09. Yang Telah Usang

211 43 5
                                        

Di hari minggu yang cerah ini Echa pergi ke salah satu mall terbesar di Surabaya menemani Selly membeli kado untuk kekasihnya. Awalnya Echa terkejut mendengar cerita sahabatnya yang ternyata diam-diam memiliki hubungan dengan salah satu teman sekelasnya, Jeremy. Lelaki dengan tinggi 170 yang cukup terkenal di fakultas karena mengikuti UKM Basket, salah satu olahraga yang cukup populer di kampusnya.

Namun Echa tidak heran, mereka memang cocok. Sama-sama memiliki jiwa sosialisasi yang tinggi dengan teman yang ada di mana-mana. Mereka juga dari kalangan berada.

"Kamu mau cari kado apa, Sel?" tanya Echa sambil menghela nafas karena dari tadi Selly hanya melihat-lihat dan tidak segera membeli sesuatu. Sudah tiga puluh menit mereka mengitari mall ini dan Echa sedikit lelah, rasanya ia ingin mencari tempat duduk saja.

"Ehm, sebenarnya aku juga bingung. Atau kamu mau mengusulkan sesuatu yang mungkin bisa aku pertimbangkan sebagai kado?" Echa tampak berfikir kemudian matanya menatap toko sepatu yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.

"Bagaimana jika sepatu basket? bukankah kekasihmu mengikuti UKM basket?" Selly tersenyum hingga matanya menyipit lalu memeluk Echa sebentar.

"Aaa terimakasih sarannya, Cha. Kamu benar kenapa aku tidak terpikirkan untuk membeli sepatu saja aish. Kalau begitu ayo." Echa membuang nafasnya lega, akhirnya. Mereka berjalan memasuki toko sepatu dengan merk yang cukup terkenal, bisa Echa tebak pasti harganya jutaan rupiah. Gadis itu menatap Selly yang berjalan ke sana ke mari memilih sepatu yang cocok untuk Jeremy.

Echa duduk sejenak untuk beristirahat, ia menunduk menatap sepasang sepatu kusam yang dipakainya. Sepatu yang ia beli tiga tahun lalu dengan uangnya sendiri setelah menabung selama dua bulan. Gadis itu menatap sekeliling rak sepatu yang harganya lima kali lipat dari harga sepatu usangnya. Meski begitu Echa tersenyum menatap sepatu berwarna putih yang tidak lagi putih itu telah menemani perjuangan hidupnya.

Terkadang ia merasa iri, melihat orang-orang yang bisa membeli apapun tanpa takut tidak bisa makan. Sedangkan Echa harus berhemat untuk keluarganya. Tapi ia tetap bersyukur tidak pernah merasa kekurangan, semua yang diberikan Tuhan sudah cukup untuknya.

Echa menghembuskan nafasnya sambil menganyunkan kaki mencoba menghilangkan rasa bosan. Netranya tidak sengaja melihat dua orang yang cukup ia kenal sedang berjalan menuju butik yang ada di seberang toko sepatu.

Dilihatnya sang lelaki membantu memilihkan gaun-gaun pengantin yang sangat indah di mata Echa. Sesekali mereka saling melempar senyum tatkala sang wanita berganti pakaian menggunakan gaun panjang berwarna putih bersih yang sangat cocok dengan kulit putih wanitanya.

Dalam hati Echa bertanya-tanya, kalau tidak salah Evan pernah berkata jika Cantika akan menikah, namun lelaki itu tidak mengatakan dengan siapa pernikahan wanita itu. Dan kini ia melihat mereka, Evan dan Cantika sedang memilih beberapa gaun pernikahan, apa itu artinya mereka yang akan menikah.

Echa membuyarkan segala prasangka yang membuat hatinya terasa perih saat tidak sengaja netranya bersitatap dengan sang pemuda, membuat Echa segera mengalihkan pandangan pada Selly yang sedang berdiri di depan kasir. Sepertinya gadis itu telah menemukan sepatu yang cocok untuk sang kekasih hati. Dengan cepat ia berdiri menghampiri sahabatnya mengabaikan pemuda yang kini masih setia menatapnya dari kejauhan.

"Sudah menemukan sepatu yang cocok, Sel?" tanya Echa yang langsung diangguki oleh gadis bermata sipit itu.

"Sudah, aku yakin Jeremy pasti suka." Echa ikut tersenyum melihat raut bahagia Selly.

"Baguslah, lalu kita akan kemana?" tanya Echa membuat Selly berpikir sejenak sebelum menarik lengan Echa dengan semangat. Sementara Echa hanya pasrah saat lengannya ditarik oleh Selly. Ia mengernyitkan dahi saat mereka berhenti di sebuah toko pakaian wanita.

PRADHANATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang