⚠️ ADA ADEGAN YANG SEDIKIT SPICY, HARAP LEBIH BIJAK DALAM MEMBACA
_________
Kedekatan Evan dan Echa sudah berjalan hampir dua minggu. Selama itu juga hubungan mereka semakin dekat. Banyak dari mahasiswa yang mulai mengetahui kedekatan mereka berdua baik dari teman Echa ataupun teman Evan, pasalnya mereka memang sering terlihat bersama saat di kampus. Tak jarang juga Evan mengajak Echa untuk berangkat dan pulang bersama.
Hari ini adalah hari tepat ia melaksanakan sidang atau seminar hasil untuk skripsinya. Evan sudah menyiapkan materi untuk presentasi sejak semalam. Pemuda itu sengaja datang satu jam sebelum sidang di mulai guna mempersiapkan diri. Echa yang kebetulan tidak ada mata kuliah ikut menemani Evan melewati hari yang akan melelahkan ini.
Echa mengamati raut wajah Evan yang terlihat gelisah. Gadis itu tersenyum kecil lalu mengusap lengan sang adam hingga ia menoleh.
"Tenang saja, Mas Evan pasti bisa." Evan mengangguk singkat sambil tersenyum. Tak lama kemudian dosen penguji memasuki ruangan dan sidang pun di mulai. Echa masih senantiasa menunggu sang pujaan hati di luar ruangan sambil berdoa untuk kelancaran sidang Evan. Tiga puluh menit sudah Evan berada di dalam ruangan itu, belum ada tanda-tanda lelaki itu akan keluar.
Echa menguap lalu mengusap matanya berkali-kali berharap menghilangkan rasa kantuk hingga tak lama kemudian dosen penguji Evan keluar ruangan dan di susul oleh pemudanya. Evan tersenyum lebar sambil memeluk tubuh Echa menariknya ke kanan dan ke kiri.
"Saya lulus Cha, saya berhasil." Echa pun tak bisa menyembunyikan senyumnya, ia juga mengusap punggung Evan dan mengangguk.
"Saya tahu Mas Evan akan mudah melewati ini, lihat bahkan tidak sampai satu jam Mas Evan sudah keluar dari ruang sidang, itu sangat hebat Mas." tuturnya.
Evan melerai pelukannya dan merapikan helai rambut Echa lalu tersenyum. "Ayo kita pergi, apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi?" Echa terdiam sejenak untuk berpikir lalu ia teringat jika harus membantu sang ibu yang kini sudah mulai berjualan di toko rotinya.
"Maaf Mas, sepertinya saya tidak bisa karena harus membantu ibu berjualan di rumah." jelasnya dengan lemah membuat Evan mengangguk ia baru ingat jika Ibu Echa sudah sembuh dan mulai berjualan seperti biasa.
"Ah iya saya lupa, kalau begitu saya ikut bantu ibu saja, ayoo!" Evan segera menarik pergelangan tangan Echa menuju parkiran dan langsung membawa sang gadis pulang menuju rumah.
Sesampainya di rumah, terlihat Dewi sedang merapikan roti-roti yang baru saja di kemasnya ke dalam etalase. Wanita itu mengalihkan pandangannya saat mendengar deru mesin motor yang berhenti di depan rumah, ternyata putrinya yang pulang bersama Evan, pemuda yang akhir-akhir ini sering datang ke rumahnya entah sekedar untuk menemuinya ataupun menemui Echa.
"Assalamualaikum." ucap Evan sambil mencium punggung tangan Dewi.
"Waalaikumsalam, tumben sudah pulang?" tanya Dewi sambil menatap putrinya.
"Tadi Echa cuman ada satu mata kuliah, dan kebetulan Mas Evan selesai sidang ingin ikut ke sini." Dewi menepuk bahu Evan pelan sambil tersenyum. "Wahh hebat kamu, kapan wisudamu nak?"
"Mungkin bulan depan Bu." jawab Evan yang langsung di angguki oleh Dewi.
"Yasudah kalau begitu kalian makan saja dulu, ibu masih ingin melanjutkan untuk membuat roti." Echa lantas mencegah sang ibu yang akan kembali ke dapur.
"Bu, biar Echa sama Mas Evan saja yang melanjutkan. Sebaiknya ibu istirahat ini sudah siang." Dewi menatap wajah Echa dan Evan bergantian lalu tersenyum haru. Putri kecilnya kini bahkan sudah dewasa dan menemukan tambatan hatinya. Ia hanya berdoa agar putrinya selalu disertai kebahagiaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
PRADHANA
FanfictionBagaimana jika hidupmu hanya berputar pada seorang Evan, pemuda yang kerap kali bersikap dingin pada gadis semanis Echa. Namun perlahan semuanya berubah, satu-persatu kepingan puzzle itu menjadi satu merangkai sebuah cerita yang tidak terduga. Mungk...
