Double up! jangan lupa komenn😠🫵🏻
_______
Di sebuah ruangan tampak seorang pria paruh baya duduk sambil menghisap rokoknya. Ia menelisik pemuda yang tengah berdiri di hadapannya.
"Apa kau sudah bertemu dengannya?" tanyanya sebelum kembali menghisap rokok di tangannya.
"Hmm, aku sudah menuruti perintahmu. Pemuda itu memang terlihat dekat dengan gadis yang kau maksud." ucap sang pemuda menghela nafas sejenak sebelum kembali berucap. "Tapi sepertinya dia juga dekat dengan seorang wanita yang sedang mengandung, kalau tidak salah dengar namanya Cantika." jelasnya.
Terdengar tawa renyah dari sang lawan bicara. Pria paruh baya itu membuang putung rokoknya lalu menyeringai menatap pemuda jakung di hadapannya.
"Bagus, terus awasi dia dan cari siapa yang sedang dekat dengannya. Aku ingin membuat anak ingusan itu menyesal karena sudah bermain-main denganku." ujarnya dengan tegas. Dia pun beranjak lalu mendekat ke arah sang pemuda sebelum ia membisikkan sesuatu yang membuat tubuh pemuda itu menegang sempurna.
"Tapi perjanjian awal kau hanya memintaku untuk mengawasinya bukan yang lain." tolaknya.
Pria paruh baya itu menggeram tidak suka mendengar jawaban dari pemuda yang kini bahkan berani menatapnya.
"Berani-beraninya kau menolak perintahku Samudra. Kau ingin aku melakukan sesuatu pada Ibumu, hmm?" ujarnya berbisik namun dengan nada yang tegas membuat Samudra mengepalkan kedua tangannya. Ia menatap tajam pria paruh baya yang selalu mengancamnya itu.
"Akan aku lakukan sesuai perintahmu, tapi jangan sekali-kali kau menyentuh Ibuku." ucap Samudra membuat pria itu tersenyum puas.
"Aku tunggu kabar baik itu." ucapnya sambil menepuk bahu samudra lalu pergi begitu saja. Sementara itu Samudra memejamkan matanya lalu mendengus kesal, pria itu selalu memanfaatkan kelemahannya.
sial
****
Echa selesai berganti baju dan memakai apronnya lalu berjalan menuju dapur untuk mengantarkan makanan dan minuman. Gadis itu telah mendapat pekerjaan paruh waktu menjadi waiters di sebuah cafe beberapa hari lalu. Dan hari ini dia akan bekerja paruh waktu setelah pulang kuliah, dari sore hingga malam hari.
Dengan cekatan Echa mengantarkan minuman kepada beberapa pengunjung. Cafe ini memang selalu ramai karena dekat dengan pusat kota dan interiornya yang unik sehingga menambah daya tarik pembeli.
"Satu caramel latte dan coklat cookiesnya, silahkan kak." ucap Echa dengan ramah saat ia mengantarkan pesanan di meja seorang gadis dan satu wanita dewasa. Namun di saat dirinya akan berbalik, gadis itu memanggilnya.
"Ehm tunggu."
Echa yang merasa terpanggil pun segera menghadap pada gadis cantik yang tengah menatap ke arahnya. Ia tersenyum ramah.
"Ya? ada tambahan lain kak?" tanya Echa yang di balas gelengan oleh sang gadis.
"Kamu orang yang menumpahkan minuman di pernikahan Mas Zaidan waktu itu bukan?" senyum yang dari tadi tak hilang dari wajah Echa kini perlahan memudar. Gadis itu mengerutkan keningnya lalu menyipit guna mengingat ingat siapa gadis ini, kenapa dia bisa tahu kejadian memalukan itu. Sedetik kemudian Echa ingat, gadis ini adalah gadis yang saat itu bersama Evan. Mendadak Echa menjadi gugup.
"Iya." ucapnya sambil mengangguk singkat.
"Bisa kita bicara sebentar?" Echa kembali menatap lawan bicaranya, lalu matanya bergeser melirik sebentar pada sosok wanita yang sudah berumur namun masih terlihat cantik.
KAMU SEDANG MEMBACA
PRADHANA
FanfictionBagaimana jika hidupmu hanya berputar pada seorang Evan, pemuda yang kerap kali bersikap dingin pada gadis semanis Echa. Namun perlahan semuanya berubah, satu-persatu kepingan puzzle itu menjadi satu merangkai sebuah cerita yang tidak terduga. Mungk...
