Evan duduk di balkon kamar dengan secangkir teh hangat yang ada di genggamannya. Pemuda itu menatap langit senja yang entah kenapa indah sekali sore ini. Sambil menikmati teh kesukaannya, Evan kembali menerawang ungkapan perasaan Cantika beberapa waktu lalu. Ia dilema, bagaimana jika wanita itu tidak bahagia bersama Mas Zaidan.
Tadi Evan juga tidak merespon sama sekali ucapan Cantika, dan membuat kedua orang itu canggung hingga sampai di rumah Cantika. Entah kenapa Evan justru merasa gelisah. Perasaan yang dimilikinya ini salah, tidak seharusnya ia memiliki perasaan pada Cantika lagi. Ia dapat melihat bagaimana Mas Zaidan sangat mencintai Cantika, dia tidak ingin merusak kebahagiaan sang paman. Mungkin Evan akan berjaga jarak dengan Cantika agar wanita itu fokus pada pernikahannya dengan Mas Zaidan.
Lantas Evan teringat sesuatu, kemarin malam ia sudah berjanji untuk datang ke rumah Echa bertemu dengan ibunya. Pemuda itu melirik jam tangan yang menunjukkan pukul enam sore.
"Mungkin aku harus ke sana sekarang." Evan bergegas mengganti pakaian dan pergi keluar. Saat melewati dapur Evan melihat Mamanya sedang membuat kue. Lantas ia menghampiri Fera dan mengecup pipinya singkat.
"Mau pergi kemana? Tumben kamu sudah rapi dan wangi begini." tanya Fera sambil memotong kue yang baru saja ia keluarkan dari oven.
"Evan mau pergi cari udara segar, bosan di rumah." Fera hanya menggelengkan kepala melihat tingkah putranya.
"Makanya cari pacar biar engga keluar sendiri." ledek Fera membuat Evan mendengus kesal.
"Kata siapa Evan keluar sendiri?" kali ini Fera yang di buat terkejut. Wanita lantas menghadap ke arah putra semata wayangnya dengan wajah berseri-seri.
"Kamu sudah punya cewek?" tanya Fera dengan antusias, Evan tidak menjawab hanya tersenyum sambil mencium punggung tangan Fera kemudian melambaikan tangan.
"Evan keluar dulu, dah Ma." melihat putranya yang sudah berlari keluar, lantas Fera berteriak.
"Evan jawab pertanyaan Mama!" tentu saja tidak ada jawaban dari Evan, karena putranya sudah hilang dibalik pintu.
Fera tersenyum tipis, akhirnya ia bisa melihat wajah bahagia sang putra setelah beberapa hari murung karena Cantika. Semoga Evan bisa mengikhlaskan wanita itu dan segera melabuhkan hatinya pada gadis yang baik. Jujur saja Fera tidak setuju jika Evan dengan Cantika karena ia tahu latar belakang wanita itu. Fera ingin anak semata wayangnya itu mendapatkan gadis yang lebih baik.
***
Evan mematikan mesin mobilnya dan melangkah menuju pekarangan rumah Echa yang tampak sepi. Ia mengetuk pintu kayu dihadapannya itu dengan pelan.
"Assalamualaikum." Evan mengernyitkan dahi tidak mendengar sahutan dari dalam rumah, apa terjadi sesuatu dengan Echa dan ibunya. Evan kembali mengetuk pintu rumah sambil berteriak memanggil Echa.
"Echa, kamu di dalam?" teriak Evan sambil terus mengetuk pintu itu berharap Echa membuka pintu untuknya. Namun lima menit berlalu tidak ada balasan dari dalam rumah. Tiba-tiba Evan mendengar suara langkah kaki dari arah belakangnya. Pemuda itu memutar tubuhnya dan melihat Echa berdiri di sana dengan wajah lelahnya.
grep
Entah dorongan dari mana, kini Evan sudah merengkuh tubuh Echa ke dalam pelukannya. Jangan tanya bagaimana keadaan Echa, gadis itu diam seperti patung berada dalam pelukan Evan. Gadis itu tampak terkejut dengan kehadiran pemuda ini yang tiba-tiba memeluknya.
"Kamu kemana saja, Echa?" tanya Evan setelah melepaskan pelukannya, kini ia memegang kedua bahu Echa dan menatap kedua mata gadis itu yang terlihat sedih.
"Ibu, Mas." jawab Echa dengan suara paraunya.
"Ibu kenapa? dimana ibu?" Echa sudah tidak bisa menahannya lagi, ia kembali menangis membuat Evan bingung. Dipeluknya lagi tubuh Echa yang menangis sesenggukan, berharap bisa menenangkan gadis ini. Setelah dirasa tangis Echa mereda, Evan lantas melerai kembali pelukan mereka dan menyeka air mata Echa.
KAMU SEDANG MEMBACA
PRADHANA
FanficBagaimana jika hidupmu hanya berputar pada seorang Evan, pemuda yang kerap kali bersikap dingin pada gadis semanis Echa. Namun perlahan semuanya berubah, satu-persatu kepingan puzzle itu menjadi satu merangkai sebuah cerita yang tidak terduga. Mungk...
