karena banyak yang vote malam ini, jadi aku update sekarang, lunas ya teman-teman☺️
selamat membaca!
_______
Sudah terhitung satu minggu lamanya Echa berhasil menghindari sosok Evan, bahkan gadis itu terang-terangan untuk menghindar setiap kali mereka tidak sengaja bertemu. Sementara itu Evan tidak bisa berbuat banyak melihat tingkah Echa.
Seperti pagi ini, Evan memang sengaja menunggu kedatangan Echa di lorong fakultas dekat gazebo tempat biasa gadis itu melintas. Benar saja, tidak lama kemudian dapat ia lihat sosok Echa yang berjalan menunduk sambil mencari sesuatu di dalam tas nya, untungnya ia tidak melihat kehadiran Evan yang kini berjalan mendekat dan berdiri tepat di hadapannya membuat langkah Echa terhenti. Merasa ada seseorang di depannya ia pun mendongahkan kepala dan terkejut saat mendapati presensi Evan.
Echa meneguk ludahnya sejenak sebelum ia berbalik untuk menjauh, namun langkahnya kalah cepat dengan Evan yang langsung mencekal pergelangan tangannya.
sial
"Sampai kapan kamu menghindari saya Echa?" tanya Evan saat Echa sudah berhadapan dengannya. Dapat ia lihat gadis itu menunduk kaku sambil meremas ujung bajunya sendiri. Evan melihat ke kanan dan ke kiri, suasana kampus masih sangat sepi karena ini masih pukul enam pagi jadi belum banyak mahasiswa yang datang, ditambah lorong dekat gazebo ini ada di paling belakang jadi jarang dilalui banyak orang. Namun ia tahu betul Echa sengaja melewati lorong ini untuk menghindarinya.
Echa hanya diam, ia bahkan tidak tahu harus berkata seperti apa. Echa hanya terlalu malu setiap kali bertemu dengan Evan, belum lagi perkara kotak bekal berwarna ungu yang sialnya telah diketahui oleh pemuda itu.
"Cha?" panggil Evan sekali lagi karena ia belum mendapat respon apapun dari sang gadis. Sementara Echa berdeham sejenak sebelum menatap mata teduh Evan.
"Saya tidak tahu, sa-saya minta maaf jika kejadian beberapa hari lalu cukup mengganggu Mas Evan." maksud Echa adalah perkara ia mengirim kotak bekal itu, pikirnya Evan terganggu dengan hal tersebut.
"Siapa bilang saya terganggu? Kalau yang kamu maksud adalah kotak bekal itu, saya tidak terganggu sama sekali. Justru saya ingin mengucapkan terimakasih, masakan kamu enak juga." ucap Evan yang entah kenapa membuat hati Echa sedikit menghangat dan tanpa sadar menyunggingkan senyum tipis.
"Ehmm, kalau begitu bolehkah kita lupakan saja tentang itu Mas?" pinta Echa membuat Evan menaikkan satu alisnya.
"Kenapa? kamu malu?" tanyanya yang dibalas anggukan lemah oleh Echa. Evan tersenyum lantas mengusap lembut rambut Echa sebelum telapak tangannya berhenti di pipi kiri sang gadis. Diarahkannya pelan wajah Echa agar gadis itu menatapnya.
"Kamu bikin saya bingung dengan perasaan saya sendiri Echa, oleh karena itu saya masih belum bisa memberikan kepastian untuk kamu. Saya takut jika terburu-buru, saya justru akan menyakiti kamu." ucap Evan dengan tangan yang masih membelai lembut pipi halus Echa. Gadis itu hanya diam sambil memandang kedua bola mata Evan yang memabukkan ini.
"Saya tidak pernah meminta hal itu Mas, karena saya tahu selain saya pasti banyak perempuan di luar sana yang suka dengan Mas Evan. Saya hanya ingin menyampaikan rasa dan tidak menuntut apapun. Jangan pernah memaksakan perasaanmu Mas, karena saya tidak ingin Mas Evan menerima saya hanya karena rasa kasihan dan paksaan, saya benci hal itu Mas." entah keberanian dari mana Echa mengungkapkan seluruh isi hatinya, persetan dengan rasa malu. Echa hanya ingin Evan mengetahui apa yang dirasakannya.
"Satu hal yang harus kamu tahu Cha, saya tidak pernah sefrustasi ini memikirkan seorang perempuan lagi setelah Cantika. Tapi kamu berhasil bikin saya tidak bisa tidur memikirkan kamu yang terus menghindari saya." jelas Evan yang membuat Echa tersenyum kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
PRADHANA
Fiksi PenggemarBagaimana jika hidupmu hanya berputar pada seorang Evan, pemuda yang kerap kali bersikap dingin pada gadis semanis Echa. Namun perlahan semuanya berubah, satu-persatu kepingan puzzle itu menjadi satu merangkai sebuah cerita yang tidak terduga. Mungk...
