20. Desolare

262 37 13
                                        

Beberapa hari ini Evan melakukan perang dingin dengan Harry. Ia tidak menyapa pria itu bahkan saat mereka makan bersama. Begitu juga dengan Harry yang masih kesal karena Evan mempermalukan dirinya di hadapan Septian.

Evan berjalan melewati ruang makan begitu saja membuat Ferra memanggil namanya. "Sarapan dulu, nak." Evan berhenti sejenak lalu melihat Harry yang masih sibuk dengan makanannya. Pemuda itu menghela nafas pelan.

"Aku sarapan di luar saja Ma." ucapnya lalu pergi begitu saja.

Ferra menatap kepergian putranya dengan sendu, ia bingung harus bagaimana menghadapi dua lelaki yang sama-sama keras kepala ini. Evan yang tidak ingin melakukan perjodohan dan suaminya yang masih kekeh dengan keinginannya untuk menjodohkan Evan dengan Jelita.

"Sayang apa sebaiknya kita bicarakan lagi dengan Evan, aku takut putra kita akan semakin nekat." ucap Ferra dengan lembut pada sang suami.

Harry menghentikan gerakan tangannya lalu menatap punggung Evan yang sudah hilang di balik pintu. Pria itu menatap ke arah istrinya. "Aku sudah berjanji pada Septian sayang, lagi pula kita sudah menganggap Jelita seperti putri kita sendiri, apa kamu tega?" Ferra menggeleng pelan.

"Tapi Mas, apa kamu lebih mementingkan keinginan orang lain dari pada putramu sendiri?" Harry mengalihkan pandangan ke arah depan.

"Aku tahu jelas mana yang terbaik untuk masa depan putraku." ucap Harry yang memang tidak sepenuhnya salah, namun jika hal itu tidak membuat putranya merasa bahagia maka Ferra juga tidak bisa tinggal diam. Menjalani kehidupan rumah tangga bukanlah hal yang mudah, maka kebahagiaan Evan adalah yang paling penting bagi Ferra.

"Evan mencintai gadis lain Mas." ucapan Ferra membuat Harry terdiam begitu lama, sebelum akhirnya memilih untuk mengalah.

"Baiklah, suruh Evan untuk membawa gadis itu kemari, jika memang aku merasa dia cocok untuk Evan, maka aku tidak akan menghalanginya." Ferra tersenyum cerah, ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia ini. Ferra harap hubungan antara ayah dan anak ini perlahan akan membaik.

****

Evan begitu senang setelah mendapat telepon dari sang ibu. Ferra barusan menghubungi dan mengatakan bahwa Harry menyuruh Evan agar segera membawa Echa ke rumah untuk di kenalkan kepada mereka. Pemuda itu begitu senang, sampai-sampai ia langsung pergi untuk menemui Echa dan memberikan semua pekerjaan kepada Arul.

Pemuda itu berjalan menuju parkiran sambil terus mencoba menghubungi Echa. Namun herannya nomor Echa tidak aktif dan hanya ada suara operator di ujung sana. Evan tidak ambil pusing, ia segera masuk ke dalam mobil guna mencari Echa di kampus karena ini masih siang, jadi Evan yakin gadis itu pasti sedang berada di kampus sebelum bekerja nanti sore. Evan menyusuri jalan yang tampak ramai lancar sambil bersenandung pelan. Ia menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit untuk sampai di kampus. Setelah memarkirkan mobil, Evan segera bergegas untuk mencari keberadaan sang pujaan hati.

Dari kejauhan dapat Evan lihat Selly yang berjalan sendirian. Ia mengerutkan keningnya biasanya gadis itu selalu bersama Echa, namun entah kenapa ia tidak melihat keberadaan Echa sama sekali.

"Tunggu, apa kau tahu di mana Echa?" tanya Evan saat mereka berpapasan. Selly tampak terkejut melihat kehadiran Evan, namun segera menjawab pertanyaan pemuda itu.

"Ah Echa hari ini tidak masuk, apa Mas Evan tidak diberitahu? sepertinya Echa sedikit tidak enak badan, mungkin karena kecapekan kemarin dia lembur sampai malam." jelasnya membuat Evan mengangguk pelan.

"Baiklah terimakasih." ucapnya lalu segera berbalik pergi menuju rumah Echa. Namun baru beberapa langkah Evan kembali bertanya pada Selly.

"Apa kau hari ini ada menghubungi Echa?" tanya Evan yang segera mendapat anggukan dari Selly. Kemudian gadis itu menunjukkan layar ponselnya yang sedang bertukar pesan dengan Echa. Lantas Evan merogoh saku celananya untuk menghubungi Echa. Sama, nomornya tidak aktif dan hanya suara operator yang Evan dengar. Ini aneh, ada apa dengan Echa.

PRADHANATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang