih dua jam lagi jadi belum ada yang datang, hanya beberapa pekerja dekorasi dan ada petugas wedding organizer.

"Hei sedang apa kau di sana, ayo cepat rapikan makanan ini." lamunan Echa seketika buyar dan langsung membungkuk meminta maaf pada pegawai seniornya.

"Maaf kak." Echa segera bergegas merapikan beberapa makanan dan minuman di atas meja, ia tidak ingin mendapat kesan buruk di hari pertamanya.

****

Sementara itu Evan duduk di dalam mobil dengan kedua orangtuanya bersiap untuk berangkat ke acara pernikahan Cantika dan Zaidan. Fera menatap putranya yang hanya diam dan sering melamun, wanita itu menghela nafas lalu tersenyum kecil seraya mengusap lengan putranya.

"Kamu tidak apa-apa, nak?" Evan menoleh lalu mengangguk pelan.

"Aku baik-baik saja, Ma." jawabnya, Fera beralih menggenggam tangan putranya.

"Van, kamu sudah besar nak. Mama tau kamu menyukai Cantika, tapi kalian tidak berjodoh. Mama harap kamu bisa menerima ini, dan jangan perlihatkan kesedihanmu, nak. Tidak enak dengan Zaidan." Evan tampak membuang nafasnya kasar sebelum menatap Fera dengan sendu.

"Evan sudah merelakan Cantika dengan Mas Zaidan, Mama tidak perlu khawatir." jawab Evan sambil menggenggam balik tangan Ibunya, menyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.

Setelah dua puluh menit berkendara, mereka pun sampai di sebuah gedung pernikahan dengan dekorasi yang sangat cantik dan meriah. Evan berjalan di belakang Harry dan Fera yang berjalan lebih dulu menerima sambutan dari beberapa kerabat yang hadir di sana. Melihat kedua orangtua nya yang sibuk bercengkerama dengan kerabat-kerabat jauhnya, Evan pun memilih untuk melipir ke ujung ruangan guna menghindari keramaian.

Di depan sana, dapat ia lihat Cantika dan Zaidan yang berdiri dengan senyum merekah di wajah keduanya. Mereka tampak bahagia menyambut para tamu yang hadir dan memberikan ucapan selamat. Rasanya Evan ingin menertawakan diri sendiri saja, bagaimana bisa selama ini ia hanya sedang menjaga jodoh dari pamannya.

"Evan!" Pria itu menoleh ke belakang guna melihat siapa yang berteriak memanggilnya, dan detik berikutnya Evan terkejut bukan main saat tiba-tiba seorang perempuan berlari memeluknya.

"Evan! astaga aku kangen banget sama kamu." ucap sang hawa dalam pelukan Evan.

"Jelita?" cicitnya pelan, yang segera diangguki oleh sang gadis.

"Iya ini aku Jelita, kamu masih ingat kan?" ucap Jelita yang melepas pelukan dan menatap Evan dengan mata yang berbinar. Sementara Evan perlahan mulai tersenyum menatap perempuan di hadapannya.

PRADHANATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang