18. Dia Cantik, Seperti Mama

173 36 11
                                        

Echa membuka pintu kamar ibunya. Wanita itu terlihat setengah berbaring sambil melihat tontonan di televisi. Echa mengambil duduk di samping sang ibu dan menggenggam tangannya lembut.

"Bu, Echa boleh tidak bekerja paruh waktu?" tanyanya pelan pada Dewi yang langsung menatap putrinya. Wajah yang sangat mirip dengan sang suami. Wanita itu membelai rambut Echa sambil tersenyum tipis.

"Kamu butuh uang untuk apa nak?" Dewi tahu jika putrinya tiba-tiba seperti ini pasti ada sesuatu yang di inginkan. Terkadang Dewi merasa bersalah tidak bisa memenuhi keinginan Echa karena kondisinya yang tidak fit seperti dulu lagi untuk mencari uang. Ia hanya bisa membuka toko sampai jam enam sore setelah itu langsung istirahat supaya tekanan darahnya tidak kambuh.

"Tidak bu, Echa hanya ingin saja untuk ditabung." apa yang di katakan Echa memang benar, namun di luar itu sebenarnya Echa ingin membeli sepatu baru karena sepatu miliknya sudah usang bahkan sepertinya akan rusak sebentar lagi.

Dewi terdiam sejenak lalu mengangguk singkat membuat Echa lantas tersenyum senang. Dipeluknya tubuh sang Ibu dengan erat.

"Terimakasih bu." Echa senang sekaligus lega karena dirinya tidak perlu berbohong pada ibunya lagi jika ingin bekerja.

"Tapi kamu harus janji sama ibu, kalau capek berhenti, ya?" dengan semangat Echa menganggukkan kepala. "Janji." jawabnya.

****

Evan tiba di rumah setelah pulang bekerja, ia memarkirkan motornya di garasi. Matanya menyipit guna melihat mobil yang tampak asing terparkir di garasi rumahnya. Sepertinya di rumah sedang kedatangan tamu, pikirnya.

Langkah kaki membawanya masuk ke dalam rumah, samar-samar ia mendengar suara dari arah ruang makan keluarga. Benar saja ternyata sudah ada tamu yang duduk manis di meja makan.

"Nah ini Evan sudah pulang, sini nak." ajak Harry agar Evan duduk di sampingnya. Evan pun menurut dan langsung mengambil duduk di samping sang ayah. Ia menatap gadis di depannya kini tengah tersenyum ke arahnya. Evan menatap seluruh orang yang duduk di meja makan, tidak salah lagi mereka adalah keluarga besar Sudarso, termasuk Jelita yang kini duduk manis berhadapan dengannya. Dan entah kenapa firasat Evan mengatakan ini adalah bukan sesuatu yang ia inginkan.

"Mari di makan dulu, Yan." ucap Harry pada Septian, Ayah Jelita sekaligus kepala keluarga Sudarso yang sedang bertamu malam ini.

Beberapa saat kedua keluarga itu makan dalam keadaan hening hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring, sebelum Septian membuka percakapan dengan sebuah pertanyaan yang di tujukan untuk Evan.

"Kamu wisuda bulan depan Evan?" Evan memperlambat gerakan tangannya sebelum berpaling pada pria paruh baya yang masih terlihat tampah dan gagah seperti sang Ayah.

"Iya benar Om." jawabnya, yang langsung di balas anggukan. "Bagus kalau begitu, lebih cepat lebih baik. Jelita pun akan melaksanakan wisudanya dua bulan lagi." apa yang di ucapkan Septian sukses membuat pergerakan tangan Evan seketika terhenti, keningnya berkerut heran. Pemuda itu menatap ayahnya guna meminta kejelasan.

"Ah jadi begini Van, Papa sama Om Tian berencana untuk menjodohkanmu dengan Jelita. Tapi tidak perlu terburu-buru, kalian bisa menjalin hubungan terlebih dahulu agar semakin dekat, lagi pula kalian sudah saling mengenal dari kecil bukan?" jelas Harry, seketika membuat Evan mendengus lalu meletakkan sendoknya begitu saja.

"Tidak bisakah Papa membicarakan hal ini padaku terlebih dahulu?" ucap Evan dengan nada yang tegas. Ia paling tidak suka di paksa seperti ini, Evan juga heran kenapa di jaman sekarang perjodohan masih ada.

"Jaga sikapmu Evan!" titah Harry. Ketegangan di antara keduanya membuat suasana makan malam menjadi tidak nyaman. Ferra dengan perhatian segera mengusap punggung tangan suaminya agar tidak emosi.

PRADHANATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang