Update cepet karena di chapter sebelumnya kalian banyak yang komen🥹🫶🏻
selamat membaca!
______
Echa berjalan setengah melamun di lorong kampus, perlakuan Evan semalam masih terbayang di pikirannya. Bahkan pemuda itu masih bisa bersikap biasa saja setelah apa yang dia lakukan pada dirinya. Semalam Evan mengantarkannya pulang sekaligus mengobati luka di sikunya. Entah kenapa Echa justru gelisah, ia hanya takut. Selama ini ia tidak pernah dekat dengan laki-laki, bukannya tidak mau, tetapi Echa tidak punya waktu untuk percintaan. Tugasnya adalah sekolah, lulus dengan nilai yang baik supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik untuk kedua orang tuanya.
"Dor!" Echa terlonjak kaget saat tiba-tiba Selly datang menepuk bahunya dari belakang.
"Astaga Sel, jangan suka bikin orang kaget!" ucap Echa menggerutu yang langsung di balas kekehan ringan oleh Selly.
"Habisnya dari tadi aku lihat kamu melamun, ada apa Cha?" tanya Selly dengan serius menatap Echa yang terlihat gelisah. Sedangkan Echa sendiri bingung jika bercerita dengan Selly.
"Tidak ada." jawabnya membuat Selly mendengus sebal, memang Echa tipe orang yang sulit untuk menceritakan masalahnya. Mereka mengambil tempat duduk di sebuah gazebo yang menghadap danau. Echa menatap Selly sambil berkata.
"Sel, bagaimana perasaanmu saat bersama Jeremy, maksudku bagaimana rasanya jatuh cinta?" Selly mengerjapkan matanya berkali-kali setelah mendengar pertanyaan Echa. Namun cepat-cepatnya ia berdeham pelan sambil mengubah ekspresi wajahnya menggoda sang sahabat.
"Kamu lagi jatuh cinta, Cha?" tanya Selly dengan mata menyipit membuat Echa mendengus kesal.
"Yasudah kalau tidak ingin menjawab–"
"Eh tunggu, iya iya aku jawab, dengarkan ini." Selly mengambil nafas sejenak sebelum melihat manik mata Echa yang penuh penasaran.
"Aku mencintai Jeremy karena aku merasa dia memperlakukanku sedikit berbeda dengan gadis lain, dia juga selalu memperhatikanku. Aku selalu ingin di sampingnya dan terkadang aku tidak rela jika Jeremy dekat dengan gadis lain." jawab Selly, sementara Echa menggigit pipi bagian dalamnya sendiri. Ia merasa Evan tidak demikian, meskipun terkadang pemuda itu begitu perhatian padanya namun Echa tahu di dalam lubuk hati pemuda itu masih tersimpan nama Cantika. Belum lagi perempuan yang tadi malam bersama Evan di acara pernikahan Cantika. Entah kenapa banyak sekali perempuan di sekeliling Evan, harusnya Echa sadar Evan memang banyak di idamkan gadis-gadis di luar sana. Dan dirinya hanyalah salah satunya, oh apakah ia sudah mulai menyukai pemuda yang beberapa hari ini mengacaukan perasaannya seperti roller coaster.
"Hehh malah melamun sih," Selly kembali menepuk lengan Echa yang sedang melamun, gadis itu pun segera menggeleng pelan.
"Eh enggak kok Sel, aku sedang berfikir. Ehmm kayanya aku pulang dulu deh Sel, mau gantian jaga ibu di rumah sama Mas Bayu." belum sempat Selly menanggapi, Echa langsung pergi begitu saja membuat dirinya merasa ada yang aneh dengan temannya itu.
***
Echa terus berjalan setengah berlari sambil menunduk, sesekali ia melihat jam tangannya. Sebentar lagi sudah pukul tiga sore, dengan cepat gadis itu berlari untuk menghindari seseorang yang mungkin bisa saja berkeliaran di area kampus.
Saat akan tiba di area parkiran motor, gadis itu berdecak sebal saat dari kejauhan ia melihat sosok laki-laki yang tengah dihindarinya sedang berjalan ke arahnya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca. Dengan kesadaran penuh Echa segera berbalik menjauh agar ia tidak berpapasan dengan pemuda yang tengah dihindarinya saat ini. Bukan tanpa alasan, Echa sengaja menghindar karena ia tidak ingin jatuh terlalu dalam pada pemuda itu, Echa sadar ia tidak akan bisa menggapai pemuda yang sempurna seperti Evan.
Evan mengernyitkan dahinya bingung melihat tubuh Echa yang malah berbalik menjauhinya, ada apa pikirnya. Tidak ingin mati penasaran, Evan pun segera berlari menyusul langkah sang gadis.
grep
Pemuda itu berhasil menyamakan langkah Echa dan menggenggam lengan kecil sang gadis hingga ia berhenti sejenak. Sementara itu Echa hanya bisa meneguk ludahnya susah payah.
"Kamu menghindari saya lagi?" tanya Evan dengan posisi Echa yang masih membelakanginya.
"Saya harus segera pulang, Mas." jawab Echa sambil mencoba melepaskan genggaman Evan yang sialnya semakin erat.
"Tidak akan saya lepas sebelum kamu jawab pertanyaan saya, kenapa kamu menghindari saya?" akhirnya Echa berbalik sambil menunduk menatap sepatu lusuh yang kini ia kenakan. Echa tidak berani menatap mata sang lelaki.
"Saya tidak menghindar." elaknya, membuat Evan menaikkan satu alisnya seolah tidak puas dengan jawaban Echa.
"Kamu suka sama saya, Cha?" tubuh Echa sukses menegang mendengar ucapan Evan. Seumur hidup tidak pernah ia merasa malu seperti orang tertangkap basah karena mencuri. Jantung Echa seakan jatuh dari tempatnya, ia langsung mengalihkan pandangan ke arah samping menghindari tatapan Evan yang masih mencoba menatapnya.
"Kotak bekal berwarna ungu yang ada di loker saya setiap pagi, itu dari kamu kan?" belum selesai keterkejutan Echa, kini Evan juga mengetahui rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
mati kau!
"Ti-tidak, saya tidak tahu tentang itu." jawab Echa dengan gugup membuat Evan tersenyum kecil.
"Kamu tidak pandai berbohong Echa, bahkan kamu tidak berani menatap mata saya." ucap Evan dengan penuh penegasan. Echa yang mendengar itupun perlahan mendongakkan kepalanya untuk menatap mata sang lelaki, tidak tahu saja dalam hati ia mati-matian menahan rasa gugup yang dirasakannya saat ini.
"Saya tidak tahu apapun, dan saya harus pergi karena ibu sudah menungguku di rumah." baru saja Echa melangkahkan kakinya, suara Evan kembali menginterupsi rungunya.
"Baiklah jika kamu tidak mau mengaku, tapi saya tetap ingin mengucapkan terimakasih." Evan mengulum bibirnya sebelum kembali berkata, "Untuk perkataan saya semalam apa kamu sudah memiliki jawabannya, Echa Paramitha?"
deg deg deg
Tanpa sepengetahuan Evan, Echa segera mengambil nafas dan membuangnya pelan, ia melakukan itu berulang kali untuk menetralkan detak jantungnya yang berdetak sangat kencang, bahkan kedua telapak tangannya mulai berkeringat.
"Sa-saya t-tidak bisa, lebih baik Mas Evan meminta bantuan teman perempuan Mas yang hadir di pesta malam itu." ucap Echa lalu segera pergi begitu saja tanpa menunggu Evan berbicara. Bahkan dia sudah ingin mengeluarkan kata namun gadis itu langsung berlari pergi tanpa menatapnya sedikitpun.
Mendengar ucapan Echa barusan, dapat ia simpulkan bahwa gadis itu pasti mengira dirinya datang ke acara pernikahan Cantika dengan Jelita. Ia terkekeh pelan, apa gadis itu cemburu?
Evan mengeluarkan kotak bekal berwarna ungu dari dalam tas. Kurang lebih dua minggu ini ia selalu menerima kotak bekal di lokernya, meski ia tidak setiap hari ke kampus namun dia selalu menemukan kotak bekal ini saat di kampus. Awalnya Evan risih, karena tidak tahu siapa yang melakukan itu, ia tidak pernah sedikitpun menyentuh kotak bekalnya. Hingga satu hal yang baru ia ketahui bahwa Echa lah gadis yang mengirim kotak bekal itu untuknya.
Apa kalian ingat saat Evan pergi ke rumah Echa untuk memberikan beberapa makanan karena telah menolong Kayra, keponakannya. Di saat itulah Evan melihat kotak bekal berwarna ungu yang mungkin tidak Echa sadari berada di sudut kursi karena gadis itu sibuk merapikan meja. Kotak bekal itu sama persis dengan miliknya.
Dari situ Evan menyadari satu hal, bahwa Echa mungkin mulai tertarik padanya. Keesokan harinya Evan selalu menghabiskan isi bekal itu hingga saat ini. Namun Evan masih bimbang apakah langkahnya dengan memberi sedikit harapan untuk Echa selama ini sudah benar atau tidak. Tapi soal perasaan, jujur saja Evan belum bisa menjawabnya sekarang.
_____
TBC
Wadoo ternyata Echa ni agaak cegil dikit yahh
gimana tanggepan kalian soal Evan yang selama ini baik sama Echa karena ingin bales kebaikannya?
KAMU SEDANG MEMBACA
PRADHANA
FanfictionBagaimana jika hidupmu hanya berputar pada seorang Evan, pemuda yang kerap kali bersikap dingin pada gadis semanis Echa. Namun perlahan semuanya berubah, satu-persatu kepingan puzzle itu menjadi satu merangkai sebuah cerita yang tidak terduga. Mungk...
